AI dan Precision Medicine, Taruna Ikrar Dorong Farmasis Muda Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Sisi Humanis

- Editor

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JATINANGOR, SiaranIndonesia.com– Suasana Auditorium Fakultas Farmasi Bela Sawala, Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, terasa berbeda pada Kamis (13/8/2026). Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., hadir di tengah civitas akademika dan mahasiswa baru Fakultas Farmasi Unpad untuk memberikan kuliah umum dalam rangka Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027.

Taruna diterima jajaran pimpinan, senat dan dosen Fakultas Farmasi Unpad, termasuk Dekan Fakultas Farmasi Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika, Ph.D. Di hadapan mahasiswa baru, Taruna mengajak mereka melihat masa depan ilmu farmasi yang semakin dipengaruhi perkembangan Artificial Intelligence (AI), precision medicine, terapi sel dan gen, serta pemanfaatan Big Data.Mengangkat tema Perkembangan Ilmu Farmasi di Era Artificial Intelligence (AI) dan Precision Medicine, Taruna menjelaskan bahwa paradigma pengobatan terus bergeser. Dunia medis perlahan meninggalkan pendekatan “satu obat untuk semua” menuju terapi yang lebih personal, yakni obat yang tepat untuk pasien yang tepat, dengan dosis dan waktu yang tepat.

Menurutnya, perubahan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa setiap manusia memiliki karakter biologis yang berbeda. Faktor genetik, fenotipe, lingkungan, gaya hidup hingga respons terhadap obat menjadi bagian penting dalam menentukan terapi. Karena itu, precision medicine membutuhkan ekosistem data yang terintegrasi, mulai dari genomik, Electronic Health Records, Real World Data, hingga AI dan Big Data.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tidak dapat dilepaskan dari aspek etika. Privasi, keamanan data, tata kelola, validasi serta kepercayaan publik harus tetap menjadi fondasi. Perkembangan terapi sel dan gen juga memperlihatkan betapa cepatnya lanskap pengobatan berubah. Materi yang disampaikan Taruna mencatat lebih dari 3.800 uji klinik terapi sel dan gen aktif hingga 2024, dengan 159 produk telah memperoleh persetujuan secara global.

Perubahan teknologi itu sekaligus membawa konsekuensi bagi sistem pengawasan obat dan makanan. Bagi BPOM, pengawasan tidak cukup dilakukan pada produk yang telah beredar, tetapi harus mengikuti seluruh siklus obat, mulai dari riset, uji nonklinik, uji klinik, registrasi, sertifikasi, inspeksi, pengujian, farmakovigilans, hingga penindakan dan komunikasi kepada publik.

AI, kata Taruna, dapat dimanfaatkan pada hampir setiap tahapan tersebut. Dalam riset dan uji nonklinik, AI dapat membantu simulasi in silico dan prediksi toksisitas. Pada tahap pre-market, teknologi dapat mendukung regulatory intelligence, penilaian manfaat-risiko, dossier screening dan pemeriksaan dokumen. Sementara pada tahap post-market, AI dapat membantu pengawasan berbasis risiko, mendeteksi sinyal keamanan dan menganalisis Real World Data.

Ekosistem teknologi tersebut semakin kuat dengan hadirnya Internet of Things, machine learning, blockchain dan Big Data Analytics. IoT dapat mendukung inspeksi virtual GMP serta pemantauan secara real time, sementara AI dan machine learning membantu pengujian dan analisis data. Blockchain dapat memperkuat transparansi distribusi, sedangkan Big Data Analytics membantu membaca sinyal dan tren dalam peredaran maupun hasil pengawasan.

Meski demikian, Taruna menegaskan kecanggihan teknologi tidak berarti menghilangkan peran manusia. AI harus ditempatkan sebagai alat pendukung keputusan, sementara tanggung jawab regulatori tetap berada pada BPOM. Karena itu, penerapannya harus disertai validasi, keamanan data, tata kelola yang kuat dan human oversight.
Pesan tersebut juga diarahkan kepada mahasiswa baru yang akan menjadi generasi farmasis masa depan.

“Pharmacist of the future: tidak digantikan oleh AI, tapi diperkuat oleh AI,” demikian pesan yang ditekankan Taruna.

Menurutnya, calon farmasis perlu memiliki setidaknya lima kemampuan utama, yakni AI and digital fluency, data literacy, scientific and clinical judgment, human skills, serta continuous learning.
Dekan Fakultas Farmasi Unpad Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika menilai perkembangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan farmasi yang semakin terbuka terhadap kolaborasi.

Semangat Academia, Business, Government atau ABG menjadi salah satu inspirasi untuk mendekatkan pendidikan dengan kebutuhan industri, pemerintah, perkembangan teknologi dan tantangan masyarakat. Salah satu wujudnya adalah pembukaan Program Studi Sarjana Rekayasa Kosmetik pada Tahun Akademik 2026/2027 yang langsung mendapat perhatian besar dari calon mahasiswa.

Semangat kolaborasi juga tercermin dalam sejumlah contoh yang dipaparkan Taruna, antara lain pengembangan biosimilar insulin detemir yang melibatkan UGM, Bernofarm dan BPOM, serta pengembangan Mesenchymal Stem Cell yang melibatkan UI, PT Kimia Farma, BPOM dan Kementerian Kesehatan. Unpad sendiri memiliki pengalaman kolaborasi dalam uji klinik vaksin COVID-19 bersama Sinovac dan Bio Farma. Rangkaian kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa masa depan farmasi membutuhkan ekosistem yang mempertemukan kampus, industri dan pemerintah.

Menutup kuliahnya, Taruna mengajak mahasiswa baru untuk berani memiliki mimpi sekaligus membangun ketekunan untuk mewujudkannya. “To make great dreams come true, you need to have a great capacity to dream and persistence and faith in achieving the dream.” Pesan itu menjadi penutup yang relevan dengan perubahan dunia farmasi yang bergerak dari obat konvensional menuju precision medicine, dari molekul menuju terapi sel dan gen, serta dari pengolahan data konvensional menuju pemanfaatan Big Data dan AI.

Dari Auditorium Fakultas Farmasi Bela Sawala Unpad, pesan Taruna kepada generasi baru farmasis Indonesia terasa sederhana tetapi strategis: kuasai teknologi, pahami data, pegang teguh sains, dan jangan kehilangan sisi manusia. Sebab masa depan farmasi bukanlah pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan untuk menghadirkan terapi yang lebih tepat, pengawasan yang semakin kuat, inovasi yang bertanggung jawab, dan perlindungan kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Komentar Facebook

Berita Terkait

NU Mau Dibawa ke Mana pada Abad Kedua?
Parkir Liar Buperta Cibubur Disorot, Pengamat: Jika Tak Mampu Tertibkan, Evaluasi Pimpinan
MI Sa’adatuddarain Gelar Kick Off Madrasah Ramah Anak dan Parenting, Perkuat Sinergi Madrasah dan Orang Tua
‎Pegadaian Area Senen Raih Juara Umum SportaFest 2026
Taruna Ikrar Ajak Masyarakat Pintar Memilih Makanan, Minuman, dan Obat di BPOM Run
Denny Desak Gibran Mundur, Fritz Siregar Tegaskan Presiden Tak Bisa Memecat Wapres
Call Center Baru Dishub DKI Dipertanyakan, Pengamat: Jangan Sampai Tumpang Tindih dengan JAKI
Booking KIR Makin Cepat, Plt Yaya Kasya “Jaya” Dorong Pelayanan UP PKB Kabupaten Bogor Lebih Responsif

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 23:56 WIB

1 Dekade Primago, Dari Bimbingan Belajar Masuk Gontor Hingga Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago Jenjang SDI – SMPI – SMAI

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:46 WIB

Dr Awaluddin Faj, M.Pd ; Menyiapkan Calon Pemimpin Masa Depan dari Pesantren

Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Remaja Masjid Baitul Kamal Resmi Dibentuk, Ahmad Naufal Muhtarom Jadi Ketua

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:43 WIB

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang Gelar Kegiatan Motivasi Santri Mengenal Diri Untuk Berprestasi Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Senin, 10 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang Gelar Tes Minat & Bakat Santri Bersama Primagen Tahun Ajaran 2026-2027

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Pondok Modern Darul Falah Cimenteng Subang Gelar Workshop Membangun Daya Juang & Spirit Ruh Mudarris Bersama Konsultan Pendidikan Alumni Gontor

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 06:03 WIB

7 Tokoh Alumni Pesantren yang Aktif Menjadi Narasumber Leadership di Indonesia

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 05:56 WIB

5 Pembicara Profesional Untuk Pelatihan Leadership di Indonesia

Berita Terbaru

Nasional

NU Mau Dibawa ke Mana pada Abad Kedua?

Jumat, 14 Agu 2026 - 14:56 WIB