SiaranIndonesia.com, Beijing – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengatakan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mempercepat proses penemuan dan pengembangan obat sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengawasan.
“Dengan menggunakan AI, proses pengujian obat dapat dilakukan lebih cepat, misalnya melalui uji praklinis dan simulasi. Dengan demikian, proses penemuan obat dapat dipercepat,” kata Taruna Ikrar di Beijing, kemarin (21/9).
Taruna berada di Beijing untuk bertemu dengan sejumlah mitra, termasuk National Medical Products Administration (NMPA) atau otoritas pengawas obat dan makanan China, serta menjadi pembicara dalam seminar kesehatan yang diselenggarakan Universitas Tsinghua dan bertemu dengan pelaku industri medis.
Ia menjelaskan, pengembangan obat baru merupakan proses panjang dan bertahap yang meliputi identifikasi molekul awal atau hit molecule, validasi molekul, pemilihan kandidat obat, uji praklinis in vitro dan in vivo, hingga uji klinis fase I sampai III pada manusia serta tahapan lainnya.
Menurut dia, AI dapat dimanfaatkan pada berbagai tahapan tersebut, antara lain untuk membantu mendeteksi dan menganalisis partikel, protein, reseptor, serta melakukan simulasi yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar.
“AI adalah alat bantu untuk memudahkan pekerjaan karena data yang harus diproses bisa mencapai jutaan bahkan miliaran. Dengan teknologi ini, prosesnya menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus membantu mengurangi potensi human error,” ujarnya.
Selain mempercepat penemuan obat, Taruna mengatakan AI juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pengawasan terhadap peredaran produk obat. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi barcode untuk membantu melacak distribusi produk.
“Dengan AI, kita dapat melacak produk, misalnya melalui barcode, sehingga dapat diketahui pergerakan produk, distribusinya, hingga penggunaannya. Ini justru dapat memperkuat aspek keamanan,” katanya.
Taruna menambahkan, China telah memanfaatkan AI dalam berbagai aspek pengaturan dan pengawasan obat. Menurut dia, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem pengawasan berbasis teknologi.
Dalam seminar bertajuk “AI + New Medical Technology Conference” yang merupakan bagian dari International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum di Universitas Tsinghua, Taruna menyampaikan bahwa AI juga berpotensi membantu regulator meningkatkan efisiensi, mempermudah proses sertifikasi, serta membuat layanan regulasi lebih efektif dan praktis.
“Di BPOM, di bawah kepemimpinan saya, kami telah menerapkan kecerdasan buatan dalam berbagai proses, mulai dari sistem barcode, proses registrasi, hingga mendukung penelitian dan uji klinis yang dilakukan para ilmuwan,” ujarnya.
Ia mengatakan pemanfaatan AI juga memungkinkan BPOM mengolah data yang dihasilkan setiap tahun untuk mendukung penyusunan standar pengawasan yang semakin presisi.
“Dengan demikian, kami dapat lebih yakin bahwa suatu produk aman dan layak tersedia bagi masyarakat. Itulah salah satu peran kecerdasan buatan dalam pelaksanaan regulasi,” kata Taruna.
Menurut dia, pemanfaatan AI di lingkungan BPOM terus dikembangkan pada berbagai proses, antara lain registrasi, sertifikasi, distribusi, serta pengelolaan administrasi.
“Kecerdasan buatan sangat penting untuk membantu pengelolaan proses tersebut dan mengurangi kesalahan manusia karena teknologi ini dapat bekerja dengan lebih presisi,” katanya.
Meski demikian, Taruna menegaskan AI merupakan instrumen pendukung dalam proses pengawasan. Aspek keamanan, mutu, dan manfaat produk tetap menjadi dasar dalam keputusan regulasi BPOM.
“AI itu alat atau instrumen. Yang jelas, Badan POM memastikan bahwa produk yang diberikan izin memenuhi persyaratan keamanan,” tegasnya. (*)
























