Energi, Informasi, dan Entropi: Mengapa Sistem Bisa Gagal Meski Sumber Dayanya Cukup

- Editor

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

M. Shoim Haris

M. Shoim Haris

Oleh: M. Shoim Haris*

Kita hidup dalam dunia yang semakin kompleks, tetapi cara kita memahami dunia sering kali masih terfragmentasi. Ekonomi berbicara tentang sumber daya dan insentif. Manajemen berbicara tentang organisasi dan kinerja. Teknologi berbicara tentang data dan informasi. Fisika berbicara tentang energi dan entropi. Psikologi berbicara tentang kesadaran. Ilmu sosial berbicara tentang institusi, relasi, dan kekuasaan. Masing-masing memiliki kebenaran pada wilayahnya.

Persoalannya muncul ketika realitas yang sebenarnya saling terhubung dipaksa untuk dipahami melalui kotak-kotak disiplin yang terpisah. Di sinilah gagasan Integrated Reality Theory (IRT) menjadi menarik.

IRT tidak berangkat dari klaim bahwa ilmu pengetahuan sebelumnya salah. Sebaliknya, IRT berangkat dari pengakuan bahwa berbagai tradisi ilmiah telah menemukan bagian-bagian penting dari realitas, tetapi bagian-bagian tersebut membutuhkan suatu cara untuk dibaca secara lebih terintegrasi.

Realitas Bukan Kumpulan Potongan

Bayangkan sebuah organisasi mengalami penurunan kinerja. Kita bisa mengatakan masalahnya adalah kekurangan anggaran. Kita bisa mengatakan sumber daya manusianya kurang. Kita bisa mengatakan teknologinya tertinggal. Kita bisa mengatakan informasinya buruk. Kita juga bisa mengatakan kepemimpinannya bermasalah.

Semua jawaban tersebut mungkin benar. Tetapi belum tentu merupakan penjelasan yang lengkap. Sebab bisa saja organisasi sebenarnya memiliki uang, manusia, teknologi, dan data yang cukup. Masalahnya adalah semua unsur tersebut tidak bekerja sebagai sebuah sistem.

Informasi tidak mengalir. Antardivisi membangun silo.Keputusan terlambat. Konflik kepentingan meningkat.Tujuan organisasi tidak lagi dipahami secara bersama.

Akhirnya, organisasi memiliki banyak sumber daya tetapi sedikit kapasitas transformasi. Ini menunjukkan sesuatu yang fundamental:

Kinerja suatu sistem tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi juga oleh bagaimana unsur-unsur yang dimilikinya berhubungan.

Dari “Apa yang Kurang?” Menjadi “Apa yang Terjadi pada Sistem?

Cara berpikir konvensional sering dimulai dengan pertanyaan: Apa yang kurang? Kurang modal? Kurang SDM? Kurang teknologi? Kurang investasi?

IRT mengusulkan pertanyaan yang berbeda:

Bagaimana konfigurasi sistem menyebabkan sumber daya yang tersedia tidak menghasilkan outcome yang diharapkan?

Perubahan pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Sebab ketika kita bertanya “apa yang kurang?”, solusi hampir selalu berupa penambahan; tambahkan anggaran, tambahkan pegawai, tambahkan teknologi, tambahkan program, tambahkan regulasi.

Tetapi ketika pertanyaannya berubah menjadi “apa yang terjadi pada sistem?”, kita mulai mencari mekanisme. Apakah informasi terfragmentasi? Apakah koordinasi mengalami friksi? Apakah terdapat konflik yang terus-menerus?Apakah organisasi kehilangan orientasi?Apakah sistem tidak mampu belajar?

Di sinilah IRT mencoba menawarkan bahasa yang berbeda.

Lima Dimensi Realitas

IRT mengembangkan lima konstruk utama:

E — Energy
Menggambarkan kapasitas atau sumber daya yang memungkinkan tindakan.

I — Information
Menggambarkan kemampuan memperoleh, mengolah, mengintegrasikan, dan menggunakan informasi.

S — Entropy
Menggambarkan fragmentasi, friksi, disorganisasi, dan kehilangan koherensi sistem.

C — Consciousness
Menggambarkan kemampuan reflektif untuk memahami kondisi, membangun makna, menentukan orientasi, dan mengarahkan tindakan.

v — Evolution
Menggambarkan perubahan konfigurasi sistem sepanjang waktu.

Namun di sini ada hal penting. Kelima unsur tersebut tidak harus diperlakukan sebagai lima variabel yang identik. E, I, S, dan C dapat digunakan untuk membaca suatu konfigurasi sistem. Sedangkan v menunjukkan bagaimana konfigurasi tersebut berubah.

Secara sederhana:

(E, I, S, C)ₜ → (E, I, S, C)ₜ₊₁

Perubahan itulah yang menjadi dimensi evolusi.

Entropi: Masalah yang Sering Tidak Terlihat

Menurut saya, salah satu gagasan paling menarik dalam IRT adalah systemic entropy. Istilah ini harus digunakan hati-hati. Systemic entropy dalam IRT bukan berarti entropi dalam fisika diterapkan secara literal kepada organisasi atau masyarakat.

Ia merupakan konstruk teoritis untuk membaca kondisi ketika suatu sistem semakin kehilangan koherensi.

Misalnya, prosedur semakin banyak; keputusan semakin lambat; informasi semakin terfragmentasi; konflik semakin tinggi; pekerjaan semakin tumpang tindih; setiap unit bekerja untuk dirinya sendiri; biaya koordinasi meningkat.

Organisasi masih bergerak. Tetapi semakin banyak energi yang dihabiskan hanya untuk mengatasi friksi internal. Inilah paradoks penting dalam kehidupan organisasi dan bahkan dalam kehidupan sosial:

Sistem dapat terlihat semakin sibuk pada saat sebenarnya semakin kehilangan kapasitas transformasinya.

– Banyak aktivitas tidak selalu berarti banyak kemajuan.

– Banyak rapat tidak selalu berarti banyak koordinasi.

– Banyak data tidak selalu berarti banyak pengetahuan.

– Banyak anggaran tidak selalu berarti banyak perubahan.

Energi yang Besar Tidak Cukup

IRT kemudian menawarkan suatu intuisi yang sederhana:

Φ = ((E × I) / S) × C

Saya sengaja menyebutnya intuisi, bukan hukum. Formula tersebut belum merupakan persamaan ilmiah yang tervalidasi. Ia merupakan formulasi heuristik untuk menggambarkan satu gagasan:

Energi dan informasi dapat meningkatkan kapasitas transformasi, tetapi efektivitasnya dapat terhambat oleh entropi sistemik dan dipengaruhi oleh kapasitas kesadaran/refleksivitas.

Bayangkan dua organisasi mempunyai anggaran yang sama. Organisasi pertama memiliki koordinasi yang baik, informasi terintegrasi, visi yang jelas, dan konflik internal yang rendah. Organisasi kedua memiliki silo, konflik, informasi yang terpecah, prosedur berlapis, dan tujuan yang tidak sinkron.

Apakah tambahan anggaran akan menghasilkan dampak yang sama? Jawabnya, belum tentu. Karena resources masuk ke sistem yang berbeda.

Di sinilah pentingnya memahami realitas secara terintegrasi.

IRT Bukan Teori yang Lahir dari Ruang Kosong

Salah satu hal yang harus ditegaskan adalah bahwa IRT tidak menemukan konsep-konsep tersebut dari nol.

· Critical realism memberikan perhatian pada kedalaman realitas dan mekanisme yang tidak selalu tampak.
· Process philosophy mengingatkan bahwa realitas adalah becoming.
· Relational ontology mengingatkan bahwa relasi merupakan bagian penting dari realitas.
· General Systems Theory menunjukkan pentingnya interdependensi.
· Complexity science menjelaskan emergence, feedback, dan nonlinearity.
· Thermodynamics memberikan sejarah konseptual tentang entropi.
· Information theory memberikan dasar formal mengenai informasi dan ketidakpastian.

IRT berdialog dengan semuanya.

Karena itu, klaim kebaruan IRT tidak seharusnya berbunyi:

IRT menemukan energi, informasi, entropi, kesadaran, dan evolusi.”

Itu jelas tidak benar. Klaim yang lebih masuk akal adalah:

IRT mencoba membangun arsitektur teoritis baru dengan mengintegrasikan dimensi-dimensi tersebut dalam perspektif prosesual dan relasional.

Dengan kata lain, kebaruannya bukan terutama pada bahan, tetapi pada arsitektur.

Dari Teori Menuju Cara Berpikir

Pada akhirnya, menurut saya, nilai terbesar IRT mungkin bukan terletak pada formula Φ. Bukan pula pada singkatan E-I-S-C-v itu sendiri. Nilai terbesarnya justru terletak pada perubahan cara bertanya.

– Ketika ekonomi mengalami krisis, kita tidak hanya bertanya berapa modal yang tersedia.

– Ketika organisasi gagal, kita tidak hanya bertanya siapa yang salah.

– Ketika pembangunan mandek, kita tidak hanya bertanya berapa besar investasi yang masuk.

– Ketika teknologi berkembang, kita tidak hanya bertanya seberapa canggih teknologinya.

Kita perlu bertanya:

Bagaimana energi, informasi, relasi, entropi, kesadaran, dan proses perubahan berinteraksi dalam membentuk keadaan suatu sistem?

Pertanyaan tersebut membawa kita dari cara berpikir linear menuju cara berpikir sistemik.

Dari gejala menuju mekanisme. Dari bagian menuju relasi. Dari keadaan menuju proses. Dan dari solusi sektoral menuju transformasi sistemik.

IRT Bukan Teori yang Sudah Selesai

Justru karena itu, IRT tidak boleh diperlakukan sebagai teori yang sudah final. Ada pekerjaan besar yang masih harus dilakukan.

· Systemic entropy harus didefinisikan dan diukur.
· Consciousness harus dibatasi secara konseptual agar tidak menjadi istilah yang terlalu luas.
· Hubungan E-I-S-C harus diuji.
· Peran v harus dibuktikan melalui studi longitudinal.
· Formula Φ harus diuji, dan bahkan mungkin harus ditinggalkan atau diubah apabila bukti empiris menunjukkan bentuk hubungan yang berbeda.

Itulah ciri teori yang sehat. Teori bukan sesuatu yang harus selalu dibenarkan. Teori harus memberi kesempatan kepada kenyataan untuk membantahnya. Karena itu, masa depan IRT bukan sekadar memperbanyak tulisan yang menggunakan istilah IRT. Masa depannya justru bergantung pada kemampuan IRT untuk:

Konsep → Pengukuran → Bukti → Revisi

Jika proses tersebut berhasil, IRT dapat berkembang dari sebuah sintesis konseptual menjadi teori yang memiliki daya jelaskan empiris. Jika tidak, IRT harus bersedia dikoreksi.

Penutup: Belajar Melihat Keseluruhan

Mungkin tantangan terbesar ilmu pengetahuan masa kini bukan kekurangan pengetahuan. Kita justru memiliki terlalu banyak pengetahuan yang sangat spesifik. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan pengetahuan tersebut tanpa menghilangkan ketelitian masing-masing disiplin.

Di situlah IRT menemukan ruang intelektualnya. IRT mengajak kita melihat bahwa realitas tidak berjalan dalam kotak-kotak akademik. Energi berhubungan dengan informasi. Informasi berhubungan dengan koordinasi. Koordinasi berhubungan dengan entropi. Kesadaran memengaruhi arah tindakan. Dan seluruh konfigurasi tersebut berubah sepanjang waktu.

Maka mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi “Apa satu penyebab masalah ini?” Melainkan, “Konfigurasi realitas seperti apa yang membuat masalah ini muncul, bertahan, dan berubah?”

Jika IRT mampu membantu kita menjawab pertanyaan tersebut secara konseptual dan kemudian membuktikannya secara empiris, maka ia tidak hanya menjadi teori tentang realitas. Ia dapat menjadi cara baru untuk membaca keterhubungan realitas. Dan pada titik itulah sebuah teori benar-benar mulai memiliki arti.

*Penulis adalah penggagas Teori Realitas Terintegrasi (IRT), peneliti ADCENT (di bidang kebijakan publik dan ekonomi pembangunan), serta penulis beberapa novel dan karya nonfiksi tentang transformasi sosial-ekonomi.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Meluruskan Narasi 8 Tuntutan Aksi Mahasiswa: Komitmen Penuh Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas yang Berkeadilan dan Merakyat
Meneladani Rasulullah dalam Melayani Depok: Dari Iman, Islam, hingga Ihsan
Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat
Wujudkan Pembangunan Adil: Prabowo Buka Jalur Raksasa Sumatra-Kalimantan
Berbagai Capaian Keberhasilan Pemerintah Sebagai Kado Rakyat di HUT RI Ke 81
Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan
Menjaga Kepercayaan Masyarakat
Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:40 WIB

2 Praktisi Talent Mapping Minat Bakat di Indonesia

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Lebih dari 180 Siswa/i SMPIT Insan Kamil Cikarang Kabupaten Bekasi Ikuti Talent Mapping Dengan Primagen

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:33 WIB

Inspirasi Tanpa Batas: 3 Motivator Alumni Gontor Populer di Indonesia!

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:47 WIB

Dari Sapaan hingga Solusi, Rohmat Rospari Bicara tentang Wajah ASN yang Melayani

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:33 WIB

Meneladani Rasulullah dalam Melayani Depok: Dari Iman, Islam, hingga Ihsan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:48 WIB

Studio Foto Yang Nyaman di Sawangan Depok | Dirgantara Digital Studio

Jumat, 14 Agustus 2026 - 21:15 WIB

4 Rekomendasi Vendor Jasa Foto Wisuda Terbaik di Depok Jawa Barat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:48 WIB

5 Rekomendasi Studio Foto Terbaik Untuk Wisuda di Depok

Berita Terbaru