Siaranindonesia.com, JAKARTA — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) merambah kerja sama strategis dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) guna mempercepat pengembangan bioenergi nasional.
Kolaborasi lintas sektor ini diresmikan dalam ajang Danantara Technology Innovation & Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta.
Kerja sama tersebut mencakup tiga agenda utama: pembaruan nota kesepahaman (MoU) energi terbarukan, penandatanganan Heads of Agreement (HoA) pengelolaan pabrik biodiesel Fatty Acid Methyl Ester (FAME) bersama Agrinas, serta kesepakatan riset bioetanol generasi kedua (2G) berbasis limbah tebu bersama SGN.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengoptimalkan potensi bioenergi domestik yang melimpah sekaligus memperkuat bauran energi hijau nasional.
“Indonesia memiliki potensi bioenergi melimpah dari sektor perkebunan dan pengolahan. Optimasi fasilitas FAME dan riset bioetanol 2G ini menjadi tonggak penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menopang implementasi bauran energi hijau pemerintah,” ujar John dalam keterangan resminya.
Melalui HoA yang disaksikan oleh CTO Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, Pertamina NRE bersama Agrinas Palma Nusantara akan menggelar studi kelayakan (feasibility study) komprehensif terkait pengoperasian, pemeliharaan, dan revitalisasi pabrik FAME di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang hingga 600.000 ton per tahun dan ditargetkan rampung dikaji pada kuartal I-2027. Selain mendukung rantai pasok program B35/B40, pengoperasian kembali pabrik ini diperkirakan menyerap hingga 1.200 tenaga kerja lokal.
Berbasis Limbah Tebu
Di sisi lain, kemitraan dengan SGN memfokuskan pengembangan bioetanol generasi kedua (2G) memanfaatkan produk sampingan tebu seperti ampas (bagasse) dan tetes tebu (molasses). Pendekatan ini dinilai strategis karena tidak mengganggu rantai pasok pangan.
Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina NRE, Harsono Budi Santoso, menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah tebu ini diarahkan untuk mendukung pemenuhan pencampuran bensin (gasoline blending E5/E10) guna menekan ketergantungan impor BBM.
“Kerja sama dengan Agrinas Palma Nusantara fokus mengoptimalkan infrastruktur FAME yang sudah ada, sementara sinergi dengan SGN membuka jalan bagi pemanfaatan limbah tebu menjadi bioetanol 2G tanpa mengganggu rantai pangan,” jelas Harsono.
Secara akumulatif, pengoperasian penuh fasilitas FAME dan komersialisasi bioetanol 2G ini diproyeksikan mampu mereduksi emisi karbon hingga lebih dari 1,5 juta ton $CO_2e$ per tahun, sekaligus mendukung pencapaian target kemandirian energi nasional.
























