JAKARTA, SiaranIndonesia.com – Hasil Survei Nasional Pusat Polling (Puspoll) Indonesia menunjukkan mayoritas masyarakat masih merasa puas terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tingkat kepuasan publik tercatat mencapai 64,8 persen berdasarkan survei yang dilaksanakan pada 18–26 Mei 2026.
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, mengatakan capaian tersebut menunjukkan dukungan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan masih berada pada level mayoritas.
“Kepuasan terhadap Presiden masih berada pada tingkat mayoritas,” ujar Chamad saat memaparkan hasil survei di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, temuan itu mencerminkan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo masih relatif kuat. Meski demikian, hasil survei juga perlu menjadi bahan evaluasi agar pemerintah terus meningkatkan kinerja Kabinet Merah Putih.
Sebab, Chamad menilai persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi tidak hanya dipengaruhi indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, investasi, atau inflasi. Penilaian publik lebih banyak ditentukan oleh pengalaman sehari-hari, seperti harga kebutuhan pokok dan kondisi pendapatan keluarga.
“Dalam studi perilaku pemilih, masyarakat cenderung memberikan penghargaan berdasarkan kondisi ekonomi yang mereka alami secara langsung. Karena itu, pengendalian harga kebutuhan pokok menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Departemen Sosial dan Politik CSIS, Arya Fernandes, menilai hasil survei tersebut menunjukkan publik masih optimistis terhadap arah pemerintahan Presiden Prabowo. Namun, ia mengingatkan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi, dengan lebih dari 80 persen responden mengaku pesimistis terhadap situasi ekonomi.
Di sisi lain, Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, menilai kepuasan masyarakat yang terpotret dari survei ini menunjukkan bahwa publik memahami kondisi yang dihadapi pemerintah.
Hasil survei ini turut dipengaruhi situasi global yang terjadi pada Mei 2026, termasuk tingginya harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Namun, kami bersyukur mayoritas masyarakat masih puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo. Apalagi jika kondisi global lebih stabil, tingkat kepuasan masyarakat tentu berpotensi lebih tinggi,” ujarnya.
Bahtra menambahkan pemerintah juga tengah menghadapi tantangan domestik, seperti pembenahan hilirisasi serta penanganan kebocoran ekspor dan impor. Menurutnya, langkah-langkah tersebut akan terus diperbaiki.
Ia juga mencontohkan pengembalian pengelolaan Hotel Sultan kepada negara setelah bertahun-tahun. Ini menurutnya, sebagai salah satu langkah konkrit yang berhasil dilakukan di era pemerintahan Prabowo.
Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Hariqo Wibawa Satria, mengaku tidak masalah dengan penyampaian aspirasi mahasiswa beberapa watktu terkahir.
Ia menilai, bahwa upaya pemberantasan korupsi dan berbagai bentuk kecurangan belakangan justru merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah dan dukungan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.
Menurut Hariqo, gerakan mahasiswa bukan ditujukan untuk menjatuhkan pemerintah, melainkan menyampaikan aspirasi demi kepentingan nasional.
“Musuh pemerintah dan mahasiswa sama, yakni mereka yang melakukan korupsi, kecurangan ekspor, dan berbagai praktik yang merugikan negara. Karena itu, kami berterima kasih kepada gerakan mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasi demi perbaikan bangsa dan negara,” katanya.
























