Ketika Santri di Pesantren Tersisa 1 Orang

- Editor

Senin, 21 Juli 2025 - 10:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

_Oleh: Muhammad Husain Sanusi_

Tren penurunan minat belajar di pesantren menjadi topik hangat yang mulai dibicarakan.Topik ini jadi salah satu pembahasan dalam acara silaturahmi pimpinan pesantren Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) Korwil Jatim, di Pesantren Terpadu Darul Ihsan, Malang, Minggu (20/7/2025).

Berbagai faktor disinyalir menjadi penyebab menurunnya minat belajar di pesantren mulai dari pergeseran zaman, tuntutan ekonomi, hingga perubahan preferensi generasi muda dalam menimba ilmu.

Namun, di tengah tantangan ini, sebuah kisah inspiratif muncul dari K.H. Masruri Abdul Muhit, Pimpinan Pesantren Darul Istiqomah, Bondowoso, yang memberikan kita sebuah pelajaran berharga tentang keteguhan dan dedikasi.

Kisah ini berawal dari pengalaman getir yang pernah dialami oleh Kiai Masruri. Dalam sebuah pidatonya, beliau menceritakan tentang situasi ekstrem di mana santri di pesantrennya hanya tersisa satu orang.

Bayangkan, dari ratusan santri yang biasanya memadati majelis ilmu, kini hanya seorang diri yang setia bertahan. Ini bukanlah hal yang mudah, baik bagi kiai maupun santri itu sendiri. Namun, di sinilah letak kebijaksanaan dan keteguhan hati para ulama sejati.

Kyai Masrur mengisahkan salah satu teladan dari Kyai Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, pernah berpesan, “Jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama.” Dasar inilah yang membuat Gontor teguh menerapkan sistem Kulliyatul Mu’allimin Islamiyah (KMI) meski tidak populer di masyarakat Indonesia kala itu.

Pesan ini seolah menjadi fondasi kuat bagi para pengasuh pesantren untuk tidak gentar menghadapi pasang surutnya dinamika pendidikan.

Pengalaman Gontor sendiri, yang bermodalkan 300 santri warisan dari santri Pak Sahal dan Tarbiyatul Athfal, dan kemudian sempat menurun hingga 13 santri saja.

Dalam situasi santri tersisa 13 orang, bPak Zar (sapaan akrab Kyai Zarkasyi) bersumpah, “Saya akan tetap mengajar meskipun santri tersisa 1 orang, dan jika satu orang itu pergi saya akan tetap mengajar dengan pena.”

Sebuah janji yang mencerminkan dedikasi tak tergoyahkan terhadap ilmu dan pendidikan. Inilah Keyakinan Kyai Gontor yang ketika santri tersisa 13 orang patut menjadi teladan. Mereka tetap menjalankan KMI.

Kiai Masruri juga menceritakan perjuangan beliau merintis Darul Istiqomah di Bondowoso, sebuah wilayah yang cukup sulit menerapkan sistem KMI Gontor dan bisa dikatakan daerah yang tidak subur untuk pesantren ashriyah.

Di tengah tantangan itu, Kiai Masruri sowan ke seniornya Kiai Maksum yang berhasil mendirikan Pesantren Al Ikhlas dengan sistem KMI di Bondowoso yang tak jauh dari Darul Istiqomah.

Kiai Maksum kala itu berpesan kepada Kiai Masruri, “Di Bondowoso ini kita tidak mungkin menyalakan lampu 1000 watt, mari kita nyalakan lampu 5 watt disana dan 5 watt disana. Lama kelamaan kalau lampu 5 watt nya banyak Bondowoso akan terang seperti yang 1000 watt.”

Ini adalah analogi yang sangat brilian. Hikmahnya adalah bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari upaya tunggal yang masif.

Seringkali, perubahan dimulai dari langkah-langkah kecil, konsisten, dan berani menghadapi tantangan meski sulit.

Kiai Masruri sendiri pernah mengalami situasi sulit, di mana santri di pesantrennya hanya tersisa satu orang. Namun, beliau tetap mempertahankan KMI.

Ini adalah tentang keyakinan pada sistem dan kurikulum yang telah dibangun, meskipun dalam situasi paling sulit, tapi membangun fondasi yang kuat adalah modal untuk kebangkitan. Ini menunjukkan keteguhan mental dan kepercayaan pada nilai-nilai yang diemban.

Dalam pemaparannya, Kiai Masruri menantang para Kiai muda, apakah kalian masih kuat ketika santri kalian tersisa 1 orang saja?

Dari pengalaman Gontor dan Darul Istiqomah ini menunjukkan bahwa kuantitas bukanlah satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Ketahanan dan kualitas, meskipun dalam jumlah yang sedikit, dapat menjadi pijakan untuk bangkit kembali.

Ketika minat belajar di pesantren menurun, semangat para ulama seperti Kyai Imam Zarkasyi, Kiai Masruri dan para Kiai sepuh lainnya menjadi lentera yang tak pernah padam, mengingatkan kita bahwa dakwah dan pendidikan adalah perjuangan yang tak mengenal kata menyerah.

Penurunan minat belajar di pesantren adalah isu kompleks yang memerlukan perhatian serius. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, kisah-kisah resiliensi dari institusi seperti Pondok Modern Darussalam Gontor dan pengalaman K.H. Masruri Abdul Muhit di Bondowoso menawarkan perspektif berharga.

Pengalaman kedua institusi ini, meskipun berbeda dalam skala, memiliki benang merah yang sama: keteguhan, visi jangka panjang, dan kemampuan untuk beradaptasi di tengah tantangan.

Silaturahmi FPAG Jawa Timur dihadiri Sekjen, KH Anang Rikza Masyhadi, Pimpinan Pesantren Tazakka, Batang, Jateng, Ketua IKPM Malang, Ustadz David Rusdianto.

Acara ini juga mendengar kan pemaparan Dr. Saeful Amin tentang Pendidikan KMI dan Output Alumninya, Modifikasi KMI dan Penerimaan Masyarakat disampaikan KH. Dr Ajir Abdi Moenip.

Komentar Facebook

Berita Terkait

DPD PDIP Jateng Gelar Konsolidasi di Kebumen, Soroti Musancab dan MBG
Polres Kebumen dan PWRI Kebumen Bagikan 1.000 Paket Takjil di Alun-Alun Pancasila
Kades Mulyosri Pastikan Tanah Tercatat Aset Desa, Pelapor Akan Dilaporkan Balik
Haul Pertama di Wergonayan, Tradisi Baru Mengenang Pendiri Desa Dimulai
PWRI Kebumen Gelar Tumpengan dan Doa Bersama Sambut Hari Pers Nasional 2026
Aklamasi, Muslimin Tanja Nahkodai Golkar Tanjung Jabung Timur
Vendor Layanan Sewa Drone Profesional di Jabodetabek
Ini Dia, Keunggulan Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Depok Mencetak Pemimpin Muda Berkarakter Gontory

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 19:48 WIB

Tim Peduli Salurkan Bantuan untuk Palestina di Tengah Eskalasi Konflik Timteng

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:50 WIB

Kuasa Hukum MYF Tegaskan Tak Ada Utang Piutang, Tuduhan dalam Somasi Terbuka Dinilai Fitnah

Jumat, 6 Maret 2026 - 10:09 WIB

Ponpes Daarul Mu’minin As’adiyah Doping Sulawesi Selatan Gelar Kegiatan Festival Ramadhan 2026

Kamis, 5 Maret 2026 - 18:57 WIB

Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Sukseskan Safari Ramadan 1447 H Demi Mempererat Silaturahmi

Rabu, 4 Maret 2026 - 11:48 WIB

Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis Perlu Diutamakan daripada Makan Gratis

Senin, 2 Maret 2026 - 10:39 WIB

LD PBNU Gelar Dakwah Gen Z di Pondok Pesantren Tahfid Al Basyir Bogor

Jumat, 27 Februari 2026 - 20:38 WIB

Impor Produk Non Halal dari AS Disorot, Kiyai Hafidz Taftazani: Campur Halal dan Haram Jadi Syubhat

Jumat, 27 Februari 2026 - 09:16 WIB

Polres Kebumen dan PWRI Kebumen Bagikan 1.000 Paket Takjil di Alun-Alun Pancasila

Berita Terbaru