Jakarta, Siaran Indonesia — Gagasan paradigma baru Partai Golkar bukanlah konsep yang lahir secara tiba-tiba. Ia berakar sejak era awal reformasi dan terus mengalami pemaknaan ulang seiring perubahan zaman, sejalan dengan dinamika internal partai dan tantangan demokrasi nasional.
Politisi senior Golkar Ridwan Hisjam menegaskan, paradigma baru pertama kali dicanangkan oleh Akbar Tandjung pada 1999 sebagai respons atas runtuhnya Orde Baru dan tuntutan demokratisasi. Momentum tersebut menjadi tonggak perubahan Golkar dari partai kekuasaan menuju partai yang lebih terbuka dan demokratis.
“Paradigma baru Golkar itu dicanangkan oleh Akbar Tandjung pada 1999. Itu momentum penting perubahan Golkar pascareformasi,” ujar Ridwan Hisjam, Selasa 13 Januari 2026.
Ridwan Hisjam dan Akbar Tandjung, Poros Lama yang Tetap Jadi Acuhan Kader-kader Golkar
Dua dekade kemudian, Ridwan menilai paradigma tersebut perlu diperbarui agar tetap relevan dengan tantangan kekinian. Pada 10 November 2019, ia mencanangkan Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar sebagai upaya mempertegas arah pembaruan partai di tengah perubahan politik, sosial, dan teknologi.
Momentum itu ditandai dengan penyerahan buku “Reformasi Paradigma Baru Partai Golkar” oleh Ridwan Hisjam kepada para tokoh senior Golkar dalam sebuah forum diskusi di Hotel Indonesia, Jakarta. Buku tersebut diserahkan langsung kepada Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, Agung Laksono, serta sejumlah tokoh dan kader senior Golkar lainnya.
“Pada 2019, saya mencanangkan reformasi paradigma baru Golkar. Bukan untuk mengganti jati diri partai, tetapi untuk menegaskan kembali semangat pembaruan agar Golkar tidak tertinggal oleh zaman,” kata Ridwan.
Ridwan Hisjam, Kader Golkar yang Namanya Tak Pernah Redup dari Panggung Politik
Forum di Hotel Indonesia itu menjadi ruang refleksi lintas generasi Golkar, sekaligus penegasan bahwa proses transformasi partai harus terus berlanjut. Ridwan menekankan, esensi paradigma baru terletak pada perubahan cara berpikir dan cara kerja partai, bukan sekadar pergantian kepemimpinan.
Menurut dia, Golkar harus meninggalkan praktik politik transaksional dan memperkuat demokrasi internal sebagai fondasi organisasi. Konsistensi pada nilai-nilai tersebut menjadi krusial di tengah menguatnya wacana konsolidasi dan regenerasi kepemimpinan Golkar pascapemilu.
“Golkar tidak boleh hidup dari masa lalu. Sejarah itu penting, tetapi masa depan jauh lebih menentukan. Partai besar adalah partai yang berani berubah dan mau mendengar aspirasi rakyat,” ujar Ridwan.
Ridwan Hisjam: KOSGORO Harus Kembali pada Fitrohnya, Urus Koperasi
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi kader di tengah bonus demografi dan dominasi pemilih muda. Golkar, menurut Ridwan, harus mampu menjadi rumah politik yang terbuka bagi generasi milenial dan Gen Z tanpa kehilangan nilai dasar pengabdian.
“Regenerasi bukan soal usia, tetapi soal keberanian memberi ruang. Golkar tidak akan kehilangan jati diri hanya karena memberi kesempatan kepada generasi muda,” katanya.
Ridwan mengakui, tantangan terbesar paradigma baru bukan pada perumusannya, melainkan pada konsistensi pelaksanaannya. Dinamika internal, kepentingan elite, dan budaya organisasi kerap menjadi ujian bagi agenda pembaruan yang berkelanjutan.
Bagi Ridwan Hisjam, paradigma baru Golkar merupakan kompas moral dan politik yang harus terus dijaga. Refleksi atas gagasan tersebut, menurut dia, penting agar Golkar tetap hadir sebagai partai yang adaptif, demokratis, dan relevan dalam menjawab tantangan masa depan bangsa. (Al)
























