Siaranindonesia.com, Jakarta – Pergantian nama bukan hal baru dalam kehidupan masyarakat. Ada yang mengganti nama karena alasan kesehatan, keyakinan, citra diri, perjalanan karier, hingga keinginan membangun identitas baru.
Fenomena serupa juga terjadi pada sejumlah brand besar dunia. BackRub, proyek awal mesin pencari buatan Larry Page dan Sergey Brin, kemudian berubah menjadi Google dan tumbuh menjadi salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia.
Selain Google, sejumlah brand besar lain juga pernah mengalami perubahan nama. Blue Ribbon Sports kemudian dikenal sebagai Nike. Brad’s Drink berubah menjadi Pepsi. Cadabra kemudian menjadi Amazon. Burbn berkembang menjadi Instagram. Apple Computer, Inc. kemudian menjadi Apple Inc. Facebook Inc. berganti nama menjadi Meta Platforms sebagai perusahaan induk, sementara Zorba kemudian berubah menjadi Zara.
Dalam dunia tokoh publik, pergantian nama juga banyak ditemukan. Salah satu contoh yang dikenal di Indonesia adalah Soekarno, yang sebelumnya bernama Kusno. Dalam sejumlah kisah, pergantian nama Kusno menjadi Soekarno kerap dikaitkan dengan kondisi kesehatan pada masa kecil.
Tokoh publik lain juga dikenal dengan nama yang berbeda dari nama lahirnya. Nelson Mandela memiliki nama lahir Rolihlahla Mandela. Mahatma Gandhi dikenal dengan nama lahir Mohandas Karamchand Gandhi. Muhammad Ali sebelumnya bernama Cassius Clay. Jackie Chan lahir dengan nama Chan Kong-sang. Sementara Lisa BLACKPINK, yang lahir dengan nama Pranpriya Manobal, mengganti namanya menjadi Lalisa setelah mendapat saran terkait keberuntungan.
Pergantian nama sering dikaitkan dengan alasan kesehatan, citra diri, perjalanan hidup, hingga alasan hoki atau keberuntungan. Benarkah nama memiliki kekuatan sebesar itu?
Berbicara tentang nama, Pakar Nama & Holistik, Ni Kadek Hellen, S.Psi., M.Ed., yang dikenal dengan panggilan Heleni, menjelaskan bahwa nama bukan sekadar identitas atau panggilan sehari-hari. Nama adalah doa kuat yang melekat pada pemiliknya, karena terus disebut, ditulis, diingat, dan digunakan berulang kali dalam berbagai fase kehidupan.
Menurut Heleni, susunan huruf pada nama memiliki getaran tersendiri yang dapat berkaitan dengan karakter, arah hidup, dan perjalanan pemiliknya. Karena itu, nama tidak cukup hanya dilihat dari arti, keindahan bunyi, atau makna harfiahnya saja.
Dalam pendekatan analisa nama yang digunakannya, Heleni juga membaca secret codes, keselarasan, parameter vital, serta pola yang berkaitan dengan karakter, rezeki, kesehatan, hubungan, karier, aktualisasi diri, dan arah perjalanan hidup pemiliknya.
“Nama bukan sekadar identitas. Nama adalah doa kuat yang melekat, sekaligus dapat menggambarkan potensi dan life events seseorang melalui secret codes yang terdapat di dalamnya,” jelas Heleni.
Heleni, yang memiliki latar belakang akademik Master of Education di bidang psikologi, menegaskan bahwa nama baru sebaiknya tidak dipilih hanya karena terdengar indah, populer, mudah diingat, atau mengikuti tren. Nama idealnya perlu dianalisis secara menyeluruh agar benar-benar selaras dengan pemiliknya.
Nama yang powerful bukan hanya nama yang terdengar bagus, tetapi juga nama yang harmonis dengan karakter, tanggal lahir, tujuan hidup, reputasi, relasi, kesehatan, rezeki, karier, personal branding, serta arah perjalanan pemiliknya.
Hal serupa juga berlaku untuk nama usaha, PT, maupun brand. Dalam bisnis, nama yang kuat dapat membantu memperkenalkan identitas usaha, membangun kepercayaan, memperkuat daya ingat publik, serta mendukung reputasi dan keberlangsungan usaha.
Jika nama yang digunakan sudah positif, powerful, dan harmonis dengan pemiliknya, maka potensi baik dalam kehidupan dapat lebih mudah terbuka, termasuk rezeki, kesehatan, relasi, reputasi, karier, maupun perkembangan usaha. Tentu, hal tersebut tetap perlu diikuti dengan usaha, pola pikir, strategi, keputusan, dan cara hidup yang menunjang.
























