PESAN ISRA’ MI’RAJ TENTANG AGAMA SEBAGAI INSPIRASI

- Editor

Senin, 28 Februari 2022 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PESAN ISRA’ MI’RAJ TENTANG AGAMA SEBAGAI INSPIRASI

(Apresiasi Untuk Gagasan Gusmen)

 

Oleh: Syahrin Harahap

(Rektor UINSU Medan)

 

Secara formal peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW dapat dipahami sebagai momentum saat Rasulullah menerima kewajiban shalat. Akan tetapi dari perspektif agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi, maka peristiwa ini memiliki makna yang teramat dalam. Bahkan dapat disebut sebagai strategi “penatalaksanaan ajaran Islam”.

Para pengkaji sejarah Rasulullah selalu asyik mengkaji aspek formal dari kewajiban shalat. Sementara ahli sains dan kosmologi membahas peristiwa itu sebagai peristiwa sains dan fisika.

Saat Menteri Agama RI Gus Yaqut Cholil Qoumas ( Gusmen) mempopulerkan “Agama sebagai inspirasi bukan aspirasi” pikiran saya terus menerawang, betapa peristiwa ini dapat didekati sebagai momentum internalisasi bahwa agama sebenarnya adalah inspirasi, bukan aspirasi.

 

Pesan Inspiratif

Jika peristiwa Isra’ ’ dan Mi’raj dibedah dengan pisau analisis irfâni, ke’arifan, atau ‘hikmati’ maka segera akan diketahui bahwa peristiwa universal ini sarat dengan pesan-pesan ke’arifan.

Rasulullah diperjalankan saat beliau mengalami ‘’am al-huzni, tahun duka cita. Duka cita sering menimbulkan barier untuk memperoleh insiprasi akibat gempuran rasa sedih dan kegundahan. Jika saja dilihat dalam perspektif alamiah- horizontal, maka kita akan banyak bercerita tentang kesedihan Rasul junjungan. Akan tetapi Islam segera mengubah kesan duka yang mencekam menjadi perjalanan ke ufuk, hingga Rasul dibawa ke ‘Arasy’ puncak ke’arifan karena disitulah ditemukan tahta ke’arifan ( Darul Hikmah).

Sebelum berangkat beliau dibawa ke zam-zam untuk disteril dari pandangan-pandangan primordialisme radikal karena dia harus mengayomi semuanya. Hatinya harus diisi dengan kelembutan ( hilman), ilmu ( ‘ilman), dan keyakinan ( yaqinan) tiga energi yang dapat menyembulkan inspirasi membangun peradaban.

Saat berada di ufuk, Rasulullah disadarkan bahwa beliau harus menggunakan visi universal dalam melihat kehidupan, sejalan dengan pesan universal. Rahmatan lil’alamin.

 

Alamul amsal dan Pluralitas

Selama perjalanan Nabi junjungan diinternalisasi keragaman, pluralitas, dan segala macam bentuk sikap dan problema kehidupan manusia. Di alam ini nabi diperlihatkan berbagai sikap dan tindakan manusia, yang terkadang disukai dan sering dibenci dan mengganggu kemapanan.

Akan tetapi Nabi diminta untuk tetap fokus, jangan egois: Langit saja tidak pernah sombong walau tinggi. Laut saja tidak pernah arogan walau dalam. Tapi fokus pada upaya membangun kesemestaan karena dia diberi amanah memperjuangkan misi Tuhan. Disinilah diperlihatkan wasathiyatul Islam, Islam sebagai pengayom, pembimbing dan penyelamat. Nabi sangat paham dengan misi yang tengah diembannya.

 

Agama Inspiratif Gusmen

Berangkat dari pengalaman Rasul junjungan selama Isra’ Mi’raj, lalu kita harus belajar menegakkan Islam inspiratif. Nampaknya itulah yang didendangkan Bapak Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, bahwa agama, dan dengan demikian Islam, adalah pesan inspirasi, bukan aspirasi.

Pesan- pesan pengalaman saat diperjalankan terkanalisasi dalam ide besar “Agama harus sebagai inspirasi dan menginspirasi”. Sebab inspirasilah yang dapat diharapkan merubah keadaan. Sementara aspirasi sering menumbuhkan primordialisme radikal, sesuatu yang sering menjadi ancaman bagi kebersamaan.

Jika negeri ini merupakan kesepakatan (misaq), maka pesan Isra’ Mi’raj menjadi energi bagi umat Islam untuk menegakkan Islam sebagai inspirasi. Hanya dengan demikian Islam menjadi perekat, energi kebersamaan dan tuntunan keselamatan. Wa Allahu A’lamu bi al- Shawab.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Stabilitas dan Ujian Legitimasi Pemerintahan Prabowo Subianto
Hardiknas 2026: Menghidupkan Kembali Ruh Pendidikan, Mengingat Peran Jamiat Kheir dalam Sejarah Bangsa
Realitas yang Bernapas: Sebuah Pengantar untuk Memahami Teori Realitas Terintegrasi
Luka, Kekuasaan, dan Warisan Khamenei Dalam Membaca Dunia Hari Ini
Dari Polemik ke Pemahaman: Zakat dan Lumbung Ekonomi Umat
Menggugat “Reciprocity”: Menjaga Nafas UMKM di Tengah Hegemoni Perjanjian Dagang AS-RI 2026
Puasa, Tirakat, dan Disiplin Elite: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Maju
Smelter Menyala, Rakyat Terabaikan

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 19:36 WIB

Di Serbu Warga, Bazar Baju Gratis RT 2 Panggulan Memeriahkan HUT Kota Depok ke 27 tahun 2026

Senin, 18 Mei 2026 - 11:57 WIB

SMP Budhi Warman Goes To Yogyakarta Tahun 2026 bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Senin, 18 Mei 2026 - 08:10 WIB

GASS D1, Salah Satu Relawan Pendukung Wali Kota Depok Terpilih Supian Suri Gelar Family Gathering dan Tasyakuran Berdirinya Yayasan Baru

Senin, 18 Mei 2026 - 06:33 WIB

Launching FEBI dan Prodi MBS IAI Jamiat Kheir Jakarta Berlangsung Meriah, Bukti Kontribusi Nyata untuk Pendidikan dan Masyarakat

Minggu, 17 Mei 2026 - 22:12 WIB

CV Dirgantara Sejahtera Bersama Menjadi Sponsorship Kegiatan Sosial “Bekam Gratis & Bazar Baju Gratis 2026” Untuk Warga Panggulan Pengasinan Sawangan Depok

Minggu, 17 Mei 2026 - 21:53 WIB

Pos Ronda RT 02 RW 05 Panggulan Pengasinan Sawangan Kompak Gelar Syukuran 1 Tahun Atas Terlaksananya Kegiatan Ronda Malam

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:36 WIB

SMP Sumbangsih Pasar Minggu Jakarta Selatan Gelar Karya Wisata City Tour Jakarta Tahun 2026 bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Sabtu, 16 Mei 2026 - 22:10 WIB

Kajian Sabtu Pagi (KSP) Pesantren Leadership Primago Tentang Kekuatan Niat: Mengubah Rutinitas Pondok Menjadi Ibadah Menuju Pribadi Yang Produktif Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Berita Terbaru