Pidato Ilmiah Taruna Ikrar di Harvard University, Bahas Dampak Kesehatan Global

- Editor

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Boston AS, SiaranIndonesia.com– Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, kembali mendapat undangan prestisius dari Schepens Eye Research Institute of Mass Eye and Ear Department of Ophthalmology at Harvard Medical School, 20 Staniford Street, Boston MA sebagai pembicara dalam forum akademik global pada 30–31 Maret 2026.

Dalam forum tersebut, Taruna Ikrar membawakan topik strategis bertajuk “Global Burden of GBS Diseases & Vaccine Platforms Challenges”, yang mengupas kompleksitas beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) serta tantangan pengembangan platform vaksin modern.

Undangan tersebut secara langsung disampaikan oleh Joseph F. Arboleda-Velasquez, Associate Professor di Harvard Medical School sekaligus peneliti di Massachusetts Eye and Ear, Boston.

Bagi Taruna Ikrar, kehadirannya di Harvard bukan sekadar forum akademik, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas keilmuan sekaligus representasi Indonesia dalam percaturan kesehatan global.

“Ini saya rasakan sebagai sebuah pengakuan atas keahlian dan kepakaran yang saya miliki, sekaligus menjadi kebanggaan, baik atas nama keluarga maupun atas nama lembaga negara di Indonesia,” ujar Taruna Ikrar dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Taruna menambahkan, Harvard sebagai salah satu institusi akademik terbaik dunia menjadi ruang penting dalam membentuk arah kebijakan kesehatan global berbasis sains.

*Bahas Penyakit Langka hingga Tantangan Vaksin Modern*

Dalam paparannya, Taruna Ikrar akan mengangkat dua isu besar yang saat ini menjadi perhatian dunia. Pertama, beban global penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS), yakni gangguan saraf langka yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Meski prevalensinya relatif rendah, dampaknya sangat signifikan terhadap sistem kesehatan, terutama karena membutuhkan perawatan intensif dan biaya tinggi.Kedua, tantangan pengembangan platform vaksin modern, termasuk teknologi mRNA, viral vector, dan protein subunit.

Perkembangan pesat teknologi ini membuka peluang percepatan inovasi, namun juga menuntut penguatan aspek keamanan jangka panjang, distribusi yang merata, serta peningkatan kepercayaan publik.

Dalam konteks ini, Taruna menekankan pentingnya keseimbangan antara percepatan inovasi dan prinsip kehati-hatian ilmiah.“Regulator tidak lagi hanya menjadi penjaga gerbang, tetapi harus mampu menyeimbangkan inovasi, keamanan, dan kepercayaan publik secara simultan,” tegasnya.

*Peran Strategis BPOM di Era Kesehatan Global*

Diskursus yang diangkat Taruna Ikrar juga menegaskan transformasi peran lembaga regulator seperti BPOM, dari sekadar otoritas persetujuan produk menjadi aktor strategis dalam ekosistem kesehatan global.

Hal ini sejalan dengan capaian BPOM yang telah meraih status WHO Listed Authority (WLA), yang memperkuat posisi Indonesia sebagai rujukan global dalam pengawasan obat dan makanan.
Dalam konteks nasional, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan tantangan geografis yang kompleks, Indonesia dituntut memiliki sistem regulasi yang adaptif, berbasis sains, serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Indonesia dari Objek Menjadi Kontributor Global Keterlibatan Taruna Ikrar dalam forum akademik di Harvard juga mencerminkan pergeseran posisi Indonesia di tingkat global dari sebelumnya sebagai objek kebijakan menjadi kontributor aktif dalam pembentukan wacana kesehatan dunia.

Partisipasi ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kapasitas nasional, mulai dari riset, regulasi, hingga industri farmasi.Lebih jauh, kehadiran Indonesia di forum ilmiah kelas dunia membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks.

Ke depan, tegas Taruna tantangan terbesar bukan lagi sekadar hadir dalam forum global, tetapi bagaimana Indonesia mampu mengambil peran dalam menentukan arah kebijakan kesehatan dunia berbasis kekuatan sains, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Tembok Ambruk Bongkar Borok PT IKN: Setahun Beroperasi Tanpa Dokumen, DLH Banyumas Sebut Berkas Tak Pernah Masuk
Bedah Buku di UIN Jakarta, Budy Sugandi Ulas Kemitraan Strategis Indonesia–Tiongkok
Puspoll Indonesia Apresiasi Kapolri Usut Kasus Penyadapan, Minta Motif dan Aktor di Baliknya Diungkap
Ahli Waris Persoalkan Uang Rp2,28 Miliar Diatasnamakan Tagihan Pajak Penghasilan, Inisial AK Staf Protokol Kemenko PMK Dilaporkan ke Polisi
Pertamina NRE Gandeng Agrinas dan SGN Akselerasi Pengembangan Bioenergi Nasional
Larangan Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Garuda Institute: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional
Pertemuan Hangat Dua Tokoh Nasional, Taruna Ikrar dan Jenderal Suyudi Bahas Narkotika hingga Keamanan Pangan
PT Solusi Baitullah Indonesia dan Intan Travel Perkuat Sinergi, Hadirkan Beragam Program Umrah

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 11:37 WIB

Warga Iran Bikin ‘Perisai Manusia’ di Pembangkit Listrik Hadapi Ancaman Trump

Selasa, 10 Maret 2026 - 08:07 WIB

Empat Mahasiswi Indonesia di Yordania Diduga Jadi Korban Pelecehan oleh Senior

Senin, 2 Maret 2026 - 20:59 WIB

Situs Iran, IRNA Down

Senin, 2 Maret 2026 - 18:42 WIB

Ramadhan, Pengkhianatan, Rudal: Catatan Hubungan Iran – Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 - 23:11 WIB

Jutaan Warga Iran Turun ke Jalan Usai Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:24 WIB

Prabowo Sapa Anak-Anak Indonesia di Jeddah, Titip Pesan: Belajar yang Baik

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:15 WIB

Prabowo Tiba di Jeddah, Disambut Pejabat Arab Saudi dan Diaspora Indonesia

Jumat, 4 Juli 2025 - 13:45 WIB

Ikuti Kebutuhan Pasar, UMKM Kuliner Binaan BRI Sukses Ekspansi Pasar Internasional

Berita Terbaru