Tauhid, Sains, dan Pelajaran dari Iran

- Editor

Selasa, 22 September 2026 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Chamad Hojin

Peminat Pemikiran Sosial Keagamaan

Di tengah perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, ada satu fenomena yang menarik perhatian dunia Muslim: bagaimana Iran, negara yang selama puluhan tahun menghadapi sanksi dan isolasi, tetap mampu mempertahankan kapasitas ilmiah, teknologi, dan industri strategisnya. Iran tentu bukan model yang harus diterima secara keseluruhan—politik, sistem pemerintahan, dan kebijakan luar negerinya adalah persoalan tersendiri. Namun, kemampuan sebagian institusi ilmiahnya layak dikaji. Nature, misalnya, menyebut Iran memiliki tradisi kuat dalam sains dan kedokteran, sementara Nature Index 2026 masih menempatkan sejumlah universitas Iran dalam jajaran institusi riset penting di Asia Barat.

Fenomena ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keberagamaan dan kemajuan sains harus dipertentangkan? Ataukah justru masyarakat yang memiliki keyakinan agama yang kuat dapat menjadi sangat rasional, ilmiah, dan terbuka terhadap perkembangan pengetahuan? Pertanyaan ini relevan bagi dunia Islam yang masih terus mencari formula antara kesalehan, modernitas, dan kemajuan peradaban.

Dalam perspektif pemikiran Nurcholish Madjid, persoalan tersebut dapat didekati melalui konsep tauhid. Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Tuhan itu satu, melainkan konsekuensi intelektual bahwa hanya Tuhan yang mutlak. Karena itu, segala sesuatu selain Tuhan bersifat relatif, historis, dan dapat dikaji secara kritis. Di sinilah terdapat dasar filosofis bagi sikap intelektual yang terbuka.

Dari perspektif tersebut lahir gagasan yang pernah dikemukakan Cak Nur mengenai sekularisasi. Sekularisasi dalam pengertian ini bukan sekularisme yang menyingkirkan agama dari kehidupan, melainkan proses menduniawikan hal-hal yang memang bersifat duniawi. Yang sakral ditempatkan sebagai sakral; sementara wilayah sosial, politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan tidak diperlakukan seolah-olah semuanya memiliki kesucian agama.

Dengan begitu, sekularisasi justru dapat dibaca sebagai konsekuensi dari monoteisme radikal. Ketika hanya Tuhan yang mutlak, tidak boleh ada gagasan manusia yang diperlakukan sebagai mutlak. Tafsir keagamaan, pendapat ulama, tradisi, institusi, bahkan konstruksi sosial dapat didiskusikan dan dikritik. Yang menjadi masalah bukan agama, melainkan ketika pemahaman manusia terhadap agama diperlakukan seolah-olah identik dengan agama itu sendiri.

Di sinilah relevansi kritik terhadap mentalitas dogmatis. Sebuah masyarakat dapat sangat religius tetapi sekaligus tertutup terhadap pertanyaan. Padahal ilmu pengetahuan justru tumbuh dari keberanian bertanya: mengapa demikian, bagaimana membuktikannya, apa buktinya, dan apakah kesimpulan kita masih dapat diperbaiki?

Kemunduran umat Islam karena itu tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa umat kurang religius. Bisa jadi persoalannya justru terletak pada cara memahami religiusitas. Jika agama dipahami sebagai dorongan untuk membaca realitas, mencari ilmu, mengembangkan akal, dan menghadirkan kemaslahatan, maka agama dapat menjadi energi peradaban.

Dalam konteks inilah pengalaman Iran menarik untuk dikaji. Terlepas dari karakter teokratis sistem politiknya dan berbagai kontroversi kebijakannya, Iran membangun kapasitas pendidikan tinggi dan penelitian yang tidak kecil. Nature pada 2025 mencatat kekuatan Iran dalam bidang sains dan kedokteran, termasuk riset sel punca, nanoteknologi, dan layanan kanker.

Data Nature Index 2026 juga menunjukkan bahwa University of Tehran, Sharif University of Technology, Amirkabir University of Technology, Islamic Azad University, dan sejumlah institusi Iran lainnya tetap menghasilkan kontribusi riset dalam bidang applied sciences. Ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi dan tekanan geopolitik tidak otomatis mematikan ekosistem pengetahuan.

Tetapi ada satu hal yang harus hati-hati dibedakan. Kemajuan teknologi Iran tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh tauhid yang kuat. Kemajuan tersebut merupakan hasil interaksi banyak faktor: sejarah pendidikan, universitas, investasi negara, kebijakan industrialisasi, kebutuhan strategis, kemampuan rekayasa, pengalaman perang, jaringan diaspora, serta kemampuan melakukan adaptasi teknologi.

Bahkan perkembangan teknologi militernya memiliki sejarah yang kompleks. Kajian CSIS mencatat bahwa kemampuan rudal Iran berkembang melalui kombinasi pembelajaran domestik, pengembangan industri sendiri, dan pada periode tertentu transfer teknologi atau bantuan dari negara lain. Jadi, narasi tentang “kemandirian total” juga perlu ditempatkan secara kritis.

Namun justru di situlah pelajaran intelektualnya. Sebuah bangsa yang menghadapi keterbatasan dapat terdorong untuk membangun kapasitas internal. Sanksi memang membatasi akses terhadap teknologi, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menciptakan insentif untuk mengembangkan kemampuan domestik. CSIS mencatat bahwa Iran selama beberapa dekade mengembangkan kemampuan rudal dan ruang angkasa dengan berbagai tingkat keberhasilan, meskipun data mengenai kemampuan aktualnya harus dibaca secara hati-hati.

Pelajaran tersebut penting bagi dunia Islam. Jangan sampai kita menganggap bahwa menjadi modern berarti harus menjadi kurang religius. Dan jangan pula menganggap bahwa menjadi religius berarti harus curiga terhadap modernitas. Dua anggapan itu sama-sama bermasalah.

Yang diperlukan adalah keberanian untuk membedakan antara wahyu dan tafsir, antara iman dan kebudayaan, antara nilai agama dan konstruksi sosial, antara prinsip yang fundamental dan pendapat manusia yang historis. Dengan pembedaan tersebut, umat Islam memperoleh ruang intelektual yang luas untuk melakukan pembaruan tanpa kehilangan fondasi tauhid.

Tauhid dengan demikian tidak semestinya membuat manusia takut kepada ilmu. Sebaliknya, karena Tuhan adalah Yang Mutlak, manusia justru sadar bahwa pengetahuannya terbatas. Kesadaran akan keterbatasan itulah yang melahirkan kerendahan hati ilmiah: berani menyusun hipotesis, mengujinya, mengoreksinya, dan menerima kemungkinan bahwa pengetahuan kita hari ini belum menjadi pengetahuan terakhir.

Dalam perspektif ini, universitas seharusnya menjadi tempat di mana seorang Muslim dapat menjadi saleh sekaligus kritis; tekun beribadah sekaligus menguasai matematika; memahami Al-Qur’an sekaligus memahami fisika; mencintai tradisi sekaligus mampu mengkritiknya. Tidak ada kontradiksi inheren antara masjid dan laboratorium.

Bagi Indonesia dan dunia Muslim, pertanyaan terpenting bukan apakah kita harus meniru Iran. Jawabannya jelas: tidak sesederhana itu. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana sebuah masyarakat membangun manusia berpengetahuan, universitas yang kuat, tradisi riset, keberanian bereksperimen, dan orientasi pada kemandirian teknologi—tanpa harus kehilangan identitas keagamaannya.

Pada akhirnya, tauhid yang matang seharusnya melahirkan manusia yang merdeka dari pengkultusan terhadap selain Tuhan, termasuk pengkultusan terhadap pendapatnya sendiri. Di situlah agama dapat bertemu dengan sains: agama memberikan orientasi nilai, sementara sains membantu manusia membaca kenyataan. Mungkin inilah salah satu pekerjaan intelektual terbesar umat Islam hari ini—mengembalikan tauhid sebagai energi pembebasan intelektual, agar iman tidak menjadi alasan untuk berhenti bertanya, tetapi justru menjadi keberanian untuk terus mencari kebenaran.

Komentar Facebook

Berita Terkait

DPD Demokrat Papua Tengah Apresiasi Kunjungan AHY Ke Tanah Papua, Serap Aspirasi Enam Provinsi
Turnamen Empang HUB 2026: Buktikan Mancing Itu Bukan Sekadar Hobi
SEKJEND APKLI SAIFUL CHANIAGO OPTIMIS KEPEMIMPINAN PRESIDEN PRABOWO MAMPU WUJUDKAN EKONOMI TUMBUH 8% LEWAT EKONOMI KERAKYATAN
Anggaran Terbatas, Asep Wahyuwijaya Dorong Kemenkop Perkuat Pengawasan Koperasi
KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK
Perkuat Perlindungan Satwa dari Karhutla, Menhut Raja Antoni: Mereka Tak Bisa Minta Tolong
Jaga Gajah Padang Sugihan dari Karhutla, Menhut Raja Antoni Pertebal Pasukan Darat
Taruna Ikrar Dorong Kolaborasi BPOM–Unhan, Sains dan Pengabdian Jadi Pondasi Pengawas Masa Depan

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:50 WIB

DTI Series 2026 Jadi Pusat Inovasi Digital, Hadirkan 260 Pembicara dan 450 Solusi Teknologi

Senin, 6 Juli 2026 - 22:13 WIB

Bermimpi, Berjuang, Berdamai: Kisah 12 Tahun Perjalanan yang Berujung pada Lahirnya Platform Kerja Remote untuk Talenta Indonesia

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:11 WIB

Hadir di Rakernas Inkopontren, PRUVIU Perkenalkan Solusi Antikredit Macet

Minggu, 12 April 2026 - 05:43 WIB

UMKM Tertekan Harga Global, ABDSI Desak Intervensi Cepat dan Terukur

Rabu, 7 Januari 2026 - 10:11 WIB

Gen Z Jadi Motor Utama Pertumbuhan Investasi Emas Digital di Indonesia

Kamis, 18 Desember 2025 - 01:01 WIB

Didukung 5 Bank, Kimia Farma Apotek Restrukturisasi Keuangan

Sabtu, 6 Desember 2025 - 21:15 WIB

Industri Migas Hadapi Tantangan Aset Menua, Kecerdasan Buatan Jadi Solusinya

Senin, 22 September 2025 - 16:21 WIB

Menata Belanja Negara: Strategi Efisiensi untuk Kesejahteraan Rakyat

Berita Terbaru

Nasional

Tauhid, Sains, dan Pelajaran dari Iran

Selasa, 22 Sep 2026 - 13:47 WIB