Siaranindonesia.com, Jakarta – Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Kepenulisan dan Bedah Buku Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan, Rabu (4/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Teater Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta tersebut menjadi ruang akademik untuk mengembangkan gagasan penelitian menjadi karya tulis populer sekaligus memperkuat pemahaman mengenai hubungan Indonesia dan Tiongkok dari perspektif sejarah, budaya, dan diplomasi.
Seminar ini menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi, yakni Dekan FDIKOM UIN Jakarta Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si.; Direktur Eksekutif P2KM UIN Jakarta Dr. Deden Mauli Darajat, M.Sc.; penulis dan editor buku Budy Sugandi, Ph.D.; Dosen FDIKOM UIN Jakarta Nurul Hidayatul Ummah, MA.; serta Deputi Direktur FDIKOM UIN Jakarta Dr. Dedi Fahrudin, M.I.Kom.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si. menekankan pentingnya perguruan tinggi membangun tradisi literasi dan kepenulisan yang mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat memproduksi pengetahuan melalui penelitian dan publikasi ilmiah. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus mampu mengomunikasikan hasil pemikiran akademik kepada publik melalui tulisan yang mudah dipahami, relevan, dan memiliki dampak sosial.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diakses dan dipahami masyarakat. Kepenulisan populer menjadi salah satu jembatan penting agar gagasan akademik dapat memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan publik,” ujarnya.
Direktur Eksekutif P2KM UIN Jakarta, Dr. Deden Mauli Darajat, M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem literasi, riset, dan publikasi di lingkungan perguruan tinggi.
Ia menilai, kemampuan menulis merupakan kompetensi penting bagi akademisi, peneliti, maupun mahasiswa. Sebab, gagasan yang baik perlu didukung kemampuan menyusun narasi, mengolah data, serta menyampaikan pesan secara sistematis agar dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
“Melalui seminar ini, kami ingin mendorong lahirnya budaya menulis yang lebih kuat di lingkungan akademik. Penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai laporan atau dokumen ilmiah, tetapi perlu dikembangkan menjadi karya yang komunikatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, inisiator buku Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan, Budy Sugandi, Ph.D., menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari pemikiran mengenai panjangnya sejarah interaksi Indonesia dan Tiongkok yang telah terjalin melalui jalur perdagangan, kebudayaan, pendidikan, hingga hubungan antarmasyarakat.
Menurut Budy, hubungan kedua negara tidak semata-mata dapat dipahami melalui perspektif ekonomi dan politik kontemporer. Ada akar peradaban, pertukaran budaya, serta pengalaman historis yang menjadi fondasi penting dalam membangun kemitraan masa depan.
“Indonesia dan Tiongkok memiliki sejarah interaksi yang panjang. Hubungan ini tidak hanya berbicara tentang perdagangan atau kepentingan ekonomi, tetapi juga tentang perjumpaan peradaban, pertukaran pengetahuan, dan hubungan antarmanusia. Melalui buku ini, kami ingin menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif sekaligus mendorong generasi muda memahami diplomasi dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan,” jelas Budy.
Ia juga menekankan bahwa penulisan buku merupakan proses penting dalam mendokumentasikan pengetahuan dan membangun narasi sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, gagasan akademik yang tidak dituliskan berpotensi kehilangan momentum dan tidak berkembang menjadi pengetahuan publik. Karena itu, akademisi dan peneliti perlu memiliki keberanian untuk menulis, mengolah hasil penelitian, serta menghadirkan karya yang memiliki relevansi dengan dinamika masyarakat global.
Melalui kegiatan ini, peserta juga diajak memahami strategi mengembangkan gagasan penelitian menjadi tulisan populer, mulai dari menemukan sudut pandang, menyusun kerangka tulisan, mengolah referensi, hingga membangun narasi yang menarik dan mudah dipahami.
Buku Indonesia–Tiongkok: Dari Akar Peradaban Berbuah Kemitraan menjadi salah satu contoh bagaimana isu hubungan internasional dapat diangkat melalui pendekatan multidisipliner dengan memadukan perspektif sejarah, kebudayaan, komunikasi, dan diplomasi.
Penyelenggaraan seminar dan bedah buku ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan diskusi akademik, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat budaya riset dan kepenulisan di perguruan tinggi. Dengan demikian, kampus dapat terus berkontribusi dalam menghasilkan pengetahuan sekaligus membangun narasi yang mencerahkan masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) bersama Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan, dialog antarperadaban, dan diplomasi Indonesia di tingkat global.
























