Siaranindonesia.com, JAKARTA – Indonesia saat ini tengah berada di ambang pergeseran struktur demografi yang signifikan. Transisi demografi menuju ageing society adalah keniscayaan sejarah dengan tantangan utamanya bukan sekadar merawat jumlah lansia yang semakin banyak.
Berdasarkan riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”, proporsi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia telah mencapai 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan melonjak hingga melampaui 20 persen pada tahun 2045.
Fenomena ageing society ini membawa implikasi yang mendalam bagi struktur sosial, ekonomi, dan dinamika keluarga di tanah air. Di satu sisi, Indonesia memang masih menikmati jendela bonus demografi dengan 69 persen populasi berada di usia produktif (15–65 tahun) pada tahun 2025.
Namun, jendela kesempatan ini semakin menyempit akibat tren penurunan tingkat fertilitas dan meningkatnya angka harapan hidup. Perubahan ini memicu terbentuknya struktur keluarga yang cenderung semakin kecil, sementara beban tanggungan terhadap populasi lansia justru semakin besar.
Pergeseran Struktur Keluarga dan Tekanan Sandwich Generation
Transisi demografi yang sedang berlangsung ditandai oleh dua indikator utama yang saling bertaut, yaakni penurunan angka kelahiran dan pernikahan, serta kecilnya ukuran keluarga dan beban tanggungan.
Pertama, penurunan angka kelahiran dan pernikahan. Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia mengalami penurunan tajam dari 3,11 anak per perempuan pada awal dekade 1990-an menjadi 2,13 pada tahun 2024, dan diproyeksikan akan terus turun hingga mencapai 1,97 pada tahun 2045.
Di sisi lain, jumlah pernikahan nasional juga merosot dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025.
Kedua, kecilnya ukuran keluarga dan beban tanggungan. Struktur keluarga yang semakin kecil berarti jumlah anggota keluarga di usia produktif yang dapat diandalkan untuk berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua menjadi semakin sedikit.
Kondisi ini memperbesar risiko meningkatnya tekanan sandwich generation—di mana generasi produktif harus membiayai anak-anak mereka sekaligus menanggung kebutuhan hidup orang tua lansia.
Realitas Ekonomi Lansia
Kerentanan struktur sosial ini semakin nyata ketika melihat kondisi ekonomi para lansia di lapangan. Berdasarkan data riset DBS Foundation, sebanyak 55,32 persen lansia di Indonesia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, di mana 84,75 persen dari mereka menggantungkan hidup di sektor informal.
Secara nasional, sektor informal sendiri mendominasi 59,42 persen tenaga kerja Indonesia yang identik dengan pendapatan rendah, tidak menentu, serta minimnya akses terhadap jaminan atau tunjangan ketenagakerjaan. Akibat minimnya skema perlindungan sosial dan pensiun formal, sekitar 82,96 persen rumah tangga lansia pada akhirnya sangat bergantung pada penghasilan dari anggota keluarga yang sedang bekerja. Ironisnya, kurang dari 1 persen lansia yang kehidupannya ditopang oleh tabungan dan hasil investasi pribadi.
Kesenjangan ini diperparah oleh tingkat pendidikan rata-rata generasi lansia saat ini yang berada di kisaran 6 tahun (lulusan SD), sementara generasi pekerja saat ini berada di sekitar 9 tahun (lulusan SMP). Keterbatasan akses pendidikan di masa lalu berdampak langsung pada rendahnya peluang ekonomi dan produktivitas di masa tua.
Memutus Rantai Ketergantungan
Menghadapi ancaman sandwich generation di tengah era populasi menua tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pola pikir menabung secara konvensional atau pembebanan finansial pada individu di usia produktif. Diperlukan pendekatan holistik sepanjang siklus kehidupan (life-course approach) yang melibatkan kolaborasi multisektor.
Pertama, penguatan akses pendidikan dan kualitas kerja. Ini perlu dilakukan dengan memperluas partisipasi pendidikan formal hingga minimal 12 tahun guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperbesar peluang kerja berproduktivitas tinggi di masa depan.
Kedua, perluasan skema jaminan pensiun inklusif. Mengingat tingginya proporsi pekerja di sektor informal, diperlukan inovasi dan fleksibilitas skema dana pensiun yang menjangkau pekerja non-formal agar cakupan perlindungan sosial semakin luas.
Ketiga, perencanaan finansial sejak usia dini. Generasi produktif perlu didorong untuk memanfaatkan instrumen perencanaan keuangan yang matang—termasuk pemanfaatan teknologi literasi finansial seperti kalkulator perencanaan pensiun—serta berinvestasi pada kesehatan dan keterampilan (lifelong learning).
Transisi demografi menuju ageing society adalah keniscayaan sejarah. Tantangan utamanya bukan sekadar merawat jumlah lansia yang semakin banyak, melainkan bagaimana membangun kesiapan kolektif lintas generasi. Melalui kebijakan lintas sektor yang terintegrasi, dukungan dunia usaha, serta kesadaran individu sejak usia produktif, rantai ketergantungan sandwich generation dapat diputus demi mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, mandiri, dan sejahtera di masa depan.
























