Dari Ujian Menuju Pertolongan: Pesan Gus Idror tentang Luasnya Rahmat Allah

- Editor

Minggu, 8 November 2026 - 15:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KH Muhammad Idror Maimoen (Gus Idror) saat menyampaikan tausiyah dalam kegiatan Ngaji Bareng Majelis Dzikir dan Sholawat di Jakarta.

KH Muhammad Idror Maimoen (Gus Idror) saat menyampaikan tausiyah dalam kegiatan Ngaji Bareng Majelis Dzikir dan Sholawat di Jakarta.

Siaranindonesia.com, Jakarta – KH Muhammad Idror Maimoen atau Gus Idror mengajak umat Islam untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT, sekalipun tengah menghadapi ujian dan kesulitan hidup. Menurut dia, di balik setiap cobaan, Allah dapat menghadirkan kelembutan, hikmah, dan jalan kebaikan yang terkadang tidak langsung disadari manusia.

Pesan tersebut disampaikan Gus Idror dalam _Ngaji Bareng_ Majlis Dizkir dan Sholawat di kediaman Wakil Sekjen PBNU Moh Arwani Thomafi di Bilangan Kalibata, Jakarta. Di hadapan jamaah, Gus Idror menjelaskan bahwa ujian tidak selalu bermakna kesengsaraan. Dalam banyak keadaan, kesulitan justru dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk merenung, memperbaiki diri, dan melangkah lebih jauh.

Ia menggambarkan, terkadang manusia perlu mengalami kemunduran sementara untuk memperoleh kemajuan yang lebih besar. Ada kalanya seseorang merasa tidak nyaman dengan keadaan yang dihadapinya, tetapi dari situ justru lahir kesadaran dan kekuatan untuk bangkit.

“Kadang kita harus mundur satu langkah untuk maju seribu langkah. Itulah kelembutan Allah yang diberikan dalam bingkai ujian,” ujar Gus Idror di Jakarta, kemarin.

Ia kemudian mengingatkan bahwa besarnya rahmat Allah tidak boleh diukur hanya dari keadaan baik yang sedang dialami manusia. Bahkan ketika seseorang berada dalam situasi sulit, kasih sayang dan pertolongan Allah tetap terbuka. Karena itu, keputusasaan tidak boleh menjadi sikap seorang mukmin.

Gus Idror mengaitkan pesan tersebut dengan ajaran Al-Qur’an, khususnya Surah Az-Zumar ayat 53, yang mengingatkan manusia agar tidak berputus asa dari rahmat Allah. Menurutnya, keyakinan terhadap keluasan rahmat Allah harus menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika menghadapi persoalan yang terasa berat.

Dalam ceramahnya, Gus Idror juga mengutip sebuah ungkapan hikmah tentang ujian yang dapat menjadi jalan menuju terbukanya pertolongan. Ia mengajak jamaah untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kesulitan merupakan akhir dari segalanya. Sebaliknya, manusia perlu menjaga harapan, memperkuat doa, dan terus melakukan ikhtiar.

“Rahmat Allah begitu luas. Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT,” tuturnya.

Gus Idror selanjutnya menjelaskan bahwa rahmat Allah tidak hanya bermakna kasih sayang, tetapi juga pemberian dan karunia yang tidak terbatas. Manusia, kata dia, perlu melakukan ikhtiar, meskipun terkadang langkah yang dilakukan terlihat sederhana. Kesungguhan kecil yang disertai doa dan keyakinan dapat menjadi jalan datangnya pertolongan Allah.

Untuk menjelaskan hal tersebut, ia mengisahkan sejumlah mukjizat Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah peristiwa ketika air memancar dari sela-sela jari Rasulullah sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak orang. Ia juga menceritakan kisah ketika persediaan makanan kaum Muslimin dalam suatu perjalanan sangat terbatas.

Dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW tidak hanya berdoa, tetapi juga meminta para sahabat mengumpulkan sisa-sisa makanan yang mereka miliki. Setelah terkumpul, makanan itu didoakan dan kemudian dibagikan. Dengan izin Allah, makanan yang semula sedikit dapat mencukupi kebutuhan banyak orang.

Bagi Gus Idror, kisah tersebut mengandung pelajaran penting bahwa doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan. Manusia tidak cukup hanya menunggu pertolongan, tetapi perlu melakukan sesuatu sesuai kemampuan yang dimiliki. Dari langkah-langkah sederhana itulah, dengan izin Allah, kebaikan yang lebih besar dapat hadir.

Ia juga mengajak jamaah untuk membiasakan diri menghadiri majelis ilmu, membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta berkumpul bersama orang-orang saleh. Amalan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah dan menjemput rahmat-Nya.

“Sesungguhnya Allah memiliki rahmat dan karunia yang dapat diberikan kepada hamba-Nya. Karena itu, datanglah ke majelis, bacalah sholawat, dan berkumpullah bersama orang-orang saleh. Kita perlu melakukan ikhtiar, meskipun sedikit,” kata Gus Idror.

Dalam bagian lain ceramahnya, Gus Idror menyampaikan kisah tentang seekor katak yang berusaha memadamkan api ketika Nabi Ibrahim AS hendak dibakar. Meski kemampuan katak itu sangat terbatas, kisah tersebut mengandung pesan tentang pentingnya kemauan untuk berbuat baik. Nilai sebuah ikhtiar tidak semata-mata diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi juga dari kesungguhan dan niat di baliknya.

Ia kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan perjalanan bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia, menurutnya, juga tidak terlepas dari ikhtiar dan doa para ulama serta tokoh bangsa. Hal itu menjadi pengingat bahwa usaha yang dilakukan oleh sebagian orang, meskipun terlihat kecil, dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan bersama.

Menutup ceramahnya, Gus Idror kembali menegaskan bahwa manusia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Ikhtiar tetap harus dilakukan, tetapi keyakinan terhadap rahmat Allah harus jauh lebih besar daripada rasa takut dan keputusasaan dalam menghadapi kehidupan.

“Usaha kita mungkin tidak luar biasa, tetapi rahmat Allah sangat luar biasa. Itulah yang harus kita yakini,” ujarnya.

Hadir dalam Ngaji Bareng tersebut Komut PT ASDP Achmad Baidowi, PCNU Jakarta Selatan, santri serta masyarakat. (*)

Komentar Facebook

Berita Terkait

Sederet Fakta Kasus Dugaan Penyadapan Ilegal terhadap Presiden
Forum Antimakar Sikapi Tindak Pidana Penyadapan Presiden
Tembok Ambruk Bongkar Borok PT IKN: Setahun Beroperasi Tanpa Dokumen, DLH Banyumas Sebut Berkas Tak Pernah Masuk
Bedah Buku di UIN Jakarta, Budy Sugandi Ulas Kemitraan Strategis Indonesia–Tiongkok
Puspoll Indonesia Apresiasi Kapolri Usut Kasus Penyadapan, Minta Motif dan Aktor di Baliknya Diungkap
Ahli Waris Persoalkan Uang Rp2,28 Miliar Diatasnamakan Tagihan Pajak Penghasilan, Inisial AK Staf Protokol Kemenko PMK Dilaporkan ke Polisi
Pertamina NRE Gandeng Agrinas dan SGN Akselerasi Pengembangan Bioenergi Nasional
Larangan Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Garuda Institute: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 19:55 WIB

Mencari Harta, Menjaga Amanah: Jalan Al-Qur’an menuju Kesejahteraan

Selasa, 3 November 2026 - 11:27 WIB

Santri Muda Nusantara: Anomali Polisi Bersama Masyarakat vs Tindakan Intimidasi & Penggeledahan Terhadap Santri Hamalatul Qur’an

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Perubahan Diri dalam Lensa IRT

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Ekonomi Syariah: Mencari Keseimbangan di Tengah Gejolak Ekonomi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Membongkar Rahasia Kebaikan Finansial Syariah: 5 Pilar Akad Tabarru’at

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Dari Banyak Program Menuju Kemampuan Mengonversi Realitas

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Melawan “Pabrik Kecanduan” di Saku Anak Kita

Senin, 19 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Agenda Reforma Agraria di Tengah Badai Korupsi

Berita Terbaru

Peserta Forum Aktivis dan Relawan Anti-Makar seluruh Indonesia (Formasi) .

Nasional

Forum Antimakar Sikapi Tindak Pidana Penyadapan Presiden

Minggu, 8 Nov 2026 - 21:16 WIB