Ngalap Barokah KH. Abu Dardiri: “Ulama Dermawan, Penulis Kitab Pessalatan Asal Kebumen”

- Editor

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wahyu NH. Aly
(Ketua Santri Mengabdi, Ketua Lakpesdam PCNU Kebumen 2018-2022)

Bulan Rajab, salah satu bulan mulia (ashurul hurum) dalam Islam. Alangkah baiknya di bulan ini menjadi momentum eling lan waspada. Menata batin, memperbanyak istighfar, dan mengenang jasa para ulama. Dalam suasana batin Rajab inilah, menghadirkan kembali sosok KH. Abu Dardiri menjadi ikhtiar ngalap barokah, menyambung ingatan, memetik hikmah, dan meneladani laku hidup ulama yang pengabdiannya terus mengalir lintas generasi.

Kebumen Patut Bersyukur

Kebumen patut bersyukur. Dari tanah Gombong lahir seorang ulama besar sekaligus tokoh bangsa, KH. Abu Dardiri (1895–1967). Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, mengingat ulama bukan sekadar kerja sejarah, melainkan ngalap barokah, mengambil hikmah dari kehidupan para shalihin agar nilai-nilai kebaikannya terus hidup dan menuntun perjalanan umat.

KH. Abu Dardiri adalah ayah dari Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, Bupati Kebumen periode 2016–2021, sekaligus mertua dari Hj. Lilis Nuryani, Bupati Kebumen saat ini. Namun kebesaran KH. Abu Dardiri tidak terletak pada silsilah, melainkan pada karya, kiprah, dan akhlak pengabdiannya. Karena itu, beliau adalah milik seluruh masyarakat Kebumen, warga NU, Muhammadiyah, dan semua elemen umat yang mencintai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang ramah, bijaksana, dan berkhidmah pada bangsa.

Menghadirkan kembali sosok KH. Abu Dardiri adalah bagian dari adab terhadap ulama. Mengutip yang disampaikan bapak proklamator Indonesia, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya, dan ulama adalah pilar penting dalam sejarah berdirinya negeri ini.

KH. Abu Dardiri, Ulama Ahlussunnah yang Tawassuth dan Tasamuh

KH. Abu Dardiri memperlihatkan watak ulama Nusantara yang tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Karyanya, Kitab Pesallatan, ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Jawa atau Carakan (Hanacaraka). Pilihan ini bukan semata teknis, melainkan cerminan kesadaran dakwah. Menurutnya, ilmu agama harus dekat dengan umat dan berpijak pada kearifan lokal.

Di dalam Kitab Pesallatan terdapat pembahasan doa qunut yang lazim dalam amaliah warga Nahdlatul Ulama (NU), lengkap dengan bacaan dan ilustrasi gerakan shalat. Ini menunjukkan kebijaksanaan KH. Abu Dardiri dalam berdakwah. Ia tidak memutus tradisi keagamaan umat secara serampangan, melainkan menempuh jalan dakwah yang bertahap, penuh hikmah, dan menenteramkan. Inilah jalan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang mengedepankan kemaslahatan, menjaga kerukunan jamaah, dan mendahulukan persatuan umat daripada memperlebar khilafiyah.

KH. Abu Dardiri, Inisiator Kementerian Agama

Sebagaimana diketahui, KH. Abu Dardiri merupakan pengusul berdirinya Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa beliau adalah ulama negarawan. Sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) pasca Proklamasi, ia memperjuangkan hadirnya kementerian khusus yang mengelola urusan agama secara adil dan bermartabat.

Yang diperjuangkan KH. Abu Dardiri bukan kepentingan satu ormas, melainkan kepentingan seluruh umat beragama. Kementerian Agama dirancang sebagai rumah bersama, seperti melayani Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, organisasi Islam lainnya, serta melindungi hak-hak pemeluk agama non-Islam. Inilah wujud khidmah ulama kepada negara, sejalan dengan prinsip NU: hubbul wathan minal iman.

Sosok Dermawan & Kiprah Organisasi

KH. Abu Dardiri juga dikenal sebagai ulama sekaligus pengusaha yang dermawan. Hartanya dijadikan sarana amal jariyah dan khidmah. Masjid, sekolah, gedung organisasi, dan lembaga pendidikan berdiri berkat dukungan dan kedermawanannya.

Ia terlibat dalam pembangunan Masjid 17 Purwokerto, membantu pembelian gedung organisasi, serta berperan penting dalam berdirinya IKIP Muhammadiyah Purwokerto yang kini berkembang menjadi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Semua dilakukan tanpa riya’, tanpa pamrih, dan tanpa mengikat. Inilah teladan akhlak sosial ulama. Memberi tanpa menundukkan.

Dalam Muhammadiyah, KH. Abu Dardiri mengemban amanah sebagai Konsul Banyumas selama puluhan tahun. Kepemimpinannya dikenal meneduhkan dan menjadikan amal usaha sebagai jalan dakwah. Hal tersebut juga menegaskan, kepemimpinannya sarat etos tawazun, tasamuh, dan i‘tidal.

Ngalap Barokah untuk Kebumen

Ngalap barokah dari KH. Abu Dardiri bukanlah mengkultuskan, melainkan meneladani. Meneladani keilmuannya yang membumi, sikap keagamaannya yang moderat, keberanian kebangsaannya, kedermawanannya yang ikhlas, serta komitmennya menjaga persatuan.

Jika nilai-nilai ini dirawat bersama oleh warga NU, Muhammadiyah, dan seluruh masyarakat Kebumen, maka ngalap barokah dari KH. Abu Dardiri akan menjelma menjadi energi sosial. Energi yang menuntun Kebumen menjadi daerah yang sejahtera, guyub, rukun dalam perbedaan, kuat dalam persatuan, matang dalam kehidupan keagamaan, dan beradab dalam kehidupan kebangsaan.

Semoga kita semua diberi taufik untuk meneladani para ulama, dan semoga barokah KH. Abu Dardiri mengalir bagi Kebumen dan Indonesia. Amin Ya Rabbal Alamin.

Alfatihah KH. Abu Dardiri

Mari bersama membaca Alfatihah. Meraih berkah KH. Abu Dardiri sebagai ulama dengan tipologi yang jauh dari watak feodal dan elitis. Ia tidak membangun otoritas keagamaan melalui trah, patronase, atau pengumpulan loyalitas personal, melainkan melalui ilmu yang diamalkan, kerja yang nyata, dan pengabdian.

Kepemimpinannya tidak bertumpu pada penguasaan simbol atau struktur keluarga, tetapi pada kepercayaan umat yang tumbuh secara alami. Dalam dirinya, keulamaan hadir sebagai khidmah, bukan dominasi; sebagai teladan, bukan kekuasaan. Inilah wajah ulama yang membebaskan umat, menguatkan tanpa mengikat, memimpin tanpa menundukkan, dan dihormati bukan karena garis darah, tetapi karena akhlak dan manfaatnya.

Wallahu a’lam bis sawab wa bi muradih

Komentar Facebook

Berita Terkait

Energi, Informasi, dan Entropi: Mengapa Sistem Bisa Gagal Meski Sumber Dayanya Cukup
Meluruskan Narasi 8 Tuntutan Aksi Mahasiswa: Komitmen Penuh Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Emas yang Berkeadilan dan Merakyat
Meneladani Rasulullah dalam Melayani Depok: Dari Iman, Islam, hingga Ihsan
Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat
Wujudkan Pembangunan Adil: Prabowo Buka Jalur Raksasa Sumatra-Kalimantan
Berbagai Capaian Keberhasilan Pemerintah Sebagai Kado Rakyat di HUT RI Ke 81
Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan
Menjaga Kepercayaan Masyarakat

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 20:49 WIB

TMI Sultra: Sinergi HKTI dan Pemprov Bisa Jadikan Sultra Lumbung Pangan Nasional

Jumat, 11 September 2026 - 12:48 WIB

Wapres Gibran Tinjau Karhutla Kalbar, Menhut Raja Antoni Dampingi

Jumat, 11 September 2026 - 09:21 WIB

4,4 Juta Pelaku Retail dan e-Commerce Dorong Kebutuhan Produk dan Supplier Baru, Global Sources Indonesia Kembali Hadir di JICC Senayan

Jumat, 11 September 2026 - 02:41 WIB

Taruna Ikrar: Regulasi Pangan Harus Lindungi Konsumen Tanpa Menghambat Inovasi

Kamis, 10 September 2026 - 08:35 WIB

Pengurus Nasional dan DKI Jakarta BMI Hadir Dan Ramaikan Puncak HUT ke-25 Partai Demokrat Di GBK

Rabu, 9 September 2026 - 20:24 WIB

KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa, Rumuskan Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah

Rabu, 9 September 2026 - 18:41 WIB

Cegah Karhutla Berdampak ke Satwa, Menhut Raja Antoni Perkuat Gerak Cepat Rescue

Rabu, 9 September 2026 - 18:16 WIB

Penegakan Hukum Karhutla, Menhut Raja Antoni Segel Lokasi di Lapangan

Berita Terbaru

Headline

Mulai Langkahmu di Industri Kreatif Bersama DD School

Jumat, 11 Sep 2026 - 21:36 WIB