KEBUMEN, SiaranIndonesia.com — Potensi melinjo yang melimpah di Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung, mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 6 Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo) menghadirkan inovasi pengolahan biji melinjo menjadi tepung melinjo dan kerupuk melinjo. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Balai Pertemuan Kalikudu pada Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB ini diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK, perwakilan masyarakat, serta pelaku UMKM melinjo. Sosialisasi bertujuan memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai pentingnya diversifikasi produk agar komoditas melinjo tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah melalui produk olahan.
Desa Kaligending dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki banyak pohon melinjo di hampir setiap dukuh. Selama ini, hasil panen biji melinjo sebagian besar dijual kepada pengepul atau dipasarkan untuk diolah menjadi emping. Kondisi tersebut membuat potensi ekonomi melinjo belum dimanfaatkan secara maksimal.
Perwakilan ibu-ibu PKK, Ibu Aniroh, mengatakan bahwa melinjo merupakan hasil kebun yang cukup melimpah di desanya.
“Di sini banyak sekali pohon melinjo, tetapi rata-rata biji melinjonya dijual ke pasar atau kepada pengepul untuk dibuat emping,” ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan alternatif pengolahan biji melinjo menjadi tepung yang kemudian diolah kembali menjadi kerupuk melinjo. Produk ini dinilai memiliki potensi sebagai inovasi pangan yang dapat meningkatkan nilai jual sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat.
Tidak hanya menyampaikan materi, mahasiswa juga memberikan demonstrasi proses pembuatan tepung melinjo hingga menjadi kerupuk siap konsumsi. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga teknik pengemasan produk agar memiliki daya tarik di pasaran.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari tanggapan salah satu pelaku UMKM melinjo Ibu Karina yang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, inovasi pengolahan biji melinjo menjadi tepung dan kerupuk melinjo sangat potensial untuk dikembangkan sebagai produk tambahan karena tetap menggunakan bahan baku yang sama.
“Cocok inovasi ini dijadikan produk tambahan agar olahan melinjo lebih bervariasi karena bahan dasarnya sama-sama berasal dari biji melinjo,” ujarnya.
Ia berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan oleh para pelaku UMKM sehingga mampu menambah variasi produk, meningkatkan nilai jual melinjo, serta memperluas peluang usaha berbasis potensi lokal di Desa Kaligending.
Salah satu peserta KKN Unimugo, Abduh Zaki Muammar, mengaku terkesan dengan hasil inovasi pengolahan biji melinjo menjadi tepung dan kerupuk melinjo. Menurutnya, inovasi tersebut membuktikan bahwa melinjo tidak hanya dapat diolah menjadi emping, tetapi juga menjadi produk pangan lain yang memiliki cita rasa dan nilai jual.
“Awalnya saya ragu dengan tepung melinjo karena selama ini melinjo identik dengan emping yang memiliki rasa sedikit pahit. Namun, setelah mencoba eksperimen ini, hasilnya benar-benar berkesan. Teksturnya halus, aromanya ringan, dan ketika diolah menjadi kerupuk, cita rasa khas melinjo tetap terasa serta menghasilkan rasa yang gurih. Harapan saya, masyarakat Desa Kaligending dapat memanfaatkan inovasi yang kami perkenalkan melalui kegiatan sosialisasi KKN ini sebagai peluang usaha baru yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas melinjo,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa KKN Unimugo berharap masyarakat semakin termotivasi untuk mengembangkan produk olahan melinjo secara berkelanjutan. Dengan inovasi yang terus dikembangkan, Desa Kaligending diharapkan tidak hanya dikenal sebagai penghasil melinjo, tetapi juga sebagai sentra produk olahan melinjo yang memiliki daya saing serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
























