Koalisi Permanen, Stabilitas Politik, dan Tantangan Pertumbuhan 8 Persen

- Editor

Senin, 19 Januari 2026 - 05:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akar Masalah: Efisiensi Investasi dan Produktivitas

Mengapa pertumbuhan Indonesia sulit menembus 6 persen secara berkelanjutan? Dua variabel struktural menjadi penentu utama.

Pertama, efisiensi investasi, yang tercermin dalam Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa ICOR Indonesia pada 2024 berada di kisaran 6,2–6,3—sedikit membaik dibanding tahun sebelumnya, tetapi masih tinggi secara historis. Selama satu dekade terakhir, ICOR Indonesia cenderung bertahan di rentang 6,0–6,5.

Sebagai perbandingan, berbagai estimasi regional menunjukkan ICOR negara-negara Asia berkembang lain berada di kisaran 4–5. Artinya, Indonesia membutuhkan investasi yang jauh lebih besar untuk menghasilkan tambahan output yang sama. Dengan ICOR setinggi ini, setiap tambahan investasi besar hanya menghasilkan peningkatan output yang relatif terbatas—sebuah inefisiensi yang menjadi beban serius bagi fiskal dan dunia usaha.

Kedua, produktivitas jangka panjang, yang tercermin dalam Total Factor Productivity (TFP). Analisis Bank Indonesia dan Bappenas menunjukkan bahwa kontribusi TFP terhadap pertumbuhan Indonesia pada periode 2020–2024 rata-rata hanya sekitar 1 persen per tahun, bahkan lebih rendah dibandingkan dekade sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada akumulasi modal dan tenaga kerja, bukan pada peningkatan efisiensi dan inovasi.

Simulasi perencanaan pembangunan menunjukkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan mendekati 8 persen, kontribusi TFP perlu meningkat secara signifikan—mendekati tiga kali lipat dari level saat ini. Ini bukan tugas ringan dan tidak mungkin dicapai tanpa perubahan mendasar dalam tata kelola kebijakan dan institusi.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Luka, Kekuasaan, dan Warisan Khamenei Dalam Membaca Dunia Hari Ini
Dari Polemik ke Pemahaman: Zakat dan Lumbung Ekonomi Umat
Menggugat “Reciprocity”: Menjaga Nafas UMKM di Tengah Hegemoni Perjanjian Dagang AS-RI 2026
Puasa, Tirakat, dan Disiplin Elite: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Maju
Smelter Menyala, Rakyat Terabaikan
Refleksi Nishfu Sya’ban, dari Ramainya Malam Menuju Ramainya Ketaatan Harian
Pemimpin Daerah adalah Penjaga Harapan Rakyat
Baterai Karawang: Fondasi Kedaulatan Energi Nasional

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 19:30 WIB

Pelayanan Samsat Jakarta Timur Makin Prima, Warga Apresiasi Kemudahan dan Kecepatan

Jumat, 24 April 2026 - 19:38 WIB

Santri Mengabdi: Istilah “Mubah” Lebih Tepat untuk Domino daripada “Halal”

Jumat, 24 April 2026 - 17:11 WIB

Penertiban Parkir Liar Lebak Bulus Diperkuat, Wagub Rano Karno Turun Tangan

Rabu, 22 April 2026 - 21:01 WIB

Tragedi Berdarah di Puncak, Alus UK Murib Apresiasi Langkah Bupati dan Ketua DPRK Puncak ke Kementerian HAM

Rabu, 22 April 2026 - 20:53 WIB

Puspoll Indonesia: Ambang Batas Parlemen Harus Jaga Stabilitas Tanpa Mengorbankan Suara Rakyat

Rabu, 22 April 2026 - 20:48 WIB

Di hadapan Akademika NUS, Taruna Ikrar Sampaikan BPOM Naik Kelas WLA

Rabu, 22 April 2026 - 19:34 WIB

Kolaborasi Internasional Kembangkan Silvofishery di Brebes, Perkuat Ekonomi Biru Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 17:26 WIB

IKAHI Gelar Seminar Nasional HUT ke-73, Bahas Implementasi Pidana Non-Penjara

Berita Terbaru