KENDARI, SiaranIndonesia.com – Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Halu Oleo (UHO), menggelar Live Class Komunikasi Politik Vol. 2 dengan menggandeng Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI), Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Mengawal Pemilu 2029 di Era AI: Pengarusutamaan Etika Komunikasi Politik Digital dan Etika Penyelenggara untuk Demokrasi Berintegritas” tersebut dipandu Selviani, mahasiswa Prodi Jurnalistik.
Tenaga Ahli DKPP RI, Teten Jamaludin, dalam pemaparannya menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi penyelenggara pemilu di era kecerdasan buatan (AI).
Menurut Teten, tantangan tersebut antara lain penggunaan deepfake yang menyasar penyelenggara pemilu serta AI bot yang memproduksi dan menyebarkan narasi bohong. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap integritas penyelenggara pemilu, termasuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).
Selain itu, penggunaan AI yang tidak dilandasi etika juga berpotensi digunakan untuk memproduksi bukti palsu dalam persidangan etik. Hal tersebut dapat menambah kompleksitas proses forensik digital dalam pemeriksaan perkara.
Merespons tantangan tersebut, DKPP RI melakukan penguatan kapasitas di bidang forensik digital, serta meningkatkan kapasitas majelis dan Tim Pemeriksa Daerah.
“Kami juga memperkuat keamanan pangkalan data aduan dan melakukan pembaruan juknis pembuktian,” jelas Teten.
Tantangan AI dalam kepemiluan tersebut turut dibahas akademisi komunikasi politik FISIP UHO, Irmawanti. Dalam kegiatan tersebut, Irmawanti menjelaskan bahwa masyarakat semakin dekat dengan teknologi AI. Perkembangan produksi konten berbasis AI juga mulai berkaitan dengan ekonomi perhatian, ketika perhatian publik menjadi bagian penting dalam ekosistem produksi dan distribusi konten digital.
“Pada dasarnya, AI deepfake merupakan teknologi yang netral, namun hal itu berubah sesuai dengan tujuan dari penggunanya. Di Indonesia, saat ini sudah mulai banyak produksi konten sintesis tersebut dan terus meningkat jumlahnya, termasuk di kalangan mahasiswa,” jelasnya.
Irmawanti juga menyoroti penggunaan AI deepfake untuk produksi konten asusila sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangan teknologi tersebut.
Ia menegaskan mahasiswa memiliki peran dalam meningkatkan literasi AI di masyarakat, termasuk dalam konteks kepemiluan. Menurutnya, literasi tersebut penting terutama bagi pemilih pemula yang akan terlibat dalam proses demokrasi.
Hal tersebut, lanjutnya, dilakukan melalui kegiatan literasi AI kepemiluan yang melibatkan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dan Prodi Jurnalistik FISIP UHO dengan menyasar siswa sekolah menengah atas sebagai pemilih pemula.
























