Siaranindonesia.com, JAKARTA – Ketua Bidang Lingkungan Hidup PB HMI Andi Kurniawan meminta Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus), Letnan Kolonel (Purn) Aris Marsudiyanto untuk mengusut dan membongkar persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Andi mendesak Aris agar menelusuri penyebab karhutla yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua.
Ia berharap Bappisus mengungkap kemungkinan pelanggaran hukum serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut.
“Saya meminta Kepala Bappisus Aris Marsudiyanto membongkar persoalan karhutla di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua. Sebagaimana beliau mengusut dugaan fasilitas mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong, persoalan karhutla juga perlu mendapat perhatian serius,” ujar Andi Kurniawan, Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut Andi, penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman api dan pemulihan wilayah terdampak.
Selain itu, menurutnya, pemerintah perlu mengungkap penyebab kebakaran secara menyeluruh, termasuk menelusuri dugaan kelalaian maupun pelanggaran hukum.
“Jangan sampai karhutla terus berulang tanpa pengungkapan yang jelas. Jika terdapat indikasi pelanggaran hukum atau keterlibatan pihak tertentu, saya meminta Bappisus menelusurinya secara serius dan transparan,” tegasnya.
Andi menilai, pengusutan tersebut penting untuk memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak yang terbukti melanggar hukum. Langkah itu juga diperlukan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan terus berulang.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi langkah Aris yang turun langsung mengusut dugaan fasilitas mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Andi berharap pendekatan serupa juga menyasar persoalan karhutla yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat di berbagai daerah.
“Saya mengapresiasi langkah Kepala Bappisus membongkar kasus di Lapas Cibinong. Saya berharap keberanian mengusut persoalan tersebut juga ditunjukkan dalam penanganan karhutla, sehingga akar masalah dan pihak yang bertanggung jawab dapat terungkap,” tambahnya.
Sebagai informasi, Indonesia tengah menghadapi bencana karhutla yang selama tiga bulan terakhir.
Bencana tersebut mengakibatkan beragam dampak baik dari kesehatan, penerbangan, hingga kerugian ekonomi.
Bedasarkan catatan Kompas, bencana karhutla menyebabkan 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak sejak 18 Agustus-13 Oktober 2026.
Karhutla juga berdampak pada 2.458 penerbangan berjadwal dalam negeri terhitung sejak 11 Agustus-17 Oktober 2026.
Editor: M. Fatkhul Maskur
























