Oleh: Ahmad Irawan, Politisi Muda Partai Golkar, Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar 2024-2029
Dalam setiap kesempatan dan di dalam berbagai kegiatan besar Partai Golkar, Bahlil Lahadalia (Bang Bahlil), Ketua Umum Partai Golkar tidak pernah malu dan selalu mengakui kekalahannya dalam pemilihan Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Jadi, cerita Bang Bahlil di berbagai kesempatan tersebut dikemas menjadi cerita kekalahan tanpa apologia. Semua dipidatokan secara autentik.
Namun, cerita Bang Bahlil bukanlah sebatas cerita pendek tentang kekalahannya dalam pemilihan Ketua Umum AMPI. Ada perjuangan panjang yang telah terlewati dengan suka dukanya. Semuanya diraih tanpa privilage. Mulai dari memimpin pengusaha muda Indonesia yang berhimpun di HIPMI sebagai Ketua Umum, hingga menjadi pembantu Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo serta memimpin Partai Golkar (Golongan Karya) juga sebagai Ketua Umum.
Cerita Bang Bahlil sering kami diskusikan. Saya sering menggali cerita tentang Bang Bahlil dari Bang Syahmud. Keduanya punya hubungan yang panjang dan menarik dengan segala suka dukanya. Saya bisa menangkap rasa sayang dan penghormatannya ke Bang Bahlil.
Kepada Mas Shoim Haris yang selalu punya analisas politik yang menarik saya juga sering bertanya tentang penilaiannya mengenai Bang Bahlil. Singkatnya Mas Shoim juga menyatakan kekagumannya ke Bang Bahlil karena yang dicapai Bang Bahlil melewati proses yang relatif cepat sejak perkenalan awalnya dan memiliki daya tahan yang kuat dengan pemahaman lapangan yang mumpuni mengenai politik Indonesia. Itu semua bisa dimiliki karena karir politiknya yang dibangun dari bawah.
Dari cerita keduanya dan keyakinan saya, mungkin kita akan kesulitan untuk menemukan Bang Bahlil yang lain atau Bang Bahlil yang baru. Dia yang muda, perjuangannya dari bawah dan tanpa privilage, pikiran, langkah dan kebijakannya yang diperbincangkan karena sering tidak terduga dan ada elemen pembaharuan, tidak “kehabisan nafas” setelah kekalahannya di AMPI, konsistensinya mengenai komitmen AMPI mengenai pembahruan, pembangunan dan kerakyatan yang manusiawi, kehadirannya selalu autentik dan nilai serta komitmen politiknya yang teguh dan utuh.
Bagi mereka yang mendefinisikan dirinya sebagai angkatan muda di Partai Golkar, kita tidak harus sama dengan Bang Bahlil. Semua anak muda Partai Golkar tentu memiliki latar belakang, perjalanan dan pencapaian hidup masing-masing. Namun, Bang Bahlil harus dan bisa menjadi role model karena tekad dan prestasinya.
Selanjutnya, mengenai Kerakyatan Yang Manusiawi. Anak muda Golkar dan AMPI pasti dan harus tahu bahwa itu adalah salah satu komitmen setiap kader selain komitmen pembaharuan dan pembangunan.
Apa itu Kerakyatan Yang Manusiawi? Saya memahami komitmen tersebut lahir dari 2 (dua) konsep besar keindonesiaan, yaitu kerakyatan (demokrasi) dan kemanusiaan itu sendiri (humanisme). Secara sederhana dan singkat, konsep ini menegaskan kekuasaan yang bersumber dari rakyat harus bisa memanusiakan manusia. Jadi ada nilai penghormatan terhadap suara rakyat. Oleh karena itu setiap kebijakan politik yang diambil dan diputus harus dibuat berdasarkan empati terhadap kesulitan hidup yang dihadapi rakyat. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk operasionalisasi nilai demokrasi yang memanusiakan manusia.
Sedangkan dalam perspektiaf keadilan dan kesejahteraan sosial, politik harus bisa memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti hak atas pangan, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan dan hak atas pekerjaan yang layak.
Komitmen Kerakyatan Yang Manusiawi tersebut juga selaras dengan Pancasila yang meleburkan antaran kemanusiaan yang adil dan beradab dan kerakyatan yang dipimpin dalam hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Ketika kekuasaan rakyat dijalankan dengan jiwa kemanusiaan, maka politik tidak akan menjadi kejam, melainkan menjadi alat untuk kesejahteraan bersama. Suatu sikap dan nilai yang juga sering dipidatokan Bang Bahlil dalam berbagai kesempatan.
Sehingga ketika Bang Bahlil menyampaikan tidak akan ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena akan memberikan dampak signifikan terhadap rakyat, itu adalah bagian dan bentuk komitmennya terhadap nilai Kerakyatan Yang Manusiawi. Begitu juga ketika menyampaikan sikap dan kebijakan politik Partai Golkar yang harus memiliki empati terhadap rakyat itu adalah nilai dan komitmen yang difahaminya sejak muda di AMPI.
Jadi pada akhirnya, kenapa Bang Bahlil bisa hebat seperti sekarang? Singkatnya karena keteguhannya dalam memegang komitmen yang difahaminya dan hidupnya yang selalu autentik.
























