Penulis : Dr. Hariyadi
Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini kembali mengajak bangsa Indonesia menengok akar sejarah pendidikan yang telah membentuk karakter dan arah peradaban bangsa. Sosok Ki Hajar Dewantara tetap menjadi simbol utama dalam perjalanan pendidikan nasional. Namun, para pemerhati pendidikan menilai bahwa narasi sejarah perlu terus diperkaya agar lebih utuh dan berkeadilan.
Salah satu yang kembali mendapat sorotan adalah peran Jamiat Kheir, organisasi pendidikan yang berdiri di Batavia pada tahun 1905. Dalam catatan sejarah, Jamiat Kheir merupakan salah satu pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia, bahkan hadir sebelum lahirnya organisasi kebangkitan nasional seperti Budi Utomo. Sejak awal berdirinya, Jamiat Kheir telah memperkenalkan sistem pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dan pembinaan akhlak. Dengan menghadirkan tenaga pengajar dari Timur Tengah dan menerapkan pendekatan pendidikan yang terstruktur, organisasi ini menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan umat di masa kolonial.

Dr. Hariyadi, akademisi dan tokoh pendidikan, menegaskan bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang refleksi yang jujur terhadap sejarah bangsa.
“Sejarah pendidikan Indonesia tidak dibangun oleh satu tokoh atau satu organisasi saja. Jamiat Kheir adalah bagian penting dari fondasi itu. Tantangannya hari ini bukan sekadar mengingat, tetapi melanjutkan nilai dan perjuangannya,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, terutama dalam aspek pembinaan karakter dan akhlak. Di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi sistem pendidikan, nilai-nilai dasar yang dahulu menjadi ruh pendidikan mulai tergerus.
“Para pendiri Jamiat Kheir tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi membangun manusia. Ini yang harus kita hidupkan kembali,” tambahnya.
Penguatan kembali peran sejarah Jamiat Kheir dinilai penting, bukan untuk menyaingi narasi yang sudah ada, tetapi untuk melengkapi dan memperkaya pemahaman generasi muda terhadap perjalanan pendidikan nasional.
Sejumlah kalangan mendorong agar kontribusi organisasi-organisasi pelopor seperti Jamiat Kheir dapat lebih diintegrasikan dalam kajian akademik, kurikulum pendidikan, hingga ruang-ruang publik. Hal ini dianggap penting agar generasi muda tidak kehilangan akar sejarahnya sendiri.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini pun diharapkan menjadi momentum kebangkitan baru—tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter bangsa.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan yang ingin ditegaskan menjadi sederhana namun mendasar: pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan, tetapi juga harus membentuk manusia yang berakhlak.
Di tengah arus sejarah itu, terdapat jejak-jejak halus yang jika ditelusuri lebih dalam, memperlihatkan betapa luasnya pengaruh Jamiat Kheir sebagai ruang perjumpaan ilmu dan gagasan. Sejumlah tokoh besar bangsa pernah bersentuhan langsung dengan lingkungan ini. Ahmad Dahlan, misalnya, tercatat sebagai anggota Jamiat Kheir—bahkan disebut memiliki nomor anggota 770—sebelum kemudian mendirikan Muhammadiyah dengan semangat pembaruan pendidikan Islam yang modern . Selain itu, tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto juga berada dalam lingkaran yang sama, dan kelak memainkan peran besar dalam Sarekat Islam sebagai motor pergerakan sosial-politik umat . Bahkan dalam kajian sejarah, disebutkan bahwa sejumlah kalangan yang kemudian terlibat dalam Budi Utomo memiliki keterhubungan awal dengan tradisi pendidikan modern yang berkembang di lingkungan Jamiat Kheir.
Semua ini tidak harus dipahami sebagai klaim dominasi, melainkan sebagai kesadaran sejarah bahwa Jamiat Kheir pernah menjadi mata air awal—tempat benih-benih ilmu, kesadaran, dan pembaruan itu tumbuh sebelum mengalir ke berbagai arus besar dalam perjalanan bangsa. Dari ruang-ruang pendidikan yang sederhana, lahir percakapan-percakapan penting yang kemudian menjelma menjadi gerakan, organisasi, dan karya nyata bagi Indonesia.
Bahwa dalam sunyi, ia pernah menjadi sumber yang menghidupkan banyak arus besar dalam perjalanan bangsa Indonesia—dan dengan ketenangan yang sama, ia terus melanjutkan pengabdiannya hingga hari ini.
Sebab Jamiat Kheir bukan hanya cerita masa lalu. Ia masih hidup, hadir, dan bekerja. Melalui perguruan tingginya, madrasah-madrasahnya, serta sekolah-sekolah yang terus mendidik generasi baru, Jamiat Kheir menjaga nyala yang dahulu dinyalakan para pendirinya: menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan akhlak.
Dan mungkin, di situlah kekuatannya—tidak selalu terdengar paling keras, tetapi tetap setia berkarya, membina, dan menanam, agar di masa depan kembali lahir generasi yang bukan hanya besar dalam ilmu, tetapi juga kuat dalam nilai.
























