Peringatan Reiner Rahardja: Gelembung Bitcoin dan aset investasi lainnya pecah di 2026, Investor wajib Waspada!

- Editor

Rabu, 17 Desember 2025 - 14:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siaranindonesia.com, Jakarta — Tahun 2026 merupakan tahun penuh tekanan bagi perekonomian global dan pasar keuangan. Indikator menunjukkan risiko koreksi tajam di berbagai jenis aset investasi, karena perubahan kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan likuiditas melemah.

Hal itu diungkapkan oleh Reiner Rahardja, mentor sekaligus pengusaha muda yang bergerak dalam berbagai lini bisnis seperti GeneralTrade, Mining, Agribisnis|Marine&Fishery, Importer, Farmery, Technology, Investor, dan Blockchain ini pada acara seminar “Navigating 2026 Economic Horizon: Strategic Preview for Entrepreneurs” yang digelar di Neo+ Hotel Kebayoran Baru, Jakarta selatan, Selasa, 16 Desember 2025.

disampaikan bahwa kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta semakin ketatnya arus kas menjadi tantangan utama bagi dunia pengusaha, terutama sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Di dunia, ada beberapa faktor utama yang dapat mengguncang pasar dalam kurun 10 sampai 12 bulan ke depan dan membuat instrumen investasi seperti emas, bitcoin, dan pasar finansial juga akan bergejolak.

Faktor-faktor tersebut meliputi mid-term election Amerika Serikat, Piala Dunia 2026, arah kebijakan kabinet baru The FED, dan resiko kenaikan suku bunga Jepang yang dapat mengakhiri era Yen Carry Trade. Reiner memperkirakan Japan Rate Hike ini akan menarik kembali aliran likuiditas global ke negara asalnya.

Menurunnya arus likuiditas ini akan menekan aset berisiko seperti saham, kripto, dan komoditas spekulatif. Tiongkok juga kembali menegaskan larangan pada aktivitas kripto, khususnya stablecoin, karena Tiongkok menilai stablecoin berisiko bagi stabilitas ekonomi dan arus keuangan Tiongkok.

Disisi lain, ada kekhawatiran tentang AI bubble dimana isu ini muncul karena bisnis model kecerdasan buatan ini belum terbukti mendukung untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan secara berkesinambungan, penggunaan AI masih sangat primitif di masyarakat maupun institusi namun biaya pengembangan AI sudah diluar akal sehat.

Dampaknya, banyak aset investasi yang akan masuk fase koreksi besar. Emas akan mengalami fase koreksi yang cukup signifikan diikuti oleh bentuk asset logam lainnya yang lebih volatile, indeks saham global pun akan turun yang tentu memicu penurunan lebih drastis pada asset spekulatif seperti Bitcoin yang tidak memiliki routine earning, tapi berbasis feeling.

Kondisi ini dapat memicu efek spiral terjadi, jika aksi jual institusional terjadi di pasar yang sedang bearish, maka efek spiral kebawah tidak dapat dihindarkan. Dalam situasi ini, Reiner menilai pendekatan spekulatif akan semakin berisiko dan hindari dulu mengambil posisi investasi pada berbagai aset, tunggu sampai harga koreksi tercapai atau biasa disebut buy bottom, jangan buy the top.

Meskipun tekanan ekonomi meningkat, peluang tetap ada pada sektor bisnis. Beberapa sektor yang dinilai masih berpotensi menguntungkan pada 2026 di antara lain adalah industri kecantikan dan kebugaran, layanan kesehatan usia lanjut (anti-aging), pendidikan anak dan remaja, serta sektor berbasis perilaku konsumsi masyarakat.

Reiner Rahardja menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar tahun sulit, melainkan periode seleksi alam. Pelaku usaha dan investor yang mampu beradaptasi dan membangun fundamental pendapatan, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh ditengah siklus ekonomi yang menantang.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Perkuat Transformasi Digital, Seluruh Layanan Pegadaian Kini Terintegrasi di Aplikasi Tring!
DPC PDIP Kebumen Gelar Tasyakuran HUT ke-53, Sosialisasikan Hasil Rakernas Partai
Ridwan Hisjam: Pilkada Dipilih DPRD Bukan Kemunduran Demokrasi
Ribuan Sekolah Terdampak Bencana, Hetifah Dorong Percepatan Pemulihan Pendidikan
Menapaki Jejak Sejarah di Baitul Maqdis, Rombongan Jamaah Indonesia Shalat dan Peringati Isra Mikraj di Masjidil Aqsha
Hadiah Jutaan Rupiah Menanti di Manafera Tennis Tournament 2026 Kebumen
Seminar Internasional LD PBNU–National Dong Hwa University Bahas Moderasi Islam dan Isu PMI di Taiwan
Banjir Terus Berulang di Kalsel, Aktivis HMI Sebut Deforestasi dan Ratusan PETI Batu Bara Pemicu Utama

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 12:24 WIB

Perkuat Transformasi Digital, Seluruh Layanan Pegadaian Kini Terintegrasi di Aplikasi Tring!

Senin, 19 Januari 2026 - 06:59 WIB

DPC PDIP Kebumen Gelar Tasyakuran HUT ke-53, Sosialisasikan Hasil Rakernas Partai

Senin, 19 Januari 2026 - 06:39 WIB

Ridwan Hisjam: Pilkada Dipilih DPRD Bukan Kemunduran Demokrasi

Senin, 19 Januari 2026 - 06:32 WIB

Ribuan Sekolah Terdampak Bencana, Hetifah Dorong Percepatan Pemulihan Pendidikan

Kamis, 15 Januari 2026 - 19:07 WIB

Hadiah Jutaan Rupiah Menanti di Manafera Tennis Tournament 2026 Kebumen

Rabu, 14 Januari 2026 - 14:55 WIB

Seminar Internasional LD PBNU–National Dong Hwa University Bahas Moderasi Islam dan Isu PMI di Taiwan

Rabu, 14 Januari 2026 - 11:41 WIB

Banjir Terus Berulang di Kalsel, Aktivis HMI Sebut Deforestasi dan Ratusan PETI Batu Bara Pemicu Utama

Selasa, 13 Januari 2026 - 20:48 WIB

Paradigma Baru Golkar: Refleksi Ridwan Hisjam tentang Masa Depan Partai

Berita Terbaru