Anak NU Ber-HMI Jadi Ideal: Intelektualitas Kuat, Jaringan Luas, Sehat dari Penyakit Mental Sektarianisme

- Editor

Selasa, 1 September 2026 - 04:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, SiaranIndonesia.com — Pernyataan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut NU mengalami kerusakan karena dipimpin kader HMI menuai banyak tanggapan. Hal tersebut, karena banyak kader HMI yang menjadi pucuk pimpinan di NU dan banomnya di semua tingkatan, dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU, hingga ranting NU.

Dr. Ali Mahmudi, warga NU yang dua anaknya yang merupakan mahasiswa kedokteran dan teknik, disamping semangat ber-NU juga sangat aktif berproses di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Ia menilai latar belakang organisasi tidak dapat menjadi ukuran tunggal kepemimpinan.

Apabila digambarkan dalam pandangannya, anak-anak NU menjadi semakin ideal jika juga ber-HMI. Dikarenakan anak NU yang berproses di HMI akan dapat membawa manfaat besar bagi NU.

Dengan Ber-HMI, anak-anak NU maka intelektualitasnya terasah, jejaringnya meluas, jauh dari penyakit mental sektarianisme atau jauh dari bahaya penyakit jiwa chauvinisme atau jauh dari bahaya mental ashabiah.

“Anak NU yang ber-HMI bukan sedang menjauh dari NU. Ia sedang memperkaya bekal untuk kembali mengabdi kepada NU dengan wawasan yang lebih luas, jaringan yang lebih kuat, dan kemampuan membaca persoalan yang lebih tajam,” katanya, Senin, (31/08/2026).

Di HMI, anak-anak NU belajar berdialog dengan beragam pemikiran, latar belakang, dan pengalaman sosial. Mereka belajar berbeda tanpa bermusuhan, berdiskusi tanpa merasa paling benar, serta membangun jaringan tanpa kehilangan identitas.

Pengalaman itu tercermin pada dua anak Ali Mahmudi. Azkiya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran dan berproses melalui HMI. Sementara Afkar merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya yang juga aktif berproses di HMi.

Kisah mereka ditulis dalam Melintas.ID, “Ketika NU dan HMI Dipertentangkan, Anak-Anak Saya Justru Memilih Jalan yang Berbeda.”

Kritik Harus Proporsional

Ali memahami kritik terhadap kepemimpinan NU sebagai bagian dari dinamika organisasi. Namun, kritik seharusnya diarahkan pada kebijakan, kinerja, dan tata kelola, bukan identitas organisasi ataupun kampus tertentu.

“Kalau ada kebijakan yang keliru, kritiklah kebijakannya. Jangan menjadikan latar belakang HMI sebagai kambing hitam,” katanya.

Menurut Ali, pengalaman lintas organisasi justru dapat memperkuat khidmah, wawasan, dan pengabdian NU.

Memperluas Diri, Bukan Meninggalkan NU

Anak NU yang masuk HMI tidak sedang meninggalkan akar. Ia memasuki ruang perjumpaan yang lebih luas, belajar menerima perbedaan, menyampaikan gagasan, dan bekerja sama dengan berbagai kalangan.

Intelektualitas tumbuh dari perjumpaan, bukan keseragaman.

Nilai tawasuth dan inklusivitas diuji dalam kehidupan nyata. Pengalaman berorganisasi di lingkungan plural membantu kader NU menghadapi masyarakat, profesi, dan ruang publik yang beragam tanpa terjebak sektarianisme.

Karena itu, anak NU yang ber-HMI justru dapat menjadi aset strategis bagi NU. Ia membawa tradisi ke-NU-an ke ruang yang lebih luas, menjelaskan nilai-nilai Islam NU yang jauh lebih moderat dengan bahasa yang dapat diterima banyak kalangan, serta membangun jembatan antara komunitas, profesi, dan kelompok sosial yang beragam.

Azkiya dan Afkar

Azkiya memadukan pendidikan kedokteran dengan pengalaman organisasi. Bekal itu penting karena dokter tidak hanya menghadapi penyakit, tetapi juga manusia dengan latar belakang yang beragam.

Afkar mengembangkan LTMI di bidang teknologi. Pengalaman lintas disiplin membantunya melihat teknologi bukan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sosial, etis, dan kemanusiaan.

Identitas Kuat Tidak Takut pada Perbedaan

Menjadi anak NU dan kader HMI tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat melahirkan kader yang berakar, beridentitas, berprinsip, dan tetap terbuka berdialog.

Anak NU ber-HMI bukan kehilangan akar, tetapi memperluas cakrawala. Menguatkan intelektualitas. Bukan meninggalkan identitas, tetapi mendewasakannya. Bukan menjadi sektarian, atau  menjauhkan diri dari mental sektarian. Juga memperluas jaringan, dan memperkaya ruang pengabdiannya. Pada akhirnya memperkuat NU.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Saiful Chaniago Dukung Penuh Kapolri Larang Peredaran Vape: Demi Selamatkan Generasi Bangsa dari Bahaya Narkoba Terselubung
Kemenag Bagikan Praktik Baik Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid di Forum MABIMS Malaysia
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar Dorong Unpar Menuju Kampus Kelas Dunia melalui Neuroscience Leadership
Prayoga Apresiasi Langkah Kapolri Petakan Wilayah Rawan Narkoba
Mendesain Penguatan Party ID dalam RUU Pemilu
Menhut Raja Juli Ungkap 5-6 Perusahaan Terancam Dicabut Izinnya akibat Karhutla
Kepala BPOM Taruna Ikrar Ajak Ratusan Ribu Apoteker IAI Bersinergi Perkuat Ketahanan Obat Nasional
Taruna Ikrar Dorong Mahasiswa Unram Bangun Kepemimpinan Berbasis Neurosains

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Pancasila, Reformasi, dan IRT: Mencari Kerangka untuk Mengisi Kemerdekaan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:16 WIB

BIAS CELIOS DAN KINERJA BAHLIL: Anatomi Metodologis Sebuah Kesimpulan yang Dikemas Sebagai Sains

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:39 WIB

Nobel Ekonomi 2026, Keluarga Jadi Fondasi Stabilitas Nasional

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 00:44 WIB

DANANTARA: MESIN INDUSTRIALISASI ATAU PEDAGANG KOMODITAS?

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Sufmi Dasco Ahmad dalam Perspektif Fiqih: Politik Maslahah dan Seni Menjaga Titik Temu

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Membaca Transformasi Polri dalam Mengawal Aspirasi Rakyat

Senin, 14 September 2026 - 15:45 WIB

Tragedi Kecelakaan Kapal dan Urgensi Evaluasi Total Sistem Keselamatan Pelayaran Indonesia

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:34 WIB

Energi, Informasi, dan Entropi: Mengapa Sistem Bisa Gagal Meski Sumber Dayanya Cukup

Berita Terbaru