Siaranindonesia.com, JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Asep Wahyuwijaya, meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat kesiapan layanan seiring meningkatnya jumlah pengguna kereta api.
Hal itu disampaikan Asep dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama manajemen PT KAI di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurut Asep, pertumbuhan jumlah penumpang harus diikuti dengan peningkatan kapasitas sarana, prasarana, serta sistem keselamatan. Ia menilai ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan dan kepercayaan masyarakat.
Asep memetakan kinerja KAI pada Semester I 2026 ke dalam lima dimensi, yakni kinerja keuangan, kemudahan akses, kecukupan sarana, kecukupan prasarana, dan keselamatan.
Dari lima dimensi tersebut, kinerja keuangan dan kemudahan akses berada dalam status kuning. Sementara itu, kecukupan sarana, kecukupan prasarana, dan keselamatan masuk kategori merah.
“Pertumbuhan tidak boleh dibayar dengan keselamatan. Yang dirasakan penumpang adalah kereta yang tepat waktu, tidak berdesakan, dan selamat sampai tujuan,” ujar Asep.
Asep secara khusus menyoroti kondisi layanan KRL di lintas Bogor setelah tujuh rangkaian KRL baru produksi PT Industri Kereta Api (INKA) ditarik sejak awal September 2026.
Penarikan tersebut, kata dia, berdampak pada pengurangan 17 perjalanan pada jam sibuk di lintas Bogor.
Menurut Asep, kondisi tersebut menunjukkan perlunya sistem cadangan armada yang lebih kuat agar gangguan atau penarikan sejumlah rangkaian tidak langsung berdampak besar terhadap penumpang.
“Tujuh rangkaian ditarik saja, penumpang lintas Bogor langsung berdesakan. Artinya, sistem kita tidak punya cadangan. Ini harus dibenahi sebelum lonjakan penumpang berikutnya,” katanya.
Asep juga menyoroti pertumbuhan jumlah pelanggan KAI yang disebut telah mendekati 259 juta penumpang pada semester pertama 2026.
Dengan pertumbuhan tersebut, ia meminta KAI melakukan perhitungan kapasitas layanan secara lebih terukur, termasuk kebutuhan armada, kepadatan penumpang, headway, dan prasarana pendukung.
Selain kapasitas layanan, Asep menekankan pentingnya penguatan sistem keselamatan perkeretaapian.
Ia merujuk pada tragedi di Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang serta data 134 kecelakaan di perlintasan sebidang hingga Juni 2026.
Asep meminta indikator keselamatan KAI tidak hanya mencatat kecelakaan yang melibatkan perjalanan kereta, tetapi juga memasukkan kecelakaan di perlintasan sebidang beserta jumlah korbannya.
“Nyawa penumpang dan warga tidak boleh hilang dari statistik,” tegasnya.
Untuk meningkatkan sistem keselamatan, Asep meminta KAI menyampaikan jadwal dan anggaran pemasangan Automatic Train Protection (ATP), terutama pada lintas dengan tingkat kepadatan tertinggi.
Ia juga meminta indikator keselamatan dilaporkan kepada Komisi VI setiap tiga bulan, termasuk data kecelakaan di perlintasan sebidang dan jumlah korban.
Asep juga mendorong KAI menyusun simulasi kondisi ideal layanan yang mencakup target kepadatan, headway, ketersediaan armada cadangan, hingga kebutuhan prasarana.
Selain aspek pelayanan, ia meminta perusahaan menyampaikan rencana pemulihan laba serta kejelasan dampak pengalihan saham PSBI terhadap kondisi neraca perusahaan.
Menurut Asep, setiap dukungan terhadap permohonan perusahaan, termasuk pengadaan KRL dan dispensasi impor sarana bukan baru, perlu disertai persyaratan yang terukur.
“Komisi VI siap mengawal dan mendukung langkah-langkah tersebut sepanjang disertai target, tenggat waktu, dan akuntabilitas yang terukur,” ujarnya.
Asep mengatakan berbagai langkah perbaikan tersebut diperlukan untuk mendukung pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) KAI 2026–2030.
Ia berharap KAI dapat terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat perannya sebagai operator perkeretaapian dan bagian penting dari ekosistem transportasi nasional.
“Rapor merah ini adalah pekerjaan rumah bersama. Kami ingin KAI berhasil, karena keberhasilan KAI berarti semakin banyak warga, dari kota besar hingga daerah, yang bisa bepergian dengan kereta secara aman, nyaman, dan terjangkau,” pungkas Asep.
























