Melawan “Pabrik Kecanduan” di Saku Anak Kita

- Editor

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Muhammad Ridal (Direktur Milenial Institute)

Muhammad Ridal (Direktur Milenial Institute)

Oleh : Muhammad Ridal (Direktur Milenial Institute) 

Di tengah kecemasan orang tua melihat anak yang tak bisa lepas dari gawai, sebuah stigma usang kerap berulang: anak kita dicap malas, manja, atau tidak disiplin. Ketika gawai diambil dan anak mengamuk, kita buru-buru menghakimi karakter mereka. Namun, ada satu kebenaran tidak nyaman yang luput dari perhatian: anak-anak kita tidak sedang sekadar bermain, mereka sedang bertarung melawan algoritma bernilai miliaran dolar yang sengaja didesain untuk merampas perhatian mereka.

Kita perlu jujur melihat lanskap digital hari ini. Persoalan anak yang terus menggulirkan layar (scrolling) atau enggan berhenti bermain gim bukanlah masalah moralitas atau kegagalan pola asuh semata. Ini adalah pertempuran biologis yang tidak seimbang.

Ponsel pintar dan aplikasinya bekerja dengan memanipulasi reward system (sistem penghargaan) di dalam otak manusia. Setiap kali anak berhasil melewati level gim, mendapatkan lencana virtual, atau menemukan video lucu di media sosial, otak mereka memproduksi dopamin. Zat kimia ini melatih otak untuk mengulangi tindakan tersebut. Celakanya, industri teknologi memahami betul psikologi ini dan menyuntikkan metode variable reward—hadiah psikologis yang datang dengan waktu yang tidak terprediksi.

Mekanisme ini serupa dengan prinsip mesin judi kasino. Guliran (scroll) berikutnya di TikTok atau Instagram bisa jadi membosankan, tetapi bisa juga menyajikan video yang sangat menghibur. Ketidakpastian inilah yang memicu rasa penasaran tanpa akhir. Anak-anak terperangkap dalam ekspektasi kejutan yang membuat mereka terus mencoba “sekali lagi”.

Daya rusak ini diperparah oleh fitur autoplay yang menghilangkan jeda kesadaran untuk berhenti, serta fitur infinite scroll yang membuat konten mengalir tanpa batas. Jika dulu generasi 90-an terpaksa berhenti menonton karena sebuah acara televisi telah usai, anak zaman sekarang dihadapkan pada arus informasi yang tidak memiliki tombol “selesai”. Sistem telah mengambil alih keputusan mereka untuk tinggal.

Ironisnya, serangan bertubi-tubi dari fitur penahan perhatian ini harus dihadapi oleh anak-anak yang fungsi prefrontal cortex-nya—bagian otak yang bertanggung jawab mengendalikan impuls dan menimbang risiko jangka panjang—belum matang sempurna. Menuntut anak remaja untuk disiplin meletakkan HP sama saja dengan meminta seseorang menahan napas di dalam air dalam waktu lama; secara biologis, itu menyiksa mereka.

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini tidak bisa lagi dibebankan secara sepihak ke pundak orang tua atau anak. Menghukum anak atau menyita gawainya secara sepihak hanya akan memicu konflik domestik tanpa menyelesaikan akar masalah.

Langkah taktis di level keluarga memang harus dimulai: matikan notifikasi non-esensial, matikan fitur autoplay, buat zona bebas gawai di rumah, dan yang paling penting, orang tua harus berhenti menjadi sekadar “polisi gawai” melainkan menjadi teladan. Aturan batasan layar akan runtuh seketika jika anak melihat orang tuanya sendiri sibuk menggulir layar saat makan bersama.

Namun, di tingkat yang lebih makro, kita harus mulai menuntut akuntabilitas dari para raksasa teknologi. Platform digital harus didorong melalui regulasi ketat untuk menerapkan human-centered design yang ramah anak—bukan desain eksploitatif yang adiktif. Kurikulum literasi digital di sekolah juga tidak boleh lagi sekadar mengajarkan cara mengoperasikan komputer, melainkan harus membedah strategi industri digital dalam memanipulasi psikologi penggunanya.

Gawai sejatinya adalah alat untuk membantu anak belajar, berkreasi, dan terhubung dengan dunia. Jangan sampai, karena kelalaian kolektif kita, teknologi justru berbalik menjadi majikan baru yang mendikte dan mengendalikan tumbuh kembang masa depan mereka. Mendidik anak di era digital bukan tentang menjauhkan mereka dari teknologi, melainkan melatih mereka untuk tahu kapan harus menekannya, dan kapan harus meletakkannya.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Agenda Reforma Agraria di Tengah Badai Korupsi  
Jenderal Suyudi dan Jalan Memulihkan Kepercayaan Polisi
Pancasila, Reformasi, dan IRT: Mencari Kerangka untuk Mengisi Kemerdekaan
BIAS CELIOS DAN KINERJA BAHLIL: Anatomi Metodologis Sebuah Kesimpulan yang Dikemas Sebagai Sains
Nobel Ekonomi 2026, Keluarga Jadi Fondasi Stabilitas Nasional
DANANTARA: MESIN INDUSTRIALISASI ATAU PEDAGANG KOMODITAS?
Sufmi Dasco Ahmad dalam Perspektif Fiqih: Politik Maslahah dan Seni Menjaga Titik Temu
Membaca Transformasi Polri dalam Mengawal Aspirasi Rakyat

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 17:25 WIB

SMK Terpadu Al-Ikhwan Tasikmalaya Gelar Workshop Daya Juang dan Spirit Ruh Mudarris Bersama Konsultan Sekolah Alumni Gontor

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:15 WIB

SMP Islam Al-Alaq Hadirkan Konsultan PRIMAGEN Tes Minat Bakat Di Character Building Camp 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Merawat Harapan dan Senyum Anak-Anak Manggarai di Tengah Masa Pemulihan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Terpadu Al Ikhwan Tasikmalaya Gandeng PRIMAGO Consulting dalam Pengembangan Sekolah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:44 WIB

Mustika Ratu Perkuat Transformasi Bisnis, Dua Direksi Raih Penghargaan  CEO dan CFO Award 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Ekonom Minta Kebijakan Sertifikasi Halal Ditunda, Soroti Kesiapan Pelaku Usaha dan Risiko Ekonomi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:08 WIB

SMP Mumtaza Islamic School Gelar Fieldtrip 2026 Bersama Dirgantara AIA Tour Travel

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:25 WIB

PRIMAGEN kenalkan Tes Minat Bakat di Event Pramono SPEKIX 2026 di JCC Senayan Jakarta, Dorong Anak Disabilitas Mapping Talent Mapping Sejak Dini

Berita Terbaru

Muhammad Ridal (Direktur Milenial Institute)

Opini

Melawan “Pabrik Kecanduan” di Saku Anak Kita

Selasa, 20 Okt 2026 - 15:31 WIB