Pemulihan Ekosistem Mendesak: PPASDA Peringatkan Bencana Hidrometeorologi Akan Terus Berulang

- Editor

Minggu, 30 November 2025 - 19:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siaranindonesia.com, Jakarta – Pusat Pengkajian Agraria dan Sumber Daya Alam (PPASDA) menyampaikan duka cita mendalam atas banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Kami menyampaikan keprihatinan atas bencana di beberapa Kabupaten/Kota di 3 provinsi itu. Pemerintah pusat harus mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mempercepat penanganan warga terdampak, pencarian korban hilang, dan membuka akses jalan untuk mempercepat pendistribusian bantuan,” kata Direktur Eksekutif PPASDA, Irvan Mahmud, Minggu (30/11/2025).

Menurut Irvan, bencana di Sumatera bukan semata disebapkan curah hujan tinggi hingga ekstrim, kondisi geomorfologi yang curam, atau litologi yang lapuk. Kita harus jujur dan menyudahi mencari alasan pembenar, penyebap utama parahnya banjir dan longsor karena rusaknya lingkungan akibat maraknya pembabatan hutan dan industri ekstraktif.

“Akumulasi inilah yang menjadikan tutupan lahan berubah, kapasitas daya tampung menurun, hingga perubahan bentuk sungai: menyempit dan dangkal sehingga banjir dan longsor sangat parah,” ungkap Irvan.

Ia menilai dalam bencana seperti ini, lagi dan lagi meninggalkan luka yang dalam, buka hanya kerusakan materil seperi rumah yang hanyut, atau jaringan Listrik yang padam, telekomunikasi terputus, tetapi nyawa manusia-anak kecil tak berdosa pun menjadi korbannya.

Nyawa manusia itu bukan soal angka, satu nyawa saja itu adalah tragedi. Apalagi koran meninggal sudah 303 orang dan 279 orang hilang (hampir pasti meninggal) seperti dipublis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sabtu (29/11/2025).

Keterangan pemerintah dengan menyebut cuaca ekstrim sebagai penyebap utama banjir dan longsor kembali mempertegas posisi negara dalam melihat bencana di Sumatera.

PPASDA menggarisbawahi kerusakan hutan, alih fungsi lahan terutama menjadi tanaman monokultur seperti sawit, dan kegiatan pertambangan ilegal sehingga hujan yang turun tidak terserap lagi kedalam tanah, menyebabkan peningkatan aliran permukaan yang jauh lebih besar.

Ia menambahkan, dari citra satelit terlihat jelas tutupan vegetasi alami seperti hutan makin berkurang padahal kemampuan serapan air dari pohon yang heterogen jauh lebih tinggi dibandingkan perkebunan monokultur, atau area terbuka tanpa vegetasi.

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai berupa air bah dan longsor,” ujarnya.

PPASDA mendesak Satgas Penerbitan Kawasan Hutan (PKH) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh disemua wilayah terdampak untuk memastikan siapa dibalik pembalakan liar, tambang illegal, dan alih fungsi lahan. “Satgas ini diisi oleh semua pihak yang berwenang untuk melakukan investigasi menyeluruh, dan publik sangat menunggu itu,” imbuhnya.

Irvan meminta siapapun pihka-pihak yang terbukti melakukan aktivitas illegal harus ditindak sesuai ketentuan perundang-undangan. “Kalau ini tidak dilakukan, kejadian seperti ini akan terus berulang, bahkan dengan dampak yang jauh lebih besar di masa mendatang. Termasuk moratorium untuk sawit dan tambang di wilayah terdampak,” tegasnya.

“Evaluasi menyeluruh dan moratorium mendesak dilakukan karena tanpa lingkungan yang lestari, kehidupan di bumi menjadi tidak berkelanjutan-bencana hidrometereologi pasti terjadi. Deforestasi, kenaikan suhu, dan kekurangan air merupakan akibat dari perencanaan pembangunan tanpa memperhatikan lingkungan. Masa depan yang berkelanjutan mengharuskan kita untuk memulihkan ekosistem – termasuk konservasi satwa liar,” pungkasnya.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Tembok Ambruk Bongkar Borok PT IKN: Setahun Beroperasi Tanpa Dokumen, DLH Banyumas Sebut Berkas Tak Pernah Masuk
Bedah Buku di UIN Jakarta, Budy Sugandi Ulas Kemitraan Strategis Indonesia–Tiongkok
Puspoll Indonesia Apresiasi Kapolri Usut Kasus Penyadapan, Minta Motif dan Aktor di Baliknya Diungkap
Ahli Waris Persoalkan Uang Rp2,28 Miliar Diatasnamakan Tagihan Pajak Penghasilan, Inisial AK Staf Protokol Kemenko PMK Dilaporkan ke Polisi
Pertamina NRE Gandeng Agrinas dan SGN Akselerasi Pengembangan Bioenergi Nasional
Larangan Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Garuda Institute: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional
Pertemuan Hangat Dua Tokoh Nasional, Taruna Ikrar dan Jenderal Suyudi Bahas Narkotika hingga Keamanan Pangan
PT Solusi Baitullah Indonesia dan Intan Travel Perkuat Sinergi, Hadirkan Beragam Program Umrah

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 11:37 WIB

Warga Iran Bikin ‘Perisai Manusia’ di Pembangkit Listrik Hadapi Ancaman Trump

Selasa, 10 Maret 2026 - 08:07 WIB

Empat Mahasiswi Indonesia di Yordania Diduga Jadi Korban Pelecehan oleh Senior

Senin, 2 Maret 2026 - 20:59 WIB

Situs Iran, IRNA Down

Senin, 2 Maret 2026 - 18:42 WIB

Ramadhan, Pengkhianatan, Rudal: Catatan Hubungan Iran – Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 - 23:11 WIB

Jutaan Warga Iran Turun ke Jalan Usai Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:24 WIB

Prabowo Sapa Anak-Anak Indonesia di Jeddah, Titip Pesan: Belajar yang Baik

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:15 WIB

Prabowo Tiba di Jeddah, Disambut Pejabat Arab Saudi dan Diaspora Indonesia

Jumat, 4 Juli 2025 - 13:45 WIB

Ikuti Kebutuhan Pasar, UMKM Kuliner Binaan BRI Sukses Ekspansi Pasar Internasional

Berita Terbaru