Koalisi Permanen, Stabilitas Politik, dan Tantangan Pertumbuhan 8 Persen

- Editor

Senin, 19 Januari 2026 - 05:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rasionalitas Ekonomi di Balik Gagasan Politik

Dalam konteks inilah gagasan koalisi permanen kembali mengemuka. Secara ekonomi politik, koalisi yang stabil berpotensi menciptakan konsistensi kebijakan lintas siklus politik, sesuatu yang krusial bagi investasi jangka panjang dan reformasi struktural.

Gagasan koalisi permanen yang dilontarkan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dapat dibaca bukan semata sebagai manuver politik elektoral, melainkan sebagai upaya membangun stabilitas politik jangka menengah–panjang yang selama ini menjadi prasyarat utama pembangunan ekonomi. Dalam pengalaman historisnya, Golkar—tanpa perlu dilebih-lebihkan—memiliki rekam jejak sebagai kekuatan politik yang memahami bahwa kepastian arah kebijakan dan stabilitas pemerintahan merupakan fondasi bagi investasi, industrialisasi, dan perencanaan pembangunan.

Dari perspektif ekonomi pembangunan, stabilitas politik berkontribusi langsung pada perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) melalui penurunan policy uncertainty dan biaya transaksi, sehingga setiap unit investasi menghasilkan output yang lebih efisien. Pada saat yang sama, stabilitas institusional membuka ruang bagi peningkatan Total Factor Productivity (TFP)—melalui konsistensi reformasi struktural, adopsi teknologi, dan penguatan kualitas tata kelola. Dengan demikian, wacana koalisi permanen relevan dibaca dalam kerangka teknokratis: bukan sebagai klaim hegemonik partai, melainkan sebagai instrumen politik untuk menurunkan friksi kelembagaan yang selama ini menjadi penghambat Indonesia mencapai pertumbuhan tinggi dan berkelanjutan, termasuk target ambisius pertumbuhan ekonomi mendekati 8 persen.

Simulasi perencanaan yang dilakukan lembaga perencanaan nasional juga menunjukkan perbedaan tajam antara skenario business as usual dan skenario dengan peningkatan stabilitas kebijakan. Tanpa perbaikan stabilitas, pertumbuhan cenderung bertahan di kisaran 5–5,5 persen. Dengan stabilitas kebijakan yang lebih kuat dan reformasi yang konsisten, pertumbuhan berpotensi meningkat secara bertahap menuju 6,5–7 persen, dan mendekati 8 persen dalam jangka menengah.

Pengalaman internasional memberikan pelajaran penting. Jerman, India, dan beberapa negara Asia Timur menunjukkan bahwa stabilitas koalisi dapat mempercepat eksekusi kebijakan strategis. Namun pengalaman yang sama juga mengingatkan bahwa stabilitas tanpa akuntabilitas berisiko melahirkan inefisiensi dan policy capture.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Luka, Kekuasaan, dan Warisan Khamenei Dalam Membaca Dunia Hari Ini
Dari Polemik ke Pemahaman: Zakat dan Lumbung Ekonomi Umat
Menggugat “Reciprocity”: Menjaga Nafas UMKM di Tengah Hegemoni Perjanjian Dagang AS-RI 2026
Puasa, Tirakat, dan Disiplin Elite: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Maju
Smelter Menyala, Rakyat Terabaikan
Refleksi Nishfu Sya’ban, dari Ramainya Malam Menuju Ramainya Ketaatan Harian
Pemimpin Daerah adalah Penjaga Harapan Rakyat
Baterai Karawang: Fondasi Kedaulatan Energi Nasional

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 19:30 WIB

Pelayanan Samsat Jakarta Timur Makin Prima, Warga Apresiasi Kemudahan dan Kecepatan

Jumat, 24 April 2026 - 19:38 WIB

Santri Mengabdi: Istilah “Mubah” Lebih Tepat untuk Domino daripada “Halal”

Jumat, 24 April 2026 - 17:11 WIB

Penertiban Parkir Liar Lebak Bulus Diperkuat, Wagub Rano Karno Turun Tangan

Rabu, 22 April 2026 - 21:01 WIB

Tragedi Berdarah di Puncak, Alus UK Murib Apresiasi Langkah Bupati dan Ketua DPRK Puncak ke Kementerian HAM

Rabu, 22 April 2026 - 20:53 WIB

Puspoll Indonesia: Ambang Batas Parlemen Harus Jaga Stabilitas Tanpa Mengorbankan Suara Rakyat

Rabu, 22 April 2026 - 20:48 WIB

Di hadapan Akademika NUS, Taruna Ikrar Sampaikan BPOM Naik Kelas WLA

Rabu, 22 April 2026 - 19:34 WIB

Kolaborasi Internasional Kembangkan Silvofishery di Brebes, Perkuat Ekonomi Biru Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 17:26 WIB

IKAHI Gelar Seminar Nasional HUT ke-73, Bahas Implementasi Pidana Non-Penjara

Berita Terbaru