Koalisi Permanen, Stabilitas Politik, dan Tantangan Pertumbuhan 8 Persen

- Editor

Senin, 19 Januari 2026 - 05:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Shoim Haris
(Peserta Program Doktor Ilmu Ekonomi, UNTAG Surabaya)

Target Besar di Tengah Realitas Struktural

Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada persimpangan penting antara ambisi besar dan realitas struktural yang belum sepenuhnya berubah. Pemerintah secara konsisten menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun sebagai landasan menuju visi Indonesia Emas 2045. Target ini bukan sekadar slogan politik, melainkan prasyarat matematis untuk mendorong lonjakan pendapatan per kapita dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

Namun data mutakhir menunjukkan jarak yang masih lebar. Berdasarkan rilis BPS Triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,04 persen (year-on-year). Dengan memperhitungkan proyeksi Triwulan IV dari Bank Indonesia, pertumbuhan sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,1–5,3 persen. Angka ini stabil, tetapi masih sekitar 2,5–3 poin persentase di bawah target 8 persen.

Berbagai studi Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil keluar dari middle-income trap umumnya mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi—sekitar 6–8 persen—selama belasan hingga dua dekade. Dengan laju pertumbuhan sekitar 5 persen, Indonesia berisiko mencapai status negara berpendapatan tinggi jauh setelah 2045. Di sinilah urgensi target 8 persen memperoleh justifikasi ekonomi, bukan sekadar retorika.

Perbandingan regional memperjelas tantangan. Vietnam, meski PDB-nya jauh lebih kecil, mampu kembali mencatat pertumbuhan 8 persen tahun 2025, didukung kebijakan industrial yang konsisten. Filipina juga bergerak di rentang 6 persen dengan basis manufaktur dan jasa yang semakin kuat. Indonesia, dengan skala ekonomi yang jauh lebih besar, justru bergerak lebih lambat dalam transformasi struktural.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan
Menjaga Kepercayaan Masyarakat
Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka
Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Kemajuan: Program Unggulan Pemerataan Koperasi Desa Merah Putih Memutus Rantai Ketimpangan Perputaran Ekonomi Kota dan Desa
Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Prestasi: Program Unggulan Pemerataan Sekolah Rakyat Memutus Rantai Ketimpangan Pendidikan Berkualitas antara Kota dan Desa
Ciri Khas Pesantren Cabul Telah Lama Dibongkar di Novel Metamorfosis Cinta
Ekspor SDA Satu Pintu: Membaca Kebijakan Prabowo melalui Teori Realitas Terintegrasi
Refleksi Harkitnas: Pendidikan Harus Melahirkan Pemimpin Berintegritas dan Berpihak kepada Rakyat

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:20 WIB

Urgensi Analisa Genetik dalam Pendidikan: Mengapa Sekolah, Pesantren, dan Perguruan Tinggi Perlu Menggunakan PRIMAGEN.id

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:40 WIB

Milad ke-10 Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago, Pimpinan Pesantren Ingatkan Spirit Tebar Manfaat Tanpa Batas

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:08 WIB

Reklamasi Pertambangan Tidak Boleh Berhenti pada Formalitas, Saatnya Menjadikan Kepastian Hukum sebagai Fondasi Pemulihan Ekologis

Senin, 27 Juli 2026 - 18:51 WIB

GUNTUR Sultra Dukung Kebijakan Presiden Prabowo Perkuat Peran Koperasi dan UMKM Kelola Sektor Strategis

Senin, 27 Juli 2026 - 13:32 WIB

Kawal Tata Kelola dan Keberlanjutan Korporasi, Presiden Komisaris PT Mustika Ratu Tbk Perkuat Langkah Menuju Pasar Global

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:48 WIB

Pengajian Al-Hikam Jadi Ruang Refleksi Pembangunan, Rohmat Rospari: Mari Menilai Secara Utuh

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:18 WIB

Di Pengajian Al-Hikam, Wali Kota Depok Supian Suri Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:57 WIB

BNN Kota Depok Libatkan MUI dalam Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2026, Rohmat Rospari: Pencegahan Dimulai dari Keluarga

Berita Terbaru