KENDARI, SiaranIndonesia.com — Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) akan menggelar Pekan Literasi AI Pemilu bertema “Pemilih Pemula di Era AI: Tantangan Komunikasi Politik Digital Menjelang Pemilu 2029”.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 17–18 September 2026 dengan menyasar delapan sekolah menengah atas dan kejuruan di Kota Kendari. Sekolah yang menjadi lokasi kegiatan masing-masing SMAN 1 Kendari, SMAN 7 Kendari, SMAN 8 Kendari, SMAN 9 Kendari, SMAN 10 Kendari, SMKN 1 Kendari, SMKN 3 Kendari, dan SMKN 4 Kendari.
Pekan Literasi AI Pemilu diinisiasi sebagai upaya mitigasi terhadap potensi ancaman penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam komunikasi politik menjelang Pemilu 2029, khususnya bagi pemilih pemula yang saat ini masih berstatus sebagai pelajar sekolah menengah.
Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya pemanfaatan AI dalam produksi dan distribusi informasi digital. Dalam pengalaman penyelenggaraan pemilu di sejumlah negara, termasuk Rumania dan Malta, teknologi AI dinilai dapat menghadirkan tantangan baru dalam penyebaran informasi politik, terutama melalui produksi konten yang berpotensi memunculkan disorder information atau gangguan informasi.
Konsep disorder information yang dikembangkan Claire Wardle mencakup tiga bentuk, yakni disinformasi, misinformasi, dan malinformasi.
Disinformasi merupakan informasi yang sengaja diproduksi dan disebarkan untuk menyesatkan, memengaruhi opini publik, atau mencapai tujuan tertentu, baik politik maupun ekonomi. Misinformasi merupakan informasi yang keliru, tetapi disebarkan tanpa adanya niat untuk merugikan pihak lain. Sementara itu, malinformasi merupakan informasi yang pada dasarnya benar, tetapi digunakan di luar konteks atau disebarkan dengan tujuan merugikan pihak tertentu.
Ancaman tersebut semakin kompleks karena distribusi informasi politik saat ini banyak berlangsung melalui media sosial. Generasi muda, termasuk pemilih pemula, merupakan salah satu kelompok yang intens menggunakan media sosial untuk memperoleh informasi, termasuk informasi mengenai politik dan pemilu.
Di sisi lain, platform media sosial kini memanfaatkan teknologi AI untuk memberikan pengalaman yang semakin personal kepada penggunanya. Personalisasi tersebut berpotensi membuat pengguna menerima informasi yang sesuai dengan pola minat dan perilaku digital mereka, sehingga dapat memperkuat fenomena filter bubble dan echo chamber.
Pakar internet Eli Pariser menjelaskan filter bubble sebagai kondisi yang muncul akibat personalisasi konten daring yang dapat mengisolasi pengguna secara intelektual serta mengurangi keragaman informasi yang mereka terima.
Sementara itu, echo chamber merujuk pada kondisi ketika individu lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan atau opini serupa. Situasi tersebut dapat menyebabkan penguatan keyakinan dalam lingkaran tertutup, sementara sudut pandang alternatif dianggap asing atau bahkan keliru.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jumlah pemilih pemula di Kota Kendari diproyeksikan terus bertambah menjelang Pemilu 2029.
Berdasarkan hasil rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026 yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari, tercatat adanya penambahan 350 pemilih pemula.
Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Politik, Irmawanti, mengatakan kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk mengambil peran sebagai agent of control dalam menghadapi perkembangan komunikasi politik digital.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami perkembangan teknologi AI, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mendorong terbentuknya pemilih pemula yang kritis dalam mengonsumsi informasi politik.
“Mahasiswa perlu mengambil peran dalam melakukan mitigasi terhadap kondisi tersebut, sehingga pemilih pemula mampu bersikap kritis dalam mencari dan menerima informasi politik,” ujar Irmawanti.
Melalui Pekan Literasi AI Pemilu, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UHO diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada calon pemilih pemula mengenai cara mengenali informasi yang menyesatkan, memahami mekanisme penyebaran informasi di media sosial, serta menyadari potensi dampak AI terhadap komunikasi politik digital.
Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan literasi digital pemilih pemula agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang dipersonalisasi secara berlebihan maupun dalam filter bubble dan echo chamber yang dapat membatasi keberagaman perspektif politik.
Dengan demikian, pemilih pemula diharapkan tidak hanya menjadi pengguna aktif media sosial, tetapi juga mampu menjadi pengguna informasi politik yang kritis, rasional, dan bertanggung jawab menjelang Pemilu 2029.
























