BBM Naik, Ridwan Hisjam Beri Solusi Agar Pemerintah Tak Diamuk Massa

- Editor

Rabu, 7 September 2022 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam

Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam

Jakarta, Siaran Indonesia -Anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan suatu hal yang wajar karena memang beban APBN untuk membiayai BBM bersubsidi ini sudah terlalu besar seiring dengan kenaikan minyak dunia.

Meski begitu, kata dia, pola kenaikan BBM untuk ke depannya tidak boleh seperti ini, pemerintah harus memiliki sistem manajerial yang jelas dan terukur agar setiap ada kenaikan BBM tidak ada gelombang protes atau unjuk rasa di masyarakat yang berujung kegaduhan dan anarkisme.

“Saya kira BBM ini naik memang wajar ya karena beban APBN sudah terlalu berat untuk mensubsidi, hanya ke depan ini polanya harus dirubah sistemnya harus dirubah agar ketika ada kenaikan BBM lagi, tidak ada gelombang protes dari masyarakat. Artinya masyarakat bisa memahami, kalau sekarang kan sudah terlambatnya, demo dimana-mana,” ujar Ridwan melalui keteranganya, Rabu (7/9).

Menurut Ridwan, seperti yang sudah pernah ia sampaikam sebelumnya, bahwa ke depan subsidi yang diberikan pemerintah tidak boleh lagi ke produknya, melainkan harus dengan sistem by name atau per orang. Subsidi BBM langsung ke produknya dianggap tidak tepat.

“Saya sudah pernah menyampaikan ke pemerintah subsidi ini sistemnya harus dirubah tidak boleh lagi ke produk. Tapi harus by name per orang, jadi ketika BBM itu naik, maka tidak akan berdampak pada rakyat miskin karena by name dia sudah terdaftar sebagai penerima manfaat dari subsidi BBM murah,” terangnya.

Lebih lanjut, Ridwan menyatakan, ketika subsidi diberikan ke produk, maka semua masyarakat bisa menikmati, bukan hanya orang miskin, orang kaya juga bisa menikmati, itu sudah banyak terjadi dimana pengguna subsidi BBM justru banyak dinikmati orang kaya.

“Ini ke depan berlaku juga bukan hanya untuk subsidi BBM, tapi juga subsidi energi listrik, gas, kesehatan, pendidikan, dan juga subsidi pangan, semua harus by name tidak boleh lagi di jatuhkan ke produk,” terang politisi Partai Golkar ini.

Untuk bisa memahami dan mengimplementasikan sistem tersebut, maka dibutuhkan orang-orang yang punya kemampuan generasi atau teknologi Society 5.0. Mereka adalah orang-orang yang mampu memahami dan menguasai teknologi generasi 5.0 untuk diterapkan ke masyarakat, tanpa itu maka susah.

“Lalu dengan cara apa? Caranya menurut saya ya Pak Jokowi harus berani melakukan reshuffle dan membentuk Kabinet Raksasa. Kabinet yang diisi oleh orang-orang yang punya kemampuan menguasai teknologi 5.0, karena untuk menjadi negara maju seperti yang dicitakan Pak Jokowi memang harus bisa menguasai teknologi,” terangnya.

Masyarakat 5.0 atau Society 5.0 adalah  Masyarakat Super Pintar, sebuah konsep masyarakat masa depan yang diusulkan oleh Jepang. Ini merupakan masyarakat yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik.

Sedangkan para menteri saat ini kata Ridwan, hanya lebih menempatkan faktor politik sebagai kekuatan utamanya, bukan pada kapasistas sesuai bidangnya. Padahal Indonesia saat ini dan ke depan bakal menghadapi persoalan yang lebih rumit dan besar, jika tidak diantisipasi bisa menyebabkan krisis perkepanjangan.

“Ada lima krisis yang berdampak pada Indonesia pertama krisis kesehatan berupa Covid-19, kemudian ada lagi krisis Cacar Monyet, lalu krisis keuangan melemahnya ekonomi di berbagai negara, krisis perang Rusia dan Ukraina, dan terakhir adalah krisis berupa konflik Laut China Selatan,” terang Ridwan.

Konflik Laut China Selatan dampaknya bakal terasa dirasakan di Indonesia karena berdekatan langsung. Namun kata dia, semua krisis itu bisa dilewati kalau Presiden mau menempatkan orang yang punya kemampuan teknologi 5.0 sebagai menterinya, bukan hanya mengakomodir hasrat politik.

“Sekarang pertanyaannya apakah ada orang Indonesia yang punya kemampuan generasi 5.0? Jelas ada, banyak. Jokowi harus mencari orang orang seperti ini untuk membantunya dalam menghadapi krisis multi dimensi,” jelasnya. (Kuy)

Komentar Facebook

Berita Terkait

Larangan Ekspor SDA Lewat Negara Perantara, Garuda Institute: Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional
Pertemuan Hangat Dua Tokoh Nasional, Taruna Ikrar dan Jenderal Suyudi Bahas Narkotika hingga Keamanan Pangan
PT Solusi Baitullah Indonesia dan Intan Travel Perkuat Sinergi, Hadirkan Beragam Program Umrah
Mahasiswa Semester 5 Prodi Manajemen UNIMUGO Laksanakan Field Trip ke Bursa Efek Indonesia di Jakarta
PT AMBPI Perkuat Kedekatan dengan Pelanggan melalui AMazing Build Fest #2 di MARGOCITY
Upstream Youth Champs: Muda Berkarya, Menggerakkan Energi Nusantara
Segel Mencair, Aturan Mengalah: Kompromi Busuk di Balik Pabrik Ilegal PT IKN Banyumas
Oknum Penyidik Polres Jakpus Diduga Kriminalisasi Korban Pencurian, Terungkap di Persidangan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Pegadaian Kanwil VIII Jakarta 1 Konsolidasi Tetapkan Pengurus FORSEPSI Periode 2026–2027

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:26 WIB

PT Pegadaian Salurkan Bantuan Material Bangunan Rp50 Juta untuk Korban Kebakaran di Kramat, Jakarta Pusat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Menjaga Halal, Menumbuhkan Usaha: Mendorong Pentahapan Regulasi Sertifikasi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 23:10 WIB

Ancaman Downgrade MSCI: Pasar Saham Indonesia Diusulkan Jadi Standalone Market

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:46 WIB

Ekonom Minta Kebijakan Sertifikasi Halal Ditunda, Soroti Kesiapan Pelaku Usaha dan Risiko Ekonomi

Kamis, 24 September 2026 - 20:40 WIB

Kunci Sukses AKTI: Bertahan di Tengah Badai Vokasi Berkat Sinergi Industri

Sabtu, 19 September 2026 - 17:55 WIB

Muhammad Faris Ulul Azmi: Konsisten Membuka Akses Edukasi Saham Gratis bagi Investor Pemula

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:50 WIB

DTI Series 2026 Jadi Pusat Inovasi Digital, Hadirkan 260 Pembicara dan 450 Solusi Teknologi

Berita Terbaru