Penelitian AI Deepfake Asusila Raih Best Paper Award Semnasip UT 2026

- Editor

Selasa, 15 September 2026 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KENDARI, SiaranIndonesia.com — Penelitian mengenai pencegahan penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menghasilkan konten deepfake asusila di lingkungan perguruan tinggi meraih Best Paper Award dalam Seminar Nasional Ilmu Pendidikan (Semnasip) Universitas Terbuka (UT) 2026.

Penelitian berjudul “Framing Pemberitaan AI Deepfake Asusila terhadap Mahasiswa di Indonesia sebagai Dasar Pengembangan Model Pencegahan Komunikasi di Perguruan Tinggi” tersebut dikembangkan oleh Irmawanti, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Halu Oleo (UHO), sebagai ketua tim peneliti, bersama Fajar Nanang Trianto dari Universitas Terbuka sebagai anggota.

Penghargaan tersebut menjadi apresiasi terhadap penelitian yang menawarkan perspektif komunikasi dalam menghadapi perkembangan generative AI, khususnya penyalahgunaan teknologi untuk memanipulasi representasi visual seseorang menjadi konten seksual tanpa persetujuan.

AI Hadirkan Tantangan Baru dalam Komunikasi Digital

Perkembangan generative AI membuat produksi dan manipulasi gambar, video, maupun audio semakin mudah dengan tingkat kemiripan yang tinggi. Di satu sisi, teknologi ini memberikan berbagai manfaat dalam kehidupan digital. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan risiko baru, termasuk penyalahgunaan melalui deepfake asusila.

Persoalan ini menjadi semakin relevan di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa merupakan kelompok yang intens menggunakan teknologi digital dan media sosial. Foto, informasi personal, serta identitas digital mahasiswa dapat tersebar di berbagai ruang komunikasi dan berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan konten sintetis tanpa persetujuan.

Pemetaan awal yang dilakukan tim peneliti menemukan sedikitnya lima kasus yang berkaitan dengan mahasiswa dan penyalahgunaan AI deepfake asusila sepanjang 2025–2026.

Menurut Irmawanti, persoalan tersebut tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan teknologi.

“Interaksi sosial di lingkungan kampus memungkinkan foto, informasi personal, dan identitas digital mahasiswa tersedia dalam berbagai ruang komunikasi. Ketika materi tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan deepfake asusila, korban tidak hanya menghadapi persoalan hilangnya kendali atas representasi dirinya, tetapi juga berpotensi mengalami kerugian sosial, akademik, psikologis, dan reputasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, deepfake asusila di lingkungan perguruan tinggi perlu dipahami sebagai persoalan komunikasi digital yang melibatkan hubungan antara teknologi, individu, institusi, media, dan mekanisme perlindungan korban.

Tawarkan Model Pencegahan Komunikasi

Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini mengembangkan model pencegahan komunikasi terhadap penyalahgunaan AI deepfake asusila di lingkungan perguruan tinggi.

Model tersebut terdiri atas tujuh komponen utama, yakni edukasi, proteksi, deteksi, pelaporan, respons cepat, perlindungan korban, dan pemulihan.

Ketujuh komponen tersebut dirancang sebagai satu kesatuan mekanisme komunikasi untuk menghadapi risiko deepfake asusila sejak tahap pencegahan hingga pemulihan setelah kasus terjadi.

Pendekatan ini sekaligus menggeser pola penanganan dari pendekatan reaktif menuju pendekatan preventif dan responsif. Pencegahan tidak hanya dilakukan setelah kasus muncul, tetapi dimulai dengan membangun literasi, meningkatkan kesadaran risiko, melindungi identitas digital, memperkuat kemampuan mendeteksi konten manipulatif, serta menyediakan jalur pelaporan yang jelas.

Tanggung jawab pencegahan juga tidak dibebankan hanya kepada mahasiswa. Perguruan tinggi, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT/PPKS), aparat penegak hukum, serta platform digital ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem komunikasi pencegahan.

Framing Media Ungkap Communication Gap

Salah satu kontribusi utama penelitian tersebut adalah penggunaan perspektif framing media untuk mengidentifikasi bagaimana isu deepfake asusila dikonstruksi dan dikomunikasikan kepada publik.

Analisis dilakukan untuk melihat bagaimana korban, pelaku, teknologi, risiko, serta mekanisme perlindungan ditampilkan dalam pemberitaan. Dari proses tersebut, tim peneliti mengidentifikasi adanya communication gap yang perlu diperhatikan dalam membangun mekanisme pencegahan dan perlindungan korban.

Hasil analisis tersebut kemudian menjadi dasar konseptual dalam merumuskan model pencegahan komunikasi.

“Penelitian ini tidak hanya mempertanyakan bagaimana kasus deepfake asusila ditangani setelah terjadi, tetapi bagaimana komunikasi dapat dirancang untuk mencegah risiko, meningkatkan kemampuan deteksi dan pelaporan, mempercepat respons, serta memastikan korban memperoleh perlindungan dan pemulihan,” kata Irmawanti.

Korban Ditempatkan sebagai Pusat Perlindungan

Model yang dikembangkan juga memberikan perhatian khusus terhadap posisi korban. Penyebaran deepfake asusila dapat menyebabkan korban kehilangan kendali atas representasi dirinya dan menghadapi berbagai konsekuensi sosial maupun reputasional.

Karena itu, mekanisme penanganan perlu menghindari komunikasi yang justru memperbesar kerugian korban.

Jalur pelaporan, respons cepat, koordinasi antarlembaga, perlindungan identitas, serta dukungan pemulihan menjadi bagian penting dalam kerangka yang ditawarkan.

Pendekatan tersebut menempatkan perlindungan korban sebagai bagian integral dari komunikasi pencegahan, bukan sekadar tahap tambahan setelah proses penanganan kasus.

Mendorong AI yang Aman dan Berorientasi pada Perlindungan

Perolehan Best Paper Award Semnasip UT 2026 memperkuat pentingnya perspektif komunikasi dalam memahami perkembangan sekaligus risiko AI.

Penelitian ini menegaskan bahwa tantangan AI bukan hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi dalam menghasilkan konten sintetis, tetapi juga kesiapan individu, institusi, media, dan platform dalam membangun sistem komunikasi yang mampu mencegah serta merespons penyalahgunaan teknologi.

Melalui model pencegahan komunikasi yang dikembangkan, penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar konseptual bagi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem komunikasi digital yang preventif, responsif, dan berorientasi pada perlindungan korban.

Penghargaan ini sekaligus menunjukkan pentingnya penelitian lintas perspektif dalam menghadapi perkembangan AI. Teknologi tidak hanya perlu dikembangkan berdasarkan kemampuan teknisnya, tetapi juga harus ditempatkan dalam konteks sosial, komunikasi, etika, keamanan, dan perlindungan manusia.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Perkuat Perlindungan & Daya Saing Ekonomi, BPOM Gelar Forum Menenun Kebijakan Bersama Lintas Sektor
Menhut Raja Antoni: Perintah Presiden Prabowo Semua Bahu-membahu Cegah Api Masuk Zona Inti OIKN
Menhut Raja Antoni Kembali Bekukan Izin 3 Perusahaan Terkait Karhutla Kaltim
Syarat Pemimpin Teknokratik HMI; Perkuat Bahasa Nilai dan Kebijakan
TMI Sultra: Sinergi HKTI dan Pemprov Bisa Jadikan Sultra Lumbung Pangan Nasional
Wapres Gibran Tinjau Karhutla Kalbar, Menhut Raja Antoni Dampingi
4,4 Juta Pelaku Retail dan e-Commerce Dorong Kebutuhan Produk dan Supplier Baru, Global Sources Indonesia Kembali Hadir di JICC Senayan
Taruna Ikrar: Regulasi Pangan Harus Lindungi Konsumen Tanpa Menghambat Inovasi

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:05 WIB

Penelitian AI Deepfake Asusila Raih Best Paper Award Semnasip UT 2026

Selasa, 15 September 2026 - 14:15 WIB

Perkuat Perlindungan & Daya Saing Ekonomi, BPOM Gelar Forum Menenun Kebijakan Bersama Lintas Sektor

Senin, 14 September 2026 - 21:44 WIB

Menhut Raja Antoni: Perintah Presiden Prabowo Semua Bahu-membahu Cegah Api Masuk Zona Inti OIKN

Senin, 14 September 2026 - 21:41 WIB

Menhut Raja Antoni Kembali Bekukan Izin 3 Perusahaan Terkait Karhutla Kaltim

Jumat, 11 September 2026 - 20:49 WIB

TMI Sultra: Sinergi HKTI dan Pemprov Bisa Jadikan Sultra Lumbung Pangan Nasional

Jumat, 11 September 2026 - 12:48 WIB

Wapres Gibran Tinjau Karhutla Kalbar, Menhut Raja Antoni Dampingi

Jumat, 11 September 2026 - 09:21 WIB

4,4 Juta Pelaku Retail dan e-Commerce Dorong Kebutuhan Produk dan Supplier Baru, Global Sources Indonesia Kembali Hadir di JICC Senayan

Jumat, 11 September 2026 - 02:41 WIB

Taruna Ikrar: Regulasi Pangan Harus Lindungi Konsumen Tanpa Menghambat Inovasi

Berita Terbaru