Tulungagung, Siaran Indonesia – Wakil Ketua Komisi VI DPR M. Sarmuji menjelaskan terkait tantangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang terjadi akibat pengabaian nilai-nilai kebangsaan. Beberapa di antaranya seperti, pengabaian sila-sila Pancasila yang melahirkan praktik liberalisme ekonomi.
Sarmuji menyampaikan itu saat menggelar sosialisasi empat pilar di Kantor Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur pada Sabtu 15 Juni 2024. Di sisi lain, Sarmuji menyampaikan pengabaian terhadap sesanti Bhinneka Tunggal Ika memunculkan konflik horizontal di tengah masyarakat.
“Seiring perkembangan zaman, kita pun akan dihadapkan pada berbagai tantangan dalam kehidupan berbangsa. Antara lain semakin lunturnya jati diri dan kepribadian bangsa, tergerusnya penghormatan terhadap kebhinekaan dan kemajemukan, melemahnya penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila, serta ‘menguapnya’ nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Sarmuji.
Lebih lanjut, Ketua DPD Partai Golkar Jatim ini pun mengungkapkan pengaruh globalisasi dan persaingan antarbangsa juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Demikian juga menguatnya intensitas dari ‘intervensi’ kekuatan global dalam beberapa aspek yang turut mempengaruhi perumusan berbagai kebijakan nasional.
“Dari gambaran fakta sejarah serta hadirnya berbagai tantangan kebangsaan, menjadi alasan urgensi pemasyarakatan nilai-nilai kebangsaan dalam Empat Pilar MPR RI,”tuturnya.
Dengan semakin menguatnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan secara utuh dan menyeluruh, diharapkan akan menjadi benteng yang kokoh dalam menangkal pengaruh buruk dan dampak negatif dari berbagai tantangan kebangsaan. Baik yang datang dari faktor internal maupun eksternal tersebut.
Sementara dalam urusan penguatan nilai-nilai kebangsaan, lanjut Sarmuji, tidak boleh ada satu pun elemen masyarakat yang ditinggalkan. Sebab, semua masyarakat statusnya sama di depan hukum. Karenanya tidak boleh ada pembedaan ras, suku, dan golongan.























