Siaranindonesia.com, JAKARTA – Induk Koperasi Pondok Pesantren resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Rabu (20/4/2026). Bertempat di Gedung SMEsCo, Rakernas yang berlangsung 2 hari hingga Kamis (21/4/2026) ini mengusung tema “Modernisasi Koperasi Pondok Pesantren: untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan Kesejahteraan Rakyat.”
Ketua Umum Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) Dr. KH Marsyudi Syuhud mengatakan bahwa Rakernas adalah forum strategis di bawah Rapat Anggota Tahunan (RAT). Fungsinya untuk merumuskan, mengevaluasi, dan menyinkronkan program kerja serta kebijakan nasional yang melibatkan seluruh jaringan anggota dan pengurus di tingkat pusat hingga daerah.
“Sesuatu yang sangat monumental ini adalah Rapat kerja nasional untuk membuat suatu program-program yang ditetapkan untuk 1 tahun ke depan untuk mempersiapkan hal-hal satu tahun ke depan, apa-apa yang akan dikerjakan dan apa-apa yang sedang berjalan,” ujarnya dalam acara pembukaan Rakernas Inkopontren, Rabu (20/4/2026).
Sementara itu, perubahan ekonomi global, perkembangan teknologi digital, serta dinamika sosial masyarakat menuntut koperasi pondok pesantren untuk terus bertransformasi. Pesantren tidak boleh hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat yang modern, profesional, dan berdaya saing.
Marsudi menjelaskan bahwa terdapat sekitar 42.000 pondok pesantren jika seluruh santri dari jumlah tersebut menjadi pembayar zakat dan pemberi sedekah maka akan tercipta kontribusi terbesar bagi umat. Hal ini sejalan dengan perintah agama yang menekankan pelaksanaan shalat dan pembayaran zakat.
“Ada sekitar 42.000 pondok pesantren yang jika 42.000 pesantren. Ini santri-santrinya adalah menjadi pembayar zakat dan memberi sodaqoh yang terbesar itu sesungguhnya tujuan kita” ungkapnya.
Menurutnya, santri, ustadz, dan para kiai perlu mengubah mentalitas, bukan sekadar menjadi penerima zakat atau pencari sedekah, melainkan menjadi pembayar zakat, infak, sedekah, dan pajak besar sebagai wujud nyata dari perintah aqimis sholat waatuz zakat.
Ia juga mengatakan, seluruh pihak diajak bersama-sama meniatkan diri untuk meninggalkan legacy atau warisan bagi generasi penerus. Inkopontren yang berdiri sejak 1994 harus memiliki tinggalan nyata, sehingga kepengurusan tidak berhenti hanya pada periode tertentu, melainkan meninggalkan jejak keberlanjutan untuk masa depan.
“Mari kita bersama-sama membuat legacy sebuah tinggalan untuk penerus-penerus kita nanti.”
TIGA LANGKAH
Wakil Ketua Umum Inkopontren Suharisto menambahkan bahwa institusinya menyiapkan tiga langkah penting untuk mewujudkan koperasi yang modern, yakni penguatan pengembangan SDM, inkubasi bisnis di lingkungan pesantren, dan implementasi teknologi digital.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Inkopontren setidaknya telah mendapatkan komitmen dukungan dari tiga kementerian, yakni Kementerian Koperasi (Kemenkop), Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), dan Kementerian UMKM.
“Desain kita memang sengaja melibatkan tiga kementerian ini untuk memastikan penyelarasan program yang sedang kita usung. Ujungnya, kata dia, adalah peningkatan kapasitas SDM, inkubasi bisnis yang matang, dan bermuara pada kesiapan digital marketing.
Di sektor hulu, kerja sama dengan Kemenaker difokuskan pada program pelatihan vokasi yang konkret untuk para santri. Pelatihan ini mencakup berbagai keahlian teknis mulai dari mekanik, administrasi, hingga kemampuan tata kelola usaha.
Tujuannya agar SDM di lingkungan pesantren tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kapasitas yang bankable (memenuhi syarat perbankan) dan siap mengelola unit usaha secara profesional.
Sementara itu, Kementerian Koperasi hadir untuk memberikan penguatan kelembagaan dan stimulus finansial. Melalui instrumen penomoran atau dukungan seperti Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), Kemenkop membantu menginduk serta membuka akses ke jaringan bank-bank syariah. Stimulus ini krusial untuk mengawal tahap inkubasi bisnis di tingkat bawah.
Melengkapi ekosistem tersebut, Kementerian UMKM berperan nyata dalam mengakselerasi strategi pemasaran serta memperluas jangkauan produk-produk yang dihasilkan oleh jaringan pesantren.
Kiai Suharisto menambahkan, sasaran akhir (goal) dari seluruh rangkaian upscaling SDM dan inkubasi bisnis ini adalah penguasaan pasar digital secara mandiri.
Dengan modal basis data yang mencapai hampir 12 juta santri di seluruh Indonesia, Inkopontren memiliki big size market yang sangat potensial.
Untuk mewadahinya, kata dia, Inkopontren sedang menyiapkan platform digital marketing dan ekosistem blockchain sendiri.
Dia menyebut, patform ini dirancang agar komunitas santri tidak hanya memosisikan diri sebagai konsumen (user) atau penerima manfaat, melainkan juga bertindak sebagai kreator dan pemilik sirkulasi produk itu sendiri.
























