Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka

- Editor

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka
Oleh : Hardini Puspasari, S.Sos., M.Si
(Ketua Umum Perempuan Rakyat Indonesia)

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 128/PUU-XXIV/2026 memberi harapan baru bagi perempuan Indonesia yang berkeinginan dan memiliki semangat pengabdian melalui jabatan publik yang dipilih secara demokratis.

Dalam Putusan tersebut, Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan partai politik peserta pemilu wajib memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30% pada daftar bakal calon legislativ di setiap Daerah Pemilihan (DaPil). Untuk memastikan keterwakilan ini menjadi lebih mengikat, KPU sebagai penyelenggara pemilu berwenang tidak mengikutsertakan partai politik jika syarat kuota minimal tidak dipenuhi. Putusan ini menegaskan bahwa ketentuan kuota perempuan bukan urusan administratif semata, tetapi kewajiban yang harus dipatuhi dan diikuti.

Putusan Nomor 128/2026 merevisi pemaknaan Pasal 245 dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Konsekuensinya, kuota 30% tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administrasi, melainkan sebagai prasyarat konstitusional yang menentukan sah atau tidaknya pencalonan partai politik. Dengan kata lain, MK telah mengubah keterwakilan perempuan dari sekadar simbol representasi menjadi instrumen hukum yang memaksa.

MK melihat kuota keterwakilan 30% sekedar syarat pemenuhan proses verifikasi, bukan keharusan yang terpenuhi ketika penetepan Daftar Calon Tetap (DCT) anggota legislatif. Akibatnya, peningkatan jumlah calon perempuan tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah perempuan terpilih.

Meski demikian, hambatan terbesar perempuan Indonesia dalam politik bukan semata soal regulasi, tetapi lemahnya kaderisasi internal partai politik. Seringkali partai baru mencari calon menjelang pendaftaran pemilu, sekedar memenuhi persyaratan administratif. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan proses pendidikan yang cukup. Jika ini terus berlangsung, kuota 30% hanya menghasilkan kandidat perempuan yang bertambah, sementara kualitas terabaikan.

Tantangan lain adalah budaya patriarki yang mengakar dalam politik kita. Politik kerap dipersepsikan sebagai ruang yang identik dengan permainan laki-laki, sehingga perempuan yang maju sebagai kandidat sering kali dinilai bukan karena kapasitas dan gagasan, tetapi lebih pada aspek personal seperti status perkawinan atau penampilan.

Kebijakan afirmatif 30% dimaksudkan untuk mengoreksi ketimpangan representasi di parlemen. Kehadiran perempuan di lembaga legislatif bukan sekadar memenuhi prinsip kesetaraan, namun memperkaya perspektif dalam proses penyusunan kebijakan publik. Pengalaman hidup dan kebutuhan perempuan sering kali berbeda dengan laki-laki, sehingga keseimbangn representasi diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif.

Lebih jauh, berbagai pengalaman di banyak negara menunjukkan, dengan meningkatnya keterwakilan perempuan dalam parlemen berkorelasi positif dengan semakin besarnya perhatian terhadap isu-isu seperti kesehatan, perlindungan anak, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan. Tentu saja, kehadiran perempuan tidak otomatis menjamin lahirnya kebijakan yang lebih baik. Namun, keberagaman perspektif di legislatif merupakan prasyarat penting bagi demokrasi yang berkualitas.

Karena itu, keberhasilan implementasi Putusan MK tidak boleh hanya diukur dari terpenuhinya angka 30% dalam DCT. Ukuran yang lebih substansial adalah sejauh mana perempuan memperoleh kesempatan yang setara untuk bertarung secara kompetitif, mendapatkan dukungan sumber daya politik yang memadai, serta memiliki ruang yang sama dalam proses pengambilan keputusan di internal partai. Dengan demikian, kuota perempuan benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas demokrasi.

Pada akhirnya, Putusan MK Nomor 128/2026 merupakan langkah progresif. Sejauhmana tingkat keberhasilannya, sangat ditentukan oleh kemauan dan komitmen partai politik melakukan penguatan kapasitas perempuan melalui pendidikan politik dan kaderisasi berjenjang. Tanpa perubahan tersebut, putusan MK hanya meningkatkan jumlah perempuan di kertas suara, namun belum tentu menghadirkan perubahan kualitatif dari kebijakan publik yang dihasilkan para legislator perempuan.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Perubahan Diri dalam Lensa IRT
Membongkar Rahasia Kebaikan Finansial Syariah: 5 Pilar Akad Tabarru’at
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Dari Banyak Program Menuju Kemampuan Mengonversi Realitas
Melawan “Pabrik Kecanduan” di Saku Anak Kita
Agenda Reforma Agraria di Tengah Badai Korupsi
Jenderal Suyudi dan Jalan Memulihkan Kepercayaan Polisi
Pancasila, Reformasi, dan IRT: Mencari Kerangka untuk Mengisi Kemerdekaan
BIAS CELIOS DAN KINERJA BAHLIL: Anatomi Metodologis Sebuah Kesimpulan yang Dikemas Sebagai Sains

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:34 WIB

PT AMBPI Perkuat Kedekatan dengan Pelanggan melalui AMazing Build Fest #2 di MARGOCITY

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Tim Marawis Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Depok Tampil dan Hadiri Kegiatan Maulid Nabi di Majelis Ta’lim Al Muhajirin Depok

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:25 WIB

SMK Terpadu Al-Ikhwan Tasikmalaya Gelar Workshop Daya Juang dan Spirit Ruh Mudarris Bersama Konsultan Sekolah Alumni Gontor

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:21 WIB

SMP Mumtaza Islamic School Gelar Fieldtrip 2026 Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:15 WIB

SMP Islam Al-Alaq Hadirkan Konsultan PRIMAGEN Tes Minat Bakat Di Character Building Camp 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Merawat Harapan dan Senyum Anak-Anak Manggarai di Tengah Masa Pemulihan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Terpadu Al Ikhwan Tasikmalaya Gandeng PRIMAGO Consulting dalam Pengembangan Sekolah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:44 WIB

Mustika Ratu Perkuat Transformasi Bisnis, Dua Direksi Raih Penghargaan  CEO dan CFO Award 2026

Berita Terbaru

Opini

Perubahan Diri dalam Lensa IRT

Selasa, 27 Okt 2026 - 16:18 WIB