Siaranindonesia.com, Muna, 22 September 2026 — Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Muna, Fedumu, S.TP., MP melakukan kunjungan dan menyerap aspirasi kelompok tani di wilayah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Dalam kunjungan tersebut, sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi petani terungkap, terutama kebutuhan infrastruktur irigasi dan jalan usaha tani.
Salah satu kebutuhan yang disampaikan petani adalah pembangunan atau peningkatan irigasi untuk Kelompok Tani Wanasari, Desa Wantiworo, Kecamatan Kabawo.
Bagi petani, keberadaan irigasi menjadi kebutuhan penting untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan sawah. Infrastruktur irigasi yang memadai diharapkan dapat memberikan kepastian bagi petani dalam mengelola lahan, menentukan pola tanam, serta meningkatkan produktivitas pertanian.
Selain persoalan irigasi, kelompok tani juga menyampaikan kebutuhan pembangunan dan peningkatan jalan usaha tani yang menjadi akses utama menuju lahan pertanian.
Di Desa Wantiworo, Kecamatan Kabawo, terdapat dua kelompok tani yang membutuhkan jalan usaha tani, yakni Kelompok Tani Wanasari sepanjang 1 kilometer dan Kelompok Tani Karya Tani sepanjang 1,5 kilometer.
Sementara di Desa Labulu-Bulu, Kecamatan Parigi, terdapat dua kelompok tani yang menyampaikan kebutuhan serupa, yakni Kelompok Tani Abadi sepanjang 1 kilometer dan Kelompok Tani Karya Baru sepanjang 1 kilometer.
Total kebutuhan jalan usaha tani yang disampaikan kelompok tani mencapai 4,5 kilometer.
Fedumu menyatakan bahwa aspirasi tersebut merupakan kebutuhan nyata petani yang perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah.
“Kami datang bukan hanya untuk melihat kondisi petani, tetapi juga mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dari kunjungan ini, persoalan irigasi dan jalan usaha tani menjadi aspirasi yang sangat penting untuk diperjuangkan,” ujar Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Muna.
Menurutnya, persoalan infrastruktur pertanian tidak boleh dipandang semata-mata sebagai pembangunan fisik. Infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan petani meningkatkan produksi dan memperbaiki kesejahteraan.
Jalan usaha tani, misalnya, sangat dibutuhkan untuk memperlancar mobilitas petani dan pengangkutan sarana produksi maupun hasil panen. Sementara irigasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Jalan ini sangat mendesak mengingat saat musim hujan, jalannya tidak bisa dilalui kendaraan sehingga biaya yang dikeluarkan petani lebih besar untuk membayar jasa pikul terutama saat panen dan itu bisa Rp. 25.000 per karung,” imbuhnya.
Hal yang sama terjadi pada irigasi. “Irigasi disini itu yang diperlukan adalah irigasi tersier (pembagi) sehingga sawah-sawah petani yang masuk di bagian belakang bisa teraliri dengan baik,” tegasnya.
“Harapan kami, aspirasi petani ini tidak berhenti sebagai catatan hasil kunjungan. Kami akan mendorong agar kebutuhan irigasi dan jalan usaha tani ini dapat disampaikan kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat sehingga ada tindak lanjut konkret di lapangan,” tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi dan survei lapangan agar kebutuhan yang disampaikan kelompok tani dapat dipastikan secara teknis dan dimasukkan ke dalam program pembangunan yang sesuai.
Menurutnya, petani pada dasarnya memiliki kemauan untuk meningkatkan produksi. Namun, kemauan tersebut perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai.
“Petani siap bekerja dan meningkatkan produksi. Yang mereka minta adalah dukungan pemerintah agar persoalan mendasar seperti air dan akses menuju lahan bisa diselesaikan. Kalau irigasi tersedia dan jalan usaha tani baik, tentu produktivitas dan efisiensi usaha tani akan semakin meningkat,” katanya.
Ketua Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Muna menegaskan, pihaknya akan terus melakukan kunjungan dan menyerap aspirasi petani di berbagai wilayah Muna. Aspirasi tersebut akan menjadi bahan perjuangan organisasi dalam mendorong kebijakan pertanian yang lebih berpihak pada kebutuhan nyata petani.
Ia berharap pembangunan pertanian di Muna tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan petani memperoleh dukungan infrastruktur, akses pasar, sarana produksi, teknologi, serta pendampingan yang memadai.
“Kita ingin petani Muna semakin produktif, tetapi untuk itu persoalan mereka harus dijawab secara nyata. Aspirasi dari Wantiworo dan Labulu-Bulu ini akan kami kawal agar mendapat perhatian pemerintah,” pungkasnya.
























