Banyak Kasus Cabul di Pesantren Resmi Terdaftar di Kemenag, Santri Mengabdi Dukung Yakuza Maneges

- Editor

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KEBUMEN, SiaranIndonesia.com – Gerakan Santri Mengabdi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya hoaks upaya doktrin yang dibangun oleh oknum pesantren hingga kasus dugaan pencabulan dan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pondok pesantren dalam beberapa tahun terakhir. Ketua Umum Santri Mengabdi, Gus Wahyu NH Aly, menilai fenomena tersebut telah menjadi persoalan serius yang harus dihadapi secara jujur dan terbuka oleh seluruh elemen umat Islam.

Menurut cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini, dari sekira ratusan kasus pesantren yang muncul ke ruang publik dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar justru melibatkan oknum yang berasal dari pesantren yang terdaftar secara resmi di Kementerian Agama. Bahkan, banyak di antaranya tergolong pesantren tua atau telah lama berdiri dan memiliki pengaruh besar di masyarakat.

“Kami sangat prihatin. Dalam beberapa tahun terakhir ada sekitar ratusan kasus yang muncul di publik. Ini bukan lagi kasus yang berdiri sendiri, tetapi sudah menjadi alarm serius bagi dunia pesantren. Mirisnya lagi, perkiraan 90 persen kasus justru berasal dari pesantren yang terdaftar resmi di Kemenag dan banyak di antaranya merupakan pesantren yang tergolong tua,” ujar Gus Wahyu di Kebumen, (18/06/26).

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap oknum pesantren tidak boleh dipahami sebagai upaya menyerang pesantren. Sebaliknya, keterbukaan terhadap kritik merupakan bentuk kecintaan terhadap pesantren agar tetap menjadi pusat ilmu, akhlak, dan peradaban Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Wahyu juga menyatakan dukungannya terhadap sikap Yakuza Maneges yang mendorong keberanian membongkar berbagai persoalan internal pesantren sebagai bagian dari ikhtiar menjaga marwah pesantren itu sendiri.

Menurutnya, salah satu ciri lingkungan pesantren yang berpotensi bermasalah, diantaranya adalah ketika doktrin mengenai kewajiban santri menghormati guru diajarkan secara sangat kuat, namun lemah kajian mengenai kewajiban guru atau kyai terhadap santri..

“Di banyak tempat, santri diajarkan tentang taat, hormat, dan patuh kepada guru. Itu benar dan memang bagian dari adab. Namun pada saat yang sama, kajian tentang bagaimana guru wajib menjaga amanah, melindungi santri, menjaga kehormatan santri, dan mempertanggungjawabkan kekuasaannya sering kali tidak mendapatkan perhatian yang seimbang. Bahkan, jangan-jangan banyak kyai yang tidak tahu hukum fiqh dan tasawuf soal ini. Ketimpangan inilah yang berpotensi melahirkan penyalahgunaan otoritas,” katanya.

Kritis Sumber Akhlak Islam dan Pesantren

Gus Wahyu juga menegaskan bahwa sikap kritis sesungguhnya merupakan sumber akhlak dalam Islam dan pesantren. Menurutnya, sejarah pesantren lahir bukan dari budaya membungkam pertanyaan, melainkan dari kuatnya literasi, budaya membaca, budaya menulis, budaya diskusi, serta keberanian para ulama dalam menguji dan mengkritisi berbagai pendapat demi menemukan kebenaran.

“Pesantren tumbuh karena budaya ilmu. Budaya ilmu tidak pernah lahir dari ketakutan untuk bertanya ataupun berpikir. Ulama-ulama pendiri pesantren masa lalu adalah para pembaca, penulis, pemikir, dan pengkritik yang beradab. Mereka menguji pendapat, berdiskusi, bahkan mengoreksi pendapat ulama sebelumnya apabila menemukan argumentasi yang lebih kuat. Dari budaya kritis itulah lahir khazanah keilmuan Islam yang luar biasa, termasuk sikap kritis inilah sehingga lahir pesantren di nusantara ini,” ujarnya.

Ia menilai bahwa anggapan seolah-olah sikap kritis bertentangan dengan adab merupakan kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

“Kritis adalah sumber akhlak dalam Islam dan pesantren. Akhlak tidak lahir dari kepatuhan yang buta, tetapi lahir dari kesadaran. Kesadaran lahir dari ilmu, sedangkan ilmu berkembang melalui budaya berpikir, bertanya, menguji, dan mencari kebenaran. Karena itu, santri yang kritis dan beradab justru lebih dekat dengan tradisi ulama dibanding mereka yang hanya patuh tanpa memahami alasan dari kepatuhannya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Wahyu menilai masyarakat perlu berhati-hati apabila menemukan lingkungan pesantren yang melarang pembahasan kasus-kasus asusila atau menganggap kritik sebagai ancaman terhadap lembaga.

“Jika ada pesantren yang melarang membahas kasus pesantren cabul, apa pun alasannya, masyarakat harus waspada. Lembaga yang sehat tidak takut pada kebenaran. Pesantren yang benar-benar kuat justru mendukung setiap upaya pengungkapan penyimpangan agar dapat dibersihkan dan tidak terulang kembali,” katanya.

Menurutnya, budaya anti-kritik bertentangan dengan tradisi intelektual Islam yang sejak awal dibangun melalui dialog, musyawarah, evaluasi, dan pencarian kebenaran.

Penyebab Asusila di Pesantren

Terkait penyebab maraknya kasus asusila yang melibatkan oknum pengasuh pesantren, Gus Wahyu menilai terdapat beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian serius.

Faktor pertama adalah lemahnya literasi fikih terkait zina, fiqh kehormatan santri serta perlindungan terhadap martabat santri.

“Jika di sebuah pesantren tidak diajarkan fikih kehormatan dan perlindungan santri, serta fiqh tanggung jawab guru terhadap murid, masyarakat perlu berhati-hati. Juga, dalam Islam, zina bukan sekadar dosa individu, tetapi juga menyangkut pelanggaran atas hak-hak manusia. Inilah mengapa zina meskipun sama-sama suka ini kategori muamalah, masuk kejahatan. Karena itu, dosa zina tidak boleh diremehkan seolah cukup ditebus dengan istighfar semata. Islam menempatkannya sebagai pelanggaran berat yang menuntut pertanggungjawaban dan taubat yang sungguh-sungguh. Dera dan rajam ini syarat taubat bukan hukuman,” ujarnya.

Faktor kedua adalah lemahnya literasi teknologi digital. Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan yang tidak pernah dihadapi generasi ulama terdahulu. Telepon genggam dan internet dapat menjadi sarana ilmu, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai konten pornografi dan penyimpangan perilaku apabila tidak diimbangi dengan literasi yang memadai.

“Paparan pornografi hari ini bisa terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Bisa melalui media sosial, iklan digital, tautan tertentu, atau berbagai bentuk konten lain. Ketika literasi digital rendah sementara kontrol diri lemah, maka potensi penyimpangan akan semakin besar. Silahkan renungkan jika Anda diposisi sebagai tokoh agama dengan memegang gadget saat ini tapi minim karya keilmuan,” katanya.

Karena itu, Santri Mengabdi mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih pesantren bagi putra-putrinya.

Rekomendasi Pesantren Pilihan

Menurut Gus Wahyu, pesantren yang layak direkomendasikan adalah pesantren yang secara terbuka mendukung pengungkapan kasus-kasus asusila, mendukung hukuman berat bagi pelaku, tidak memberikan perlindungan kepada pelaku atas dasar status sosial maupun kedudukan keagamaan, serta memiliki sistem perlindungan santri yang jelas.

“Dipesantren tersebut diajarkan ngaji fiqh kehormatan dan keselamatan santri, serta fikih kewajiban guru dalam melindungi dan membimbing murid,” katanya

Selain itu, lanjutnya lagi, masyarakat juga perlu memperhatikan kualitas keilmuan pengasuh dan tradisi intelektual yang hidup di dalam pesantren.

“Pesantren yang baik biasanya dipimpin oleh orang yang cinta ilmu. Salah satu indikatornya adalah memiliki karya kitab, buku, tulisan, atau kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan. Selain itu, kualitas alumni dalam bidang keilmuan, budaya membaca, budaya menulis, keterbukaan terhadap kritik, dan tradisi diskusi ilmiah juga menjadi ukuran penting,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ukuran utama sebuah pesantren bukanlah besarnya bangunan, banyaknya santri, usia pesantren, atau kuatnya pengaruh sosial semata, melainkan sejauh mana nilai ilmu, akhlak, keterbukaan, dan tanggung jawab benar-benar hidup di dalamnya.

“Pesantren yang sehat adalah pesantren yang berani mengoreksi dirinya sendiri. Pesantren yang kuat bukan pesantren yang menutupi masalah, tetapi pesantren yang berani membersihkan dirinya dari setiap bentuk penyimpangan. Menjaga nama baik pesantren bukan dengan membungkam kritik, melainkan dengan menegakkan kebenaran. Sebab hanya dengan cara itulah marwah pesantren dapat terus terjaga di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Download Novel Metamorfosis Cinta – Perlawanan Santri Terhadap Kyai – Versi PDF Bisa Mengklik: Download

Download Juga Buku Hoaks PP. Alkahfi Somalangu: Download

Komentar Facebook

Berita Terkait

BPOM Perkenalkan Peraturan CPKB Terbaru untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Kosmetik Nasional
Kenaikan Anggaran Polri Perkuat Pelayanan Publik yang Lebih Baik
Kepengurusan Yayasan Bangun Ekosistem Bahari Resmi Tercatat di Dirjen AHU Kemenkum RI
Santri Mengabdi Ajak Objektif Menilai Kepala Daerah Punya Dapur MBG
Dihadapan Ratusan Mahasiswa UHW, Taruna Ikrar Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Masa Depan Bangsa
Buperta Sukses Selenggarakan Seminar Nasional dihadiri Rarusan Peserta
Kepala BPOM Luncurkan Gerakan Indonesia Sadar Jamu Aman
Andi Najmi: Direct Cash Transfer Rawan Asymmetric Spending

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:09 WIB

BPOM Perkenalkan Peraturan CPKB Terbaru untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Kosmetik Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 - 20:04 WIB

Kenaikan Anggaran Polri Perkuat Pelayanan Publik yang Lebih Baik

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:24 WIB

Kepengurusan Yayasan Bangun Ekosistem Bahari Resmi Tercatat di Dirjen AHU Kemenkum RI

Kamis, 18 Juni 2026 - 07:24 WIB

Banyak Kasus Cabul di Pesantren Resmi Terdaftar di Kemenag, Santri Mengabdi Dukung Yakuza Maneges

Senin, 15 Juni 2026 - 10:31 WIB

Dihadapan Ratusan Mahasiswa UHW, Taruna Ikrar Tegaskan Pentingnya Kolaborasi untuk Masa Depan Bangsa

Sabtu, 13 Juni 2026 - 17:49 WIB

Buperta Sukses Selenggarakan Seminar Nasional dihadiri Rarusan Peserta

Rabu, 10 Juni 2026 - 23:12 WIB

Kepala BPOM Luncurkan Gerakan Indonesia Sadar Jamu Aman

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:50 WIB

Andi Najmi: Direct Cash Transfer Rawan Asymmetric Spending

Berita Terbaru