HMI 79 Tahun: Merawat Nalar, Menjaga Nilai, Menguatkan Jejaring Kader Bangsa

- Editor

Kamis, 5 Februari 2026 - 16:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Wahyu NH Aly
(KAHMI, Ketua Umum Santri Mengabdi)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia 79 tahun pada 5 Februari 2026. Usia yang menempatkan HMI bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, tetapi sebagai entitas sejarah yang ikut membentuk watak intelektual, politik, dan kebangsaan republik ini. Pada titik ini, peringatan hari lahir HMI tidak cukup dimaknai sebagai seremoni nostalgia, melainkan harus menjadi ruang refleksi kritis:

“Sejauh mana HMI masih relevan, berpengaruh, dan setia pada nilai dasarnya di tengah perubahan zaman yang kian brutal dan tak menentu”.

HMI lahir pada masa republik berada di ambang hidup dan mati. Ia hadir sebagai sintesis antara keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan—tiga pilar yang hingga hari ini menjadi fondasi gerakan. Namun tantangan yang dihadapi generasi HMI hari ini jauh lebih kompleks. Dunia 2026 ditandai oleh krisis global yang saling bertaut:

“Konflik geopolitik berkepanjangan, krisis demokrasi, ketimpangan ekonomi, serta disrupsi teknologi yang melaju jauh lebih cepat daripada kesiapan etika dan kebijakan publik.”

Indonesia dan Ujian Demokrasi Substansial
Di tingkat nasional, Indonesia tengah menghadapi ujian serius demokrasi. Demokrasi prosedural berjalan, tetapi sering kehilangan substansi. Partisipasi politik meningkat, namun tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kebijakan. Ketimpangan sosial-ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar, sementara generasi muda kerap terjebak antara idealisme dan pragmatisme.

Dalam konteks ini, mahasiswa seharusnya tidak sekadar menjadi kekuatan reaktif, tetapi aktor strategis yang mampu memproduksi gagasan dan menawarkan arah. HMI, dengan sejarah panjang kaderisasi intelektualnya, memiliki modal sosial dan kultural yang besar untuk memainkan peran tersebut. Namun modal itu hanya bermakna jika dikelola dengan kesadaran nilai, bukan sekadar kebanggaan identitas.

Dunia Global dan Krisis Kemanusiaan Baru
Secara internasional, tatanan dunia sedang bergerak menuju fragmentasi. Hukum internasional kerap kalah oleh kepentingan geopolitik. Teknologi, terutama kecerdasan buatan, berkembang pesat tetapi miskin landasan moral. Di banyak belahan dunia, kemanusiaan direduksi menjadi angka statistik dan kepentingan strategis.
Bagi Indonesia, dampaknya nyata:

“Tekanan ekonomi global, ancaman kedaulatan digital, hingga melemahnya solidaritas kemanusiaan.”

Dalam situasi seperti ini, organisasi mahasiswa berbasis nilai seperti HMI seharusnya tidak hanya sibuk dengan dinamika internal, tetapi turut mengambil peran dalam percakapan global—setidaknya dengan membangun kesadaran kritis dan perspektif etis di tingkat nasional.

Jejaring sebagai Amanah, Bukan Privilege

Salah satu kekuatan khas HMI yang membedakannya dari banyak organisasi mahasiswa lain adalah apa yang kerap disebut sebagai “HMI Connection”, jejaring kader yang tersebar di berbagai sektor strategis baik pemerintahan, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, hingga ruang-ruang kultural dan keagamaan.

Namun, penting ditegaskan, HMI Connection bukanlah sekadar jaringan kekuasaan atau alat mobilitas sosial individual. Ia adalah amanah sejarah. Jejaring ini seharusnya menjadi instrumen kolektif untuk memperkuat nilai, memperluas kebermanfaatan, dan menjaga kesinambungan perjuangan intelektual dan kebangsaan.

Jika HMI Connection direduksi menjadi sekadar akses, ia akan kehilangan ruhnya. Tetapi jika dirawat sebagai jaringan etika, yang saling mengingatkan, menguatkan integritas dan berpihak pada kepentingan publik, maka ia akan menjadi kekuatan transformasional yang nyata. Di sinilah peran kader dan alumni, termasuk KAHMI, menjadi krusial:

“Memastikan bahwa jejaring HMI tetap berfungsi sebagai jaringan nilai, bukan sekadar jaringan kepentingan.”

Santri, Mahasiswa, dan Etika Gerakan
Sebagai Ketua Umum Santri Mengabdi, saya melihat pentingnya menghidupkan kembali etos santri dalam gerakan mahasiswa seperti kedalaman moral, kesabaran intelektual, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat. Tradisi santri mengajarkan bahwa ilmu tanpa adab adalah kehampaan, dan kekuasaan tanpa etika adalah kehancuran.

HMI, yang sejak awal memiliki kedekatan historis dengan tradisi keislaman moderat, seharusnya menjadi teladan dalam merawat etika gerakan. Kritis terhadap kekuasaan tanpa kehilangan adab, progresif tanpa tercerabut dari nilai, serta independen tanpa jatuh pada sikap oportunistik.

Menatap Usia 80 Tahun dengan Tanggung Jawab Sejarah
Memasuki usia ke-79, HMI berada di persimpangan penting. Ia bisa menjadi organisasi besar yang kehilangan daya dobrak, atau tetap menjadi kekuatan intelektual yang disegani karena konsistensi nilai dan kontribusinya bagi bangsa. Pilihan itu tidak ditentukan oleh sejarah masa lalu, melainkan oleh keberanian generasi hari ini.

HUT HMI ke-79 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali kaderisasi, menajamkan peran intelektual, dan merawat jejaring HMI Connection sebagai instrumen pengabdian. Bukan demi kejayaan organisasi semata, tetapi demi Indonesia yang lebih adil, beradab, dan bermartabat.

Terakhir, Selamat Milad ke-79 HMI. Terus merawat nalar, meneguhkan nilai, dan menguatkan jejaring kader untuk Indonesia yang adil, beradab, dan bermartabat.

 

Klik Download Kitab atau Buku Karya Gus Wahyu NH. Aly (PDF) :

– Kitab As-Siraj (Tahlil An-Nahw Wa-Shorf fi Al-Hikam)

– Buku Hoaks PP. Alkahfi Somalangu

– Novel Metamorfosis Cinta

Komentar Facebook

Berita Terkait

Ridwan Hisjam, Figur yang Tak Pernah Absen dari Dinamika Golkar
Eko Sulistio Masih Bertahan di Aceh, Relawan Tim Peduli Fokus Dampingi Korban Banjir
PPASDA Bertemu Wakil Ketua DPRD Tangsel, Bahas Sampah, Tata Ruang, dan Tantangan Lingkungan Kota
Turnamen Basket 3×3 “Commhoops” Antar-SMA/SMK Sukses Digelar, Wadah Sportivitas Pelajar
Lolos Fit and Proper Test, Dedi Hardianto Ditetapkan sebagai Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan
Guru Madrasah Raih Hadiah Umrah pada Jalan Santai Kebangsaan PCNU Kota Depok
Pegadaian Resmikan The Gade Creative Lounge di IPB University
Ridwan Hisjam: IHSG Anjlok Alarm Serius, Hilirisasi Tak Boleh Setengah Hati

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:22 WIB

Refleksi Nishfu Sya’ban, dari Ramainya Malam Menuju Ramainya Ketaatan Harian

Senin, 2 Februari 2026 - 14:29 WIB

Pemimpin Daerah adalah Penjaga Harapan Rakyat

Minggu, 1 Februari 2026 - 20:56 WIB

Baterai Karawang: Fondasi Kedaulatan Energi Nasional

Selasa, 27 Januari 2026 - 11:53 WIB

Rasio Pajak, Utang, Proyek Industrialisasi, dan Demokrasi Kita

Rabu, 21 Januari 2026 - 15:09 WIB

Paradoks Demokrasi Elektoral dan Stagnasi Produktivitas

Senin, 19 Januari 2026 - 05:43 WIB

Koalisi Permanen, Stabilitas Politik, dan Tantangan Pertumbuhan 8 Persen

Senin, 12 Januari 2026 - 14:27 WIB

Ekonomi Pesantren sebagai Proyek Strategis Nasional

Sabtu, 10 Januari 2026 - 13:06 WIB

Era Kesadaran Baru: Ketika Bangsa Indonesia Beranjak Dewasa

Berita Terbaru