Chamad Hojin
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia
Dalam dunia politik, biasanya ada dua pola pemimpin yang muncul di publik pertama, pemimpin yang membangun pengaruh melalui panggung terbuka, pidato yang menggelegar, dan sorotan kamera yang mengikuti hampir setiap langkahnya. Pola kedua, pemimpin yang bekerja melalui ruang-ruang yang lebih sunyi: membangun kepercayaan secara perlahan, menyambungkan komunikasi yang terputus, meredakan ketegangan, dan memastikan keputusan penting dapat lahir tanpa harus selalu didahului kegaduhan.
Dalam konteks politik hari ini, sosok Sufmi Dasco Ahmad lebih dekat dengan karakter pola pemimpin yang kedua. Ia dengan lincah namun senyap bergerak menjahit simpul-simpul politik demi kesuksesan pemerintahan Prabowo Subianto. Sosok Sufmi Dasco Ahmad kekuatan politiknya ada pada kesenyapan dan ruang sunyinya. Tetapi pengaruh dan dampaknya sangat nyata dalam konfigurasi politik dan stabilitas pemerintahan.
Politik pada dasarnya adalah seni mengelola perbedaan. Di dalamnya terdapat kepentingan, ego, ideologi, kekuasaan, sekaligus kebutuhan untuk menemukan keputusan bersama. Karena itu, politik tidak selalu membutuhkan suara paling keras. Ada saat ketika ketegasan diperlukan, tetapi ada pula saat ketika ketenangan justru menjadi bentuk kekuatan. Dalam ruang politik seperti itulah Sufmi Dasco Ahmad menemukan karakter permainannya: tidak selalu tampil sebagai aktor paling gaduh, tetapi berusaha tetap berada dalam percakapan ketika pihak-pihak lain mulai kehilangan titik temu.
Saya tertarik membaca sepak terjang sosok Sufmi Dasco Ahmad dalam rentang dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dari perspektif ushul fiqih dengan konsep maslahah. Politik yang berorientasi pada kemaslahatan tidak semata-mata bertanya siapa yang menang, tetapi apa akibat dari kemenangan tersebut bagi kepentingan yang lebih luas. Kemenangan politik yang menghasilkan kerusakan sosial atau memperlebar perpecahan dapat kehilangan makna kemanfaatannya. Dalam pendekatan ushul fiqih maslahah, kemampuan menemukan titik temu dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga maslahat yang lebih besar.
Dalam kerangka tersebut, kaidah dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih menjadi relevan sebagai perspektif etis: mencegah kemudaratan didahulukan daripada mengambil kemanfaatan. Dalam politik, tidak semua konflik harus dibawa sampai ke titik terbuka. Ada perbedaan yang perlu diperdebatkan secara terang, tetapi ada pula ketegangan yang lebih baik dikelola melalui dialog. Bukan karena perbedaan harus disembunyikan, melainkan karena stabilitas komunikasi terkadang menjadi syarat agar perbedaan dapat diselesaikan secara rasional.
Karakter politik Sufmi Dasco Ahmad juga dapat dibaca melalui prinsip tahqiq al-manath, yaitu memahami penerapan suatu keputusan berdasarkan realitas dan konteks konkret. Politik tidak pernah berlangsung dalam ruang abstrak. Setiap keputusan memiliki aktor, kepentingan, sejarah, momentum, dan konsekuensi. Karena itu, kecakapan seorang politisi bukan hanya mengetahui apa yang ideal, tetapi memahami apa yang mungkin dilakukan dalam situasi tertentu tanpa kehilangan tujuan akhirnya.
Di sinilah kemampuan membaca momentum menjadi penting. Ada waktu untuk berbicara dan ada waktu untuk mendengar. Ada persoalan yang membutuhkan pernyataan terbuka, tetapi ada pula masalah yang justru lebih efektif diselesaikan melalui komunikasi tertutup. Dalam perspektif sadd al-dzari’ah, kehati-hatian tersebut dapat dipahami sebagai upaya mencegah sebuah persoalan berkembang melalui jalan yang membawa mudarat lebih besar. Komunikasi menjadi semacam jembatan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Politik semacam itu juga membutuhkan tadarruj—perubahan yang berlangsung secara bertahap. Kepercayaan tidak lahir dalam satu pertemuan. Kesepakatan tidak selalu muncul dalam satu percakapan. Bahkan keputusan yang terlihat sederhana di ruang publik sering kali merupakan hasil dari proses panjang untuk menyamakan persepsi. Dalam konteks ini, kesabaran politik bukan pasivitas. Ia merupakan kemampuan mengelola waktu sebagai bagian dari strategi mencapai tujuan.
Ada pula kaidah al-umuru bi maqashidiha, bahwa suatu perkara dinilai berdasarkan tujuan atau maksudnya. Jika digunakan sebagai refleksi etis, politik tidak semestinya hanya dinilai dari proses perebutan pengaruh, tetapi juga dari tujuan yang hendak dicapai. Negosiasi, kompromi, dan komunikasi politik menjadi bermakna apabila diarahkan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik bagi kepentingan publik. Sebaliknya, teknik politik yang sama dapat kehilangan nilai apabila hanya digunakan untuk kepentingan kekuasaan semata.
Sufmi Dasco Ahmad Tumbuh dari Nilai Kesederhanaan
Di balik politik yang bekerja dalam senyap, terdapat nilai yang tidak kalah penting: kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti kehilangan daya tawar. Justru dalam politik, kemampuan untuk tidak selalu menjadikan diri sebagai pusat perhatian dapat menjadi bentuk pengendalian diri. Kekuasaan yang terlalu membutuhkan pengakuan mudah berubah menjadi panggung bagi ego. Sebaliknya, kekuasaan yang dipahami sebagai amanah menuntut kemampuan menempatkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan yang lebih besar.
Dalam tradisi fikih terdapat kaidah tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bil-maslahah—kebijakan pemimpin terhadap rakyat bergantung pada kemaslahatan. Kaidah ini pada dasarnya mengandung gagasan bahwa kewenangan bukanlah hak tanpa batas, melainkan tanggung jawab yang orientasinya harus dikembalikan kepada kepentingan masyarakat. Jika dijadikan kerangka reflektif terhadap politik Sufmi Dasco Ahmad, maka pengaruh politik menemukan maknanya ketika digunakan untuk menjaga ruang komunikasi, mengurangi ketegangan, dan membantu proses pengambilan keputusan yang memiliki dampak lebih luas.
Kesederhanaan juga dapat dibaca melalui prinsip al-masyaqqah tajlibut taisir—kesulitan membuka ruang bagi kemudahan. Dalam kehidupan politik, masyarakat sering kali berhadapan dengan persoalan yang kompleks, sementara keputusan politik dituntut menghasilkan jalan keluar. Seorang politisi yang mampu menyederhanakan kerumitan tanpa menghilangkan substansi dapat menjadi penghubung antara kepentingan yang berbeda. Di sinilah komunikasi politik memperoleh fungsi yang lebih dalam: bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi membuat persoalan yang rumit menjadi mungkin untuk dibicarakan bersama.
Ada satu kaidah lain yang relevan, al-‘adah muhakkamah, bahwa kebiasaan atau praktik yang berlaku dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan tindakan selama tidak bertentangan dengan prinsip yang lebih tinggi. Dalam politik, pengalaman, tradisi komunikasi, dan pemahaman terhadap karakter para aktor menjadi modal yang tidak selalu tertulis. Politisi yang telah lama berada dalam sebuah lingkungan politik akan memiliki pengetahuan kontekstual yang memungkinkan dirinya membaca nuansa, bahasa, dan batas-batas yang tidak selalu terlihat dari luar.
Meski begitu, dalam pola politik yang senyap, tenang tidak berarti politik tanpa prinsip. Justru kemampuan terbesar seorang aktor politik adalah mengetahui batas antara kompromi dan kehilangan prinsip. Dalam kerangka maqashid al-syari’ah, tindakan idealnya diarahkan pada perlindungan kepentingan fundamental manusia dan kemaslahatan umum. Dengan demikian, kompromi dapat diterima sebagai instrumen, tetapi tujuan akhirnya tetap harus memiliki orientasi yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan posisi. Politik yang matang adalah kemampuan membedakan antara apa yang dapat dinegosiasikan dan apa yang harus dipertahankan.
Walhasil, sosok Sufmi Dasco Ahmad dapat dibaca sebagai representasi dari sebuah corak politik yang tidak selalu membutuhkan kebisingan untuk menghasilkan pengaruh. Ia bekerja melalui komunikasi, negosiasi, kesabaran, dan kemampuan membaca momentum. Dalam perspektif ushul fiqih, corak tersebut memiliki irisan dengan upaya menimbang maslahat dan mafsadat, memahami konteks melalui tahqiq al-manath, mencegah jalan menuju konflik melalui sadd al-dzari’ah, serta menjalankan perubahan secara bertahap melalui tadarruj.
Dalam konteks dinamika tersebut, politik pada ujungnya bukan hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang mampu membuat perbedaan tetap berada dalam ruang percakapan. Ada politik yang bekerja di bawah sorotan kamera, tetapi ada pula politik yang bekerja setelah kamera dimatikan. Di ruang-ruang itulah kepercayaan dibangun, keberatan didengar, kepentingan dinegosiasikan, dan keputusan perlahan menemukan bentuknya. Politik yang matang bukan selalu tentang siapa yang paling terdengar, melainkan siapa yang mampu membuat banyak suara tetap terdengar hingga akhirnya menemukan titik temu. Dan dalam kesunyian semacam itu, pengaruh terkadang justru bekerja dengan cara yang paling dalam.
Di tengah dinamika politik yang kerap riuh, sosok Sufmi Dasco Ahmad dapat dikenang melalui cara kerja yang mengedepankan komunikasi, kesabaran, dan upaya menemukan titik temu. Semoga bertambahnya usia membawa keberkahan, kesehatan, keteguhan dalam menjalankan amanah, serta terus memberi manfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Selamat Ulang Tahun, Sang Arsitek Politik Senyap Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H. (*)
























