Ketika ثُمَّ ضَعُوا Bertemu “Soma” Jawa
Pasca reformasi, muncul penafsiran baru atas nama Somalangu. Sejak 2000an, muncul klaim bahwa “Somalangu” berasal dari frasa Arab ثُمَّ ضَعُوا (tsumma dha‘u), yang ditafsirkan sebagai “silakan menempati” atau “kemudian letakkanlah.” Klaim ini bahkan dikaitkan dengan narasi titah Raden Patah kepada tokoh yang disebut sebagai Abdul Kahfi I, sosok yang pasca reformasi penuh kontroversi historiografis.
Ketika klaim tersebut diuji melalui lensa linguistik dan sejarah, pertanyaan mendasar pun muncul: apa sebenarnya makna Somalangu? Dan apa arti “Soma” dalam deretan nama-nama serupa di Jawa?
Apa Arti “Somalangu”?
Secara morfologis, nama “Somalangu” dapat diurai menjadi dua unsur, Soma dan Langu:
- Soma
Dalam tradisi Sanskerta dan Jawa Kuno, Soma berarti:
- Dewa bulan dalam kosmologi Weda
- Minuman suci ritual
- Simbol cahaya dan kesuburan
- Dalam kalender Jawa: hari Senin (dari Soma-vāra)
Dalam konteks toponimi Jawa, “Soma” kemungkinan besar menunjuk pada simbol kosmologis atau penanda hari pasaran/penanggalan ketika suatu tempat dibuka.
- Langu
Dalam bahasa Jawa Kuno dan Jawa modern, langu memiliki makna:
- Harum atau wangi lembut (berbeda dengan wangi sekedar wangi, wanyinya itu lembut)
- Indah atau memikat
- Dalam beberapa konteks lama: kesan halus dan mempesona
Jika kedua unsur digabungkan secara semantik Jawa, maka Somalangu dapat dimaknai sebagai “keindahan yang bercahaya seperti bulan” atau “harumnya cahaya Soma” atau “desa yang keindahannya bagai cahaya lembut rembulan”. Makna ini bersifat kosmologis dan puitik, ciri khas penamaan era Jawa Kuno yang banyak menggunakan simbol alam dan metafora keindahan.
Jejak “Soma” yang Lebih Luas dari Satu Tempat
Somalangu bukan satu-satunya nama dengan unsur “Soma.” Unsur ini banyak tersebar di Nusantara, khususnya di Jawa Tengah selatan dan Jawa Timur, unsur ini muncul berulang seperti Somagede (Banyumas), Somawangi, Somokerto, Somorejo, Somodaran, Somoroto (Ponorogo), Somongari (Purworejo), Somakaton, Somodadi. Mari kita lihat kemungkinan makna masing-masing berdasarkan unsur Jawa yang mengikutinya:
- Somagede → “Soma yang besar” (gede = besar)
- Somawangi → “Soma yang harum” (wangi = harum)
- Somokerto → “Soma yang makmur” (kerta/kerto dari Sanskerta kṛta = sejahtera)
- Somorejo → “Soma yang ramai/subur” (rejo = ramai, makmur)
- Somodadi → “Soma yang menjadi/terjadi” (dadi = menjadi)
- Somoroto → kemungkinan terkait rata/rata atau bentuk fonetik lokal
- Somongari → dapat terkait dengan unsur kuno tertentu (masih memerlukan kajian filologis lanjut)
- Somakaton → bisa berkaitan dengan katon (terlihat)
Polanya konsisten: Soma + unsur Jawa/Sanskerta lokal. Ini menunjukkan bahwa “Soma” adalah elemen sistemik dalam tradisi penamaan Jawa, bukan pengecualian tunggal.
Menguji Klaim Tsuma Dha’u (ثُمَّ ضَعُوا)
Frasa Arab yang diklaim sebagai asal-usul Somalangu adalah:
- ثُمَّ (tsumma) = kemudian
- ضَعُوا (dha‘u) = letakkanlah (kalian)
Secara tata bahasa Arab, frasa ini berarti:
“Kemudian letakkanlah.”
Ia bukan ungkapan untuk mempersilakan tinggal. Untuk makna tersebut, bahasa Arab menggunakan:
- اسكنوا هنا (tinggallah di sini)
- تفضلوا بالإقامة (silakan menetap)
Selain problem makna, transformasi fonetiknya juga bermasalah:
- Hilangnya konsonan emphatik “ḍ”
- Hilangnya struktur dua kata
- Munculnya unsur “-langu” tanpa akar Arab
- Tidak ada jejak transisi bunyi historis
Dalam sejarah adaptasi Arab ke Jawa, pola perubahan relatif dapat dilacak:
- ṣalāt → salat
- zakāt → zakat
- ḥikmah → hikmah
Tidak ada preseden frasa dua kata Arab berubah menjadi bentuk komposit Jawa dengan tambahan unsur lokal yang sepenuhnya baru.
Nama sebagai Arsip Peradaban
Toponim adalah fosil bahasa. Ia menyimpan lapisan budaya yang lebih tua daripada narasi politik mana pun. Jawa adalah palimpsest sejarah: Hindu-Buddha, Islam, dan tradisi lokal saling bertumpuk. Islamisasi tidak selalu mengganti nama lama; sering kali ia berdiri di atasnya.
Dalam konteks itu, Somalangu jauh lebih masuk akal dipahami sebagai produk lapisan budaya Jawa kuno dengan pengaruh Sanskerta, bukan hasil langsung dari frasa Arab.
Antara Keyakinan dan Bukti
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar “benar atau salah,” melainkan: “Apa motivasi munculnya klaim etimologi Arab Tsumma Dha’u tersebut?“
Dalam banyak komunitas, muncul dorongan untuk mengaitkan identitas lokal dengan bahasa suci sebagai bentuk legitimasi simbolik. Ini fenomena universal yang dikenal sebagai folk etymology, yang tentunya menuntut untuk siap diuji oleh:
- Kritik sumber
- Analisis linguistik
- Konsistensi regional
- Bukti dokumenter
Sejauh ini, secara ilmiah, “Somalangu” lebih kuat dijelaskan melalui akar Soma dalam tradisi Sanskerta-Jawa Kuno daripada melalui frasa yang muncul pasca reformasi Tsuma Dhau, ثُمَّ ضَعُوا.
Dengan demikian, di tanah Jawa, nama bukan sekadar bunyi. Ia adalah memori panjang yang tertanam dalam bahasa. Somalangu kemungkinan berarti keindahan bercahaya, harum yang kosmologis—jejak bulan dalam lanskap Jawa kuno. Sementara klaim “tsumma dha‘u” lebih mencerminkan upaya reinterpretasi pasca reformasi daripada realitas filologis.
Sejarah membutuhkan lebih dari keyakinan. Ia membutuhkan bukti. Dan dalam arsip sunyi bernama toponimi, bunyi sering kali lebih jujur daripada cerita yang datang kemudian. Sumber: CBC News | CBC Indonesia
DOWNLOAD: Buku Hoaks PP. Alkahfi Somalangu























