Puspoll Indonesia: Viral Lagu Mas Bahlil Ganteng ( MBG) Tunjukkan Perubahan Cara Publik Membaca Politik

- Editor

Senin, 1 Juni 2026 - 19:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Siaranindonesia.com, Jakarta – Lagu viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” yang viral di TikTok dan Instagram dinilai bukan sekadar tren hiburan media sosial. Di balik lirik yang ringan dan mudah diingat, fenomena tersebut dianggap menunjukkan perubahan cara publik berinteraksi dengan isu politik dan figur pejabat publik di era digital.

Direktur Eksekutif Pusat Polling Indonesia (Puspoll Indonesia), Chamad Hojin, mengatakan lagu tersebut menarik lantaran lahir dari permainan makna atas akronim Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu istilah yang sebelumnya lebih dikenal sebagai bagian dari diskursus kebijakan publik.

“Kalau dilihat dari perspektif komunikasi, ini bukan cuma soal lagu lucu yang viral. Ada proses ketika publik mengambil narasi yang awalnya serius lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih ringan, lebih menghibur, dan lebih mudah beredar di ruang digital,” kata Hojin saat dimintai tanggapan, Senin(1/6/2026).

Menurut Hojin, fenomena semacam ini cukup lazim dalam budaya digital saat ini. Publik sering menggunakan humor, meme, atau parodi untuk merespons isu-isu politik tanpa harus masuk ke perdebatan yang terlalu serius.

Lebih lanjut, Hojin yang juga praktisi handling krisis menilai lagu MBG memperlihatkan bagaimana humor mulai menjadi salah satu bahasa politik yang paling efektif di media sosial. Kritik, sindiran, hingga dukungan bisa hadir dalam bentuk yang sama dan sulit dibedakan secara tegas.

“Orang sekarang sering menertawakan politik bukan karena tidak peduli, tapi justru karena itu cara mereka berinteraksi dengan isu yang sedang ramai. Humor dan satire membuat jarak antara publik dan kekuasaan terasa lebih cair,” ujarnya.

Menurut dia, lagu tersebut juga menunjukkan bagaimana ruang digital bekerja. Ketika satu konten terus diputar, digunakan ulang, dan muncul berulang kali di linimasa, maka pesan yang dibawanya akan semakin melekat di ingatan publik.

Hojin yang pernah mendalami khusus komunikasi digital di NTU,
menjelaskan dalam studi komunikasi terdapat konsep mere exposure effect, yakni sesuatu yang terus-menerus muncul akan lebih mudah dikenal dan terasa akrab bagi masyarakat. Karena itu, viralitas lagu seperti MBG secara tidak langsung ikut menciptakan eksposur yang besar terhadap figur yang disebut di dalamnya.

“Terlepas dari awalnya dibuat untuk bercanda atau satire, ketika sebuah lagu terus diputar dan digunakan banyak orang, figur yang ada di dalam lagu itu juga ikut mendapatkan perhatian publik. Ini yang membuat batas antara hiburan dan personal branding politik menjadi semakin tipis,” katanya.

Lebih jauh, Hojin melihat fenomena lagu MBG menunjukkan perubahan pola komunikasi politik di Indonesia. Jika dulu kritik lebih banyak muncul lewat tulisan, diskusi publik, atau demonstrasi, kini kritik bisa hadir dalam bentuk lagu, video pendek, hingga konten viral.

Menariknya, kata dia, konten semacam itu tidak selalu berujung pada konflik atau penolakan. Dalam banyak kasus, justru diterima sebagai bagian dari budaya digital yang dinikmati bersama.

“Yang menarik, sesuatu yang mungkin awalnya satire bisa berubah menjadi hiburan massal. Di situlah kita melihat bahwa ruang digital sekarang membuat batas antara kritik, hiburan, dan politik semakin cair,” ujar Hojin.

Menurutnya, fenomena lagu MBG menjadi contoh bagaimana komunikasi politik hari ini tidak lagi hanya berlangsung melalui pidato, konferensi pers, atau media konvensional, tetapi juga melalui konten-konten populer yang hidup di media sosial.

“Politik sekarang juga hidup di TikTok, Instagram, dan berbagai ruang digital lainnya. Karena itu, cara publik memahami figur dan kebijakan juga ikut berubah,” tutupnya.

(*)

Komentar Facebook

Berita Terkait

Tembok Ambruk Bongkar Borok PT IKN: Setahun Beroperasi Tanpa Dokumen, DLH Banyumas Sebut Berkas Tak Pernah Masuk
Bedah Buku di UIN Jakarta, Budy Sugandi Ulas Kemitraan Strategis Indonesia–Tiongkok
Puspoll Indonesia Apresiasi Kapolri Usut Kasus Penyadapan, Minta Motif dan Aktor di Baliknya Diungkap
Ahli Waris Persoalkan Uang Rp2,28 Miliar Diatasnamakan Tagihan Pajak Penghasilan, Inisial AK Staf Protokol Kemenko PMK Dilaporkan ke Polisi
Pertamina NRE Gandeng Agrinas dan SGN Akselerasi Pengembangan Bioenergi Nasional
Larangan Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Garuda Institute: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional
Pertemuan Hangat Dua Tokoh Nasional, Taruna Ikrar dan Jenderal Suyudi Bahas Narkotika hingga Keamanan Pangan
PT Solusi Baitullah Indonesia dan Intan Travel Perkuat Sinergi, Hadirkan Beragam Program Umrah

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 11:37 WIB

Warga Iran Bikin ‘Perisai Manusia’ di Pembangkit Listrik Hadapi Ancaman Trump

Selasa, 10 Maret 2026 - 08:07 WIB

Empat Mahasiswi Indonesia di Yordania Diduga Jadi Korban Pelecehan oleh Senior

Senin, 2 Maret 2026 - 20:59 WIB

Situs Iran, IRNA Down

Senin, 2 Maret 2026 - 18:42 WIB

Ramadhan, Pengkhianatan, Rudal: Catatan Hubungan Iran – Amerika

Minggu, 1 Maret 2026 - 23:11 WIB

Jutaan Warga Iran Turun ke Jalan Usai Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:24 WIB

Prabowo Sapa Anak-Anak Indonesia di Jeddah, Titip Pesan: Belajar yang Baik

Jumat, 4 Juli 2025 - 14:15 WIB

Prabowo Tiba di Jeddah, Disambut Pejabat Arab Saudi dan Diaspora Indonesia

Jumat, 4 Juli 2025 - 13:45 WIB

Ikuti Kebutuhan Pasar, UMKM Kuliner Binaan BRI Sukses Ekspansi Pasar Internasional

Berita Terbaru