Cak Imin, HMI, dan Penyakit Mental Sektarianisme

- Editor

Rabu, 2 September 2026 - 17:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, SiaranIndonesia.com – Ketua HMI Cabang Tegal, Abdurrohman Wahid, menilai pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut Nahdlatul Ulama (NU) terpuruk karena dipimpin alumni HMI mengarah pada cara pandang sektarian. Yaitu cara pandang seseorang terhadap sesuatu dan menolak paham yang berbeda dengannya.

Abdurrohman Wahid bahkan khawatir dengan pernyataan tersebut yang menunjukkan dugaan adanya penyakit mental sektarianisme, chauvinisme, atau ashabiyah. Ia pun meminta Cak Imin untuk berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog untuk memastikan apakah dirinya mengidap penyait mental berbahaya itu atau tidak. Ia pun menegaskan, seseorang yang mengidap penyakit ini sangat berbahaya menjadi tokoh nasional, sehingga tidak mungkin menjadi tokoh bangsa.

“Yang saya khawatirkan, itu sebagai gejala penyakit mental berbahaya sektarianisme. Sebaiknya beliau memeriksakan diri untuk memastikan. Tapi semoga beliau hanya khilaf saja,” kata Abdurrohman Wahid, Rabu, (02/9/2026).

Sebagai Ketua HMI Cabang Tegal, Abdurrohman mengatakan bahwa keberadaan kader HMI di lingkungan NU merupakan bagian dari dinamika kaderisasi dan perjalanan intelektual warga NU. Banyak kader HMI yang menjadi bagian dari kepemimpinan NU maupun badan otonomnya, mulai dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting NU. Keberadaan mereka, kata dia, tidak berarti menjauh dari NU.

“Anak NU yang ber-HMI bukan sedang menjauh dari NU. Ia sedang memperkaya bekal untuk kembali mengabdi kepada NU dengan wawasan yang lebih luas, jaringan yang lebih kuat, dan kemampuan membaca persoalan yang lebih tajam,” ujarnya.

Menurut Abdurrohman, proses kaderisasi di HMI justru dapat mengasah intelektualitas dan memperluas jejaring kader NU sehingga mereka tidak terjebak dalam sekat-sekat kelompok. Ia menilai persoalan NU tidak semestinya dibaca berdasarkan asal organisasi seseorang. Kepemimpinan harus dinilai dari kapasitas, integritas, kontribusi, dan kemampuannya membawa organisasi serta masyarakat menuju kemajuan.

“Kalau setiap persoalan dibaca berdasarkan label organisasi, kita akan terjebak pada logika ‘kami’ dan ‘mereka’. Inilah yang berbahaya. NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi milik satu kelompok, sebagaimana Indonesia terlalu besar untuk dibangun dengan mental sektarian,” tegasnya.

Abdurrohman juga menilai Cak Imin tidak layak menjadi tokoh bangsa, dengan pernyataan yang berpotensi mempertentangkan kelompok masyarakat. Ini berbahaya.

“Tokoh bangsa semestinya menjadi perekat, bukan mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memecah belah. Syarat menjadi tokoh bangsa bukan hanya soal posisi politik,” tegasnya.

Senada Anggota DPR RI

Hal senada juga disampaikan oleh anggota DPR RI Ahmad Doli Kurnia. Doli menilai pernyataan Cak Imin tidak lagi tepat dianggap sebagai candaan karena menurutnya telah disampaikan berulang kali.

“Awalnya saya menganggap ini bercanda. Tetapi kalau sudah tiga kali berturut-turut, menurut saya kita juga tidak bisa lagi menganggapnya sebagai candaan,” ujar Doli, Selasa (1/9/2026).

Doli menegaskan NU bukan milik kelompok tertentu. Menurutnya, keberadaan alumni HMI di lingkungan NU merupakan bagian dari dinamika kaderisasi dan kontribusi dalam kehidupan kebangsaan.

Doli bahkan menyinggung Pilpres 2024 ketika Cak Imin menjadi calon wakil presiden. “Syukur alhamdulillah masyarakat Indonesia tahu sehingga kemarin dia tidak terpilih sebagai wakil presiden,” katanya.

Sebelumnya, Cak Imin dalam sebuah acara di Jombang menyebut NU mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir dan mengaitkannya dengan kepemimpinan alumni HMI. Pernyataan tersebut kemudian menuai kritik dari sejumlah kalangan.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Beredar Surat Transaksi Eka Hospital Tahun 2022, Diduga Berkaitan dengan Upaya Menggeser Pemegang Saham Minoritas
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, BPOM Terbitkan 126.123 Izin Edar Pangan, Perketat Pengawasan MBG dan Koperasi Merah Putih
RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan
DISPERDAGIN KABUPATEN BANDUNG TERIMA KUNJUNGAN PESERTA KKP SESPIMMA POLRI ANGKATAN KE-76 TAHUN
Dua Tahun Prabowo: Konsolidasi Kekuasaan dan Ujian Kepercayaan Publik
Arah Baru Syarikat Islam: Dari Penguatan Fondasi ke Akselerasi Eksekusi
PB HMI Minta Kepala Bappisus Investigasi Khusus Karhutla di Indonesia
Ulang Tahun Presiden Prabowo Berebut Kue dengan Seorang Balita

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Beredar Surat Transaksi Eka Hospital Tahun 2022, Diduga Berkaitan dengan Upaya Menggeser Pemegang Saham Minoritas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:45 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, BPOM Terbitkan 126.123 Izin Edar Pangan, Perketat Pengawasan MBG dan Koperasi Merah Putih

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:07 WIB

RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:02 WIB

Dua Tahun Prabowo: Konsolidasi Kekuasaan dan Ujian Kepercayaan Publik

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:34 WIB

Arah Baru Syarikat Islam: Dari Penguatan Fondasi ke Akselerasi Eksekusi

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:12 WIB

PB HMI Minta Kepala Bappisus Investigasi Khusus Karhutla di Indonesia

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Ulang Tahun Presiden Prabowo Berebut Kue dengan Seorang Balita

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:28 WIB

Taruna Ikrar Beri Diskresi Khusus Koperasi Merah Putih, BPOM Perluas Akses Obat Aman hingga Pelosok Desa

Berita Terbaru