Jernih Melihat Hilirisasi di Tengah Propaganda Konservatif Ekologi

- Editor

Sabtu, 14 Juni 2025 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

Tak sekali duakali Presiden Prabowo melontarkan kekuatan asing dalam mengintervensi setiap kebijakan besar bangsa Indonesia. Pernyataan ini lebih tebal terhadap isu-isu yang berkenaan dengan sumber kekayaan alam Indonesia yang melimpah, tetapi di sisi yang lain, tak pernak dinikmati oleh bangsa dan rakyat Indonesia sendiri.

Pada tahun 2024, ekspor Indonesia memang mengalami penurunan sebesar 2.24% dibanding November 2024 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 3.36%, sedangkan ekspor migas naik 17.12%. Meskipun jika dibandingkan November 2024, ekspor justru mengalami kenaikan mencapai 4.78%.

Dan secara kumulatif, menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor migas dan nonmigas periode Januari – Desember 2024 naik. masing-masing mengalami kenaikan dibandingkan periode 2023.

Data ini menjelaskan bahwa kekayaan Indonesia sangat besar. Sektor migas dan nonmigas melimpah. Sayangnya, kita dihadapkan pada lemahnya pengelolaan secara mandiri yang mengakibatkan Indonesia hanya menikmati sebagian kecil, sementara bangsa besar lainnya seperti Eropa yang justru banyak mengambil keuntungan.

Hal yang tidak kasat mata ini, kemudian ditutupi dengan narasi-narasi miring seperti dampak lingkungan dan seterusnya. Baik menggunakan teknologi terkini dengan memperlihatkan hutan gundul dan sebagainya. Padahal pengelolaan secara mandiri seperti konsep hilirisasi tak banyak yang tahu, sebagaimana gencar dilakukan oleh pemerintah masa sekarang. Hal ini berlaku juga dalam sektor pertambangan yang belakangan ini menjadi sorotan publik, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga luar negeri.

Sudah saatnya kita membuka mata: narasi anti-tambang yang terus digaungkan oleh segelintir kelompok konservatif ternyata tak sepenuhnya lahir dari kepedulian terhadap lingkungan. Di balik bendera ‘konservasi’, ada kepentingan global yang sedang bermain—terutama dari negara-negara Eropa yang merasa terganggu dengan kebangkitan Indonesia sebagai penguasa nikel dunia.

Nikel bukan sekadar mineral. Ini adalah kunci masa depan. Dari baterai mobil listrik hingga teknologi bersih, nikel menentukan arah industri global. Ketika Indonesia memilih untuk mengolah nikelnya sendiri, membangun smelter, dan mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok dunia—justru saat itulah tekanan datang dari berbagai arah.

Kelompok konservatif di dalam negeri menjadi corong yang, sadar atau tidak, menyuarakan kekhawatiran yang selaras dengan negara-negara industri lama yang ingin tetap bergantung pada bahan mentah murah dari dunia selatan. Mereka menolak hilirisasi, menentang pembangunan, dan menciptakan citra buruk atas industri nasional—padahal inilah peluang sejarah kita untuk keluar dari kutukan negara pengekspor bahan mentah.

Kita tentu mendukung kelestarian lingkungan. Tapi kita juga tak boleh naif. Di tengah persaingan geopolitik hari ini, kemandirian ekonomi Indonesia adalah mimpi buruk bagi mereka yang selama ini menguasai industri dunia. Maka mari bedakan antara kritik konstruktif dan propaganda destruktif. Jangan sampai kita terjebak menjadi pion dari skenario asing yang tak ingin bangsa ini berdaulat atas sumber dayanya sendiri.

Kita patut bertanya, sampai kapan kita menasbihkan diri sebagai negara pengekspor? Sementara negara lain yang menikmati kekayaan besar bangsa Indonesia dengan cara memukul mundur pembangun dan hilirasi yang menguntungkan bangsa sendiri?

Komentar Facebook

Berita Terkait

Dari Kota Depok untuk Nusantara: Gerakan Mengaji Gratis yang Mengubah Masa Depan Generasi
Kisah di Balik Nama Somalangu: Hasrat Legitimasi, Sejarah, dan Bahasa
REFLEKSI PASKAH 20 APRIL 2025
Laporan Best Practice Bimbingan Klasikal Memilih Sekolah Lanjutan Setelah SMP
Presiden Soekarno dan Kentang Mustofa Penyambut Jemaah Haji 2023
Menelisik Agenda Terselubung Dibalik Kampanye Tolak Politik Identitas
Manfaat Lidah Buaya Bisa Menurunkan Kolesterol Hingga Darah Tinggi
Kepribadian Zodiak Aries

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 20:49 WIB

TMI Sultra: Sinergi HKTI dan Pemprov Bisa Jadikan Sultra Lumbung Pangan Nasional

Jumat, 11 September 2026 - 12:48 WIB

Wapres Gibran Tinjau Karhutla Kalbar, Menhut Raja Antoni Dampingi

Jumat, 11 September 2026 - 09:21 WIB

4,4 Juta Pelaku Retail dan e-Commerce Dorong Kebutuhan Produk dan Supplier Baru, Global Sources Indonesia Kembali Hadir di JICC Senayan

Jumat, 11 September 2026 - 02:41 WIB

Taruna Ikrar: Regulasi Pangan Harus Lindungi Konsumen Tanpa Menghambat Inovasi

Kamis, 10 September 2026 - 08:35 WIB

Pengurus Nasional dan DKI Jakarta BMI Hadir Dan Ramaikan Puncak HUT ke-25 Partai Demokrat Di GBK

Rabu, 9 September 2026 - 20:24 WIB

KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa, Rumuskan Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah

Rabu, 9 September 2026 - 18:41 WIB

Cegah Karhutla Berdampak ke Satwa, Menhut Raja Antoni Perkuat Gerak Cepat Rescue

Rabu, 9 September 2026 - 18:16 WIB

Penegakan Hukum Karhutla, Menhut Raja Antoni Segel Lokasi di Lapangan

Berita Terbaru

Headline

Mulai Langkahmu di Industri Kreatif Bersama DD School

Jumat, 11 Sep 2026 - 21:36 WIB