Jakarta, Siaran Indonesia – Nama Ridwan Hisjam bukan figur baru dalam panggung politik nasional. Lebih dari tiga dekade, politisi senior Partai Golkar itu konsisten berada di jalur kekuasaan sekaligus pergulatan ide-ide kebangsaan. Lima periode duduk di Senayan membuatnya menjadi saksi hidup dinamika politik Indonesia—dari era Orde Baru, reformasi, hingga konfigurasi politik pasca-pemilu langsung.
Ridwan Hisjam dikenal sebagai kader Golkar yang tidak sekadar hadir sebagai pengisi kursi parlemen. Dalam banyak momentum krusial, ia kerap tampil dengan pandangan yang lugas, bahkan kritis terhadap arah partainya sendiri. Baginya, Golkar bukan sekadar kendaraan politik, melainkan institusi historis yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas dan arah pembangunan nasional.
Dalam pusaran politik nasional yang kian pragmatis, Ridwan Hisjam tetap mempertahankan gaya politik lama yang kini mulai langka: kesetiaan pada ide, pengalaman lapangan, dan keberanian menyuarakan kritik dari dalam. Ia berulang kali mengingatkan bahwa partai besar seperti Golkar tidak boleh terjebak dalam politik jangka pendek, apalagi sekadar menjadi pelengkap kekuasaan.
Sikap itu terlihat dari konsistensinya berbicara soal regenerasi kepemimpinan, penguatan organisasi, hingga pentingnya kerja politik yang terstruktur dan menyentuh akar rumput. Ridwan menilai, kemenangan elektoral hanya akan bermakna jika dibarengi dengan kehadiran nyata partai di tengah rakyat—bukan sekadar baliho dan manuver elite.
Di tingkat nasional, Ridwan Hisjam juga kerap mengambil posisi sebagai penjaga keseimbangan. Ia tidak segan mendukung kebijakan pemerintah yang dinilainya pro-rakyat, namun tetap kritis ketika arah kebijakan dianggap menjauh dari semangat keadilan sosial dan kemandirian bangsa.
Dalam isu ekonomi politik, misalnya, ia konsisten mendorong penguatan industri nasional dan hilirisasi sebagai jalan keluar dari ketergantungan struktural.
Kini, di tengah kontestasi politik yang semakin terbuka dan cair, Ridwan Hisjam berada dalam pusaran yang berbeda. Ia bukan lagi politisi yang mengejar jabatan, melainkan figur senior yang memainkan peran sebagai pengingat sejarah, penjaga marwah partai, sekaligus penyambung antara generasi lama dan baru.
Dalam politik nasional yang sering bergerak cepat dan mudah lupa, keberadaan sosok seperti Ridwan Hisjam menjadi penting. Ia adalah representasi kontinuitas—bahwa politik bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi tentang konsistensi, keberanian bersikap, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.






















