Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Kemajuan: Program Unggulan Pemerataan Koperasi Desa Merah Putih Memutus Rantai Ketimpangan Perputaran Ekonomi Kota dan Desa

- Editor

Rabu, 1 Juli 2026 - 18:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sukarya Putra: Sekjen (PASPROBO)

Ketimpangan ekonomi antara kawasan perkotaan dan perdesaan di Indonesia telah lama menjadi tantangan struktural yang mendasar. Selama berdekade-dekade, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di wilayah urban, sementara wilayah pinggiran atau pedesaan kerap kali hanya menjadi penonton atau penyedia bahan baku murah. Dalam konteks ekonomi sirkular dan spasial, perputaran uang di pedesaan bergerak sangat lambat dan terbatas. Masyarakat desa menanam, memanen, dan memproduksi komoditas, namun nilai tambah terbesar dari produk-produk tersebut justru dinikmati oleh para aktor ekonomi di perkotaan. Keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan pasar langsung membuat likuiditas di tingkat desa terserap keluar, memicu fenomena pengeringan modal lokal (capital flight) yang memperparah kemiskinan struktural di pedesaan.

Secara naratif, hambatan akses ekonomi ini menciptakan siklus ketergantungan yang menjebak petani, nelayan, dan pengrajin lokal. Ketika musim tanam atau kebutuhan modal mendesak tiba, ketiadaan lembaga keuangan formal yang inklusif memaksa masyarakat desa berpaling kepada tengkulak atau pembiayaan informal berbiaya tinggi. Akibatnya, harga jual komoditas di tingkat hulu ditekan serendah mungkin, sementara harga barang konsumsi di pedesaan justru melambung tinggi karena rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien. Aliran dana dari kota yang seharusnya masuk sebagai pendapatan desa justru berbalik arah dengan cepat karena masyarakat desa harus membeli barang jadi dari kota. Ketimpangan ini terlihat kontras saat disandingkan dengan ekosistem ekonomi perkotaan, di mana infrastruktur digital, lembaga keuangan makro, dan efisiensi logistik memungkinkan terjadinya perputaran uang yang masif, cepat, dan berulang-ulang dalam satu ekosistem urban yang sama.

Kondisi superioritas infrastruktur urban inilah yang mempermudah masyarakat atau konglomerasi kota memonopoli jalannya perekonomian. Dengan modal yang besar dan penguasaan jalur distribusi dari hulu ke hilir, para pelaku ekonomi perkotaan memegang kendali penuh atas penentuan harga (price maker), sedangkan masyarakat desa hanya bertindak sebagai penerima harga (price taker). Monopoli ini diperparah oleh digitalisasi yang tidak merata; platform e-commerce dan tekfin (teknologi finansial) sering kali lebih banyak menyedot likuiditas dari daerah ke pusat daripada mendistribusikan pertumbuhan secara adil. Tanpa adanya instrumen proteksi dan konsolidasi di tingkat tapak, kekuatan pasar bebas akan selalu memenangkan pihak yang memiliki efisiensi modal tertinggi, yaitu perkotaan, dan membiarkan pedesaan tetap berada di pinggiran roda kemajuan.

Namun, arah kebijakan ekonomi nasional kini mengalami pergeseran paradigma yang fundamental di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Melalui program unggulan Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah melakukan intervensi struktural untuk memotong mata rantai monopoli dan ketimpangan tersebut. Alur pemulihan ekonomi ini dirancang secara sistematis: bermula dari pembentukan unit-unit Koperasi Desa Merah Putih di setiap lini administrasi terkecil, institusi ini berfungsi sebagai agregator produk lokal sekaligus penyedia kebutuhan pokok masyarakat desa secara kolektif. Ketika petani tidak lagi menjual hasil buminya secara perorangan kepada tengkulak melainkan melalui koperasi, posisi tawar (bargaining power) desa meningkat drastis. Koperasi mengkonsolidasikan volume produksi, melakukan standardisasi kualitas, dan langsung menghubungkannya ke pasar yang lebih luas atau industri skala besar.

Dengan terpotongnya rantai tengkulak, margin keuntungan yang awalnya mengalir ke kota kini tertahan dan terakumulasi di dalam kas koperasi desa. Dampak langsung dari konsolidasi modal ini adalah terciptanya ekosistem sirkulasi keuangan domestik yang hidup di perdesaan. Uang yang dihasilkan dari penjualan komoditas tidak lagi langsung lari ke kota, melainkan berputar di dalam desa untuk membiayai usaha mikro lainnya melalui unit simpan pinjam koperasi, mendanai warung-warung lokal, hingga membangun industri pengolahan skala rumah tangga. Aktivitas jual beli yang hidup di tingkat lokal ini memicu efek pengganda ekonomi (multiplier effect) yang signifikan; daya beli masyarakat desa meningkat, serapan tenaga kerja lokal naik, dan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah berkurang drastis. Ketika kebutuhan dasar dan perputaran modal terpenuhi di dalam ekosistem desa, maka pemerataan kesejahteraan bukan lagi sekadar narasi utopis, melainkan realitas yang terukur.

Bukti empiris menunjukkan bahwa ketika perekonomian di pinggiran desa ini dihidupkan secara ilmiah dan konsisten, wilayah rural mampu meraih prestasi yang luar biasa, baik di tingkat nasional maupun global. Sebagai contoh analitis, beberapa desa berbasis koperasi di wilayah komoditas unggulan seperti kopi di dataran tinggi Gayo atau sentra kakao di Sulawesi kini mampu melakukan ekspor langsung tanpa melalui perantara korporasi kota. Prestasi berupa peningkatan pendapatan per kapita desa secara drastis, penurunan angka kemiskinan ekstrem hingga menyentuh angka nol persen, serta kemampuan membiayai beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak petani setempat secara mandiri adalah bukti sahih bahwa pinggiran bukanlah beban, melainkan lumbung produktivitas yang belum terasah.

Koperasi Desa Merah Putih pada akhirnya bertransformasi menjadi indikator utama dalam menggeser status desa dari sekadar penyokong periferal menjadi “Pusat Kemajuan”. Tolok ukur ilmiah keberhasilan indikator ini dapat dilihat dari tiga aspek utama: pertama, penciptaan lapangan kerja sektor formal di pedesaan yang menekan arus urbanisasi; kedua, adopsi teknologi digital dan mekanisasi modern yang dikelola langsung oleh pemuda desa; dan ketiga, kemandirian finansial desa dalam mendanai infrastruktur lokal tanpa bergantung sepenuhnya pada dana transfer pusat. Melalui keberpihakan struktural yang digagas Presiden Prabowo, Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar program pemerataan, melainkan sebuah manifestasi ilmiah dari keadilan ekonomi yang memosisikan desa sebagai fondasi utama kemajuan bangsa di masa depan.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Menjaga Kepercayaan Masyarakat
Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka
Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Prestasi: Program Unggulan Pemerataan Sekolah Rakyat Memutus Rantai Ketimpangan Pendidikan Berkualitas antara Kota dan Desa
Ciri Khas Pesantren Cabul Telah Lama Dibongkar di Novel Metamorfosis Cinta
Ekspor SDA Satu Pintu: Membaca Kebijakan Prabowo melalui Teori Realitas Terintegrasi
Refleksi Harkitnas: Pendidikan Harus Melahirkan Pemimpin Berintegritas dan Berpihak kepada Rakyat
Stabilitas dan Ujian Legitimasi Pemerintahan Prabowo Subianto
Hardiknas 2026: Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan, Mengingat Peran Jamiat Kheir dalam Sejarah Bangsa

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:55 WIB

Presiden Prabowo Percepat Swasembada Energi dan Berantas Aktivitas Ilegal

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:01 WIB

Rusman Patawari: Silaturahmi Akbar KKMM Sultra Perkuat Persaudaraan & Lestarikan Budaya Muna

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:13 WIB

Puspoll Indonesia: Evaluasi MBG Menunjukkan Pemerintah Responsif terhadap Aspirasi Publik

Minggu, 19 Juli 2026 - 08:24 WIB

Gavriel Novanto Raih Penghargaan Komunikasi dan Informasi Publik Terbaik “Pemred Award”

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:37 WIB

Keteladanan Letkol Eko: Membangun Kebumen Lewat Kesederhanaan dan Jiwa Sosial

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:27 WIB

Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Bantu Memperkuat Infrastruktur Pendukung di Desa Wisata Kiarasari

Rabu, 15 Juli 2026 - 18:09 WIB

Taruna Ikrar: Integritas Fondasi Utama Transformasi BPOM dan Kepercayaan Publik

Senin, 13 Juli 2026 - 18:31 WIB

Taruna Ikrar : Peredaran Kosmetik Ilegal Meningkat di Ruang Digital, BPOM Temukan Nilai Ekonomi Rp260,7 Miliar

Berita Terbaru