Selamat Jalan Kanda, Kita Ditakdirkan Berbeda

- Editor

Senin, 5 Januari 2026 - 01:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wahyu. NH. Aly

Saat membuka salah satu grup KAHMI, tersentak kabar wafatnya Kanda Ali Muslim, Ahad, 4 Januari 2026, bertepatan di masjid desa saya sedang menggelar acara rajaban.  Bagi saya, ini bukan sekadar kabar duka, melainkan jeda panjang untuk mengenang percakapan, perdebatan, dan persaudaraan yang pernah terjalin di antara kami.

Saya mengetahui nama beliau suda lama sejak masih aktif sebagai kader HMI di Jogja. Namun saya mengenal Kanda Ali Muslim bermula dari ruang yang sederhana namun bermakna: grup BBM, lalu berlanjut ke grup WhatsApp. Sudah cukup lama—bahkan saya sendiri tak lagi mengingat persis kapan awalnya—yang pasti sejak masa BBM masih menjadi medium utama. Dari sanalah Kanda Ali menghubungi saya, membuka diskusi, dan perlahan menjadikannya kebiasaan. Percakapan kami tak pernah dangkal; selalu berisi pertukaran gagasan, kritik, dan dialektika.

Kanda Ali tampaknya menyukai pemikiran-pemikiran saya yang berbeda dengan beliau. Dalam banyak hal, justru perbedaan itu yang membuat diskusi kami hidup. Kanda Ali dikenal sebagai sosok yang dalam pemikirannya mengidolakan sebuah sistem yang ia yakini sebagai harapan umat: khilafah. Sebuah pandangan yang secara tegas bertolak belakang dengan pemikiran saya. Namun perbedaan itu tidak pernah berubah menjadi jarak personal. Kami berdiskusi melalui chat dan telepon, panjang dan berulang, kadang hangat, kadang tajam—dan hingga akhir hayat beliau, perbedaan itu tetap ada.

Meski demikian, ada satu hal yang tidak pernah berbeda: cara kami memosisikan satu sama lain. Kanda Ali memperlakukan saya sebagai adindanya, dan saya menempatkan beliau sebagai kakanda. Hubungan itu melampaui sekadar perdebatan ideologis; ia menjadi ikatan etis dan emosional.

Harapan beliau tentang khilafah banyak diterjemahkan dalam karya-karya buku dan esai yang ditulisnya dengan penuh keyakinan. Kanda Ali adalah sosok yang konsisten. Dalam keyakinannya, nyaris tak terlihat keraguan, meskipun ia sering meminta otokritik dari saya. Ia mendengar, meski tidak selalu sepakat.

Suatu saat kami berjumpa. Pertemuan itu terjadi pada momen yang sarat simbol: saat-saat terakhir organisasi khilafah “HTI” dibubarkan  di Indonesia. Kala itu saya sedang nongkrong di kantor PP. GP. Ansor, sementara Kanda Ali berada di Jakarta. Ia mengajak bertemu dan berdiskusi. Maka terjadilah dialog panjang tentang khilafah—ironis sekaligus bersejarah—di kantor PP GP Ansor. Tentunya, sebagaimana tradisi di hijau hitam, akhir diskusi, beliau meminta bergeser ke tempat lain, mengajak mentraktir menu penutup.

Di sanalah terjadi momen yang tak pernah saya lupakan. Kanda Ali memuji saya. Ia memuji pemikiran saya, cara saya berdalil, dan konsistensi sikap saya. Pujian itu tulus, dan jujur saja, membuat saya terharu. Ia bahkan mengatakan bahwa ia bersyukur memiliki adinda seperti saya. Sebuah pengakuan yang melampaui perbedaan ideologi. Kalimat itu sederhana, tetapi berat. Dan bagi saya, itu adalah bentuk pengakuan tertinggi: bahwa persaudaraan bisa hidup bahkan ketika ideologi tak pernah berdamai.

Kanda Ali Muslim telah pergi. Namun jejaknya tinggal—dalam tulisan-tulisannya, dalam keyakinannya, dan dalam kenangan dialog yang jujur dan berani. Kami tidak pernah sepakat dalam banyak hal. Mungkin memang tidak ditakdirkan untuk sepakat. Tetapi kami sepakat untuk saling mencintai dan menghormati.

Selamat jalan, Kanda. Engkau pergi dengan keyakinan yang kau jaga sampai akhir, dan meninggalkan jejak yang tak akan mudah dilupakan. Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerima seluruh ikhtiar dan kejujuran niatmu, mengampuni segala khilafmu, serta menempatkanmu di sisi terbaik yang Dia kehendaki.

Kanda, terima kasih telah menjadikan perbedaan sebagai ruang peneguh persaudaraan. Doa adinda selalu menyertai Kanda. Saya sangat percaya, saat ini Kanda sedang bahagia di alam sana. Semoga kita kelak dipertemukan kembali di jannah-Nya. Amin YRA

Adinda Wahyu

Komentar Facebook

Berita Terkait

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan
Menjaga Kepercayaan Masyarakat
Kuota Perempuan Bukan Sekedar Angka
Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Kemajuan: Program Unggulan Pemerataan Koperasi Desa Merah Putih Memutus Rantai Ketimpangan Perputaran Ekonomi Kota dan Desa
Presiden Prabowo, Dari Pinggiran Menuju Pusat Prestasi: Program Unggulan Pemerataan Sekolah Rakyat Memutus Rantai Ketimpangan Pendidikan Berkualitas antara Kota dan Desa
Ciri Khas Pesantren Cabul Telah Lama Dibongkar di Novel Metamorfosis Cinta
Ekspor SDA Satu Pintu: Membaca Kebijakan Prabowo melalui Teori Realitas Terintegrasi
Refleksi Harkitnas: Pendidikan Harus Melahirkan Pemimpin Berintegritas dan Berpihak kepada Rakyat

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 18:51 WIB

GUNTUR Sultra Dukung Kebijakan Presiden Prabowo Perkuat Peran Koperasi dan UMKM Kelola Sektor Strategis

Senin, 27 Juli 2026 - 13:32 WIB

Kawal Tata Kelola dan Keberlanjutan Korporasi, Presiden Komisaris PT Mustika Ratu Tbk Perkuat Langkah Menuju Pasar Global

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:44 WIB

Pelatihan AI GP Ansor Depok Disambut Antusias, Yuni Indriany: Anak Muda Harus Jadi Pencipta Teknologi

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:48 WIB

Pengajian Al-Hikam Jadi Ruang Refleksi Pembangunan, Rohmat Rospari: Mari Menilai Secara Utuh

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:18 WIB

Di Pengajian Al-Hikam, Wali Kota Depok Supian Suri Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:37 WIB

KSR PMI Unit PPGI Gelar Donor Darah, Wujud Kepedulian dalam Dies Natalis ke-24 Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:32 WIB

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 12:00 WIB

Supian Suri Tegaskan Pendidikan Jadi Prioritas, KuduSS Ramah Siap Kawal Program Kerakyatan Pemkot Depok

Berita Terbaru