KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK

- Editor

Jumat, 18 September 2026 - 17:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

by ochen

Hari ini, Korps Alumni HMI (KAHMI) berusia 60 tahun. KAHMI lahir di Solo, pada momentum Kongres HMI VIII, 17 September 1966. Kongres yang menurut cerita A. Dahlan Ranuwiharjo (Pakde Dahlan) di rumahnya di daerah Ciledug beberapa 30 tahun silam, merupakan kongres yang heroik. Betapa tidak, Kongres VIII Solo adalah saat-saat dimana HMI menunjukkan digdayanya sebagai kekuatan muda Islam yang menjaga moralitas Pancasila pasca satu tahun G30S/PKI 1965. Disana Nurcholish Madjid (Cak Nur) terpilih untuk yang pertama kalinya sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1966-1969. Keunikan Kongres ini menurut Pakde Dahlan, semua peserta kongres dari seluruh Indonesia diinapkan di rumah-rumah penduduk setempat agar busa berbaur dengan masyarakat.

Cak Nur memenangkan pemilihan setelah menyampaikan visi dan misi yang sangat megesankan para peserta kongres. Inti pidato/gagasan Cak Nur berfokus pada penegasan tauhid (ketuhanan), modernisasi pemikiran, serta penguatan komitmen keislaman dan keindonesiaan pasca G30S/PKI.

Penyampaian gagasan, visi dan misi yang sangat apik, rasional, tetap menyentuh spiritualitas keagamaan ini berhasil menyatukan faksi-faksi di dalam kongres. Keberhasilan pidato inilah yang mengukuhkan posisi Cak Nur sebagai figur intelektual muda paling menjanjikan hingga terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum PB HMI periode 1966-1969.

Pemikiran-pemikiran dalam fase ini pula yang nantinya ia rumuskan menjadi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI pada Kongres IX di Malang, dimana di kongres itu juga Cak Nur terpilih untuk kedua kalinya sebagai Ketua Umum PB HMI periode 1969-1971, yang oleh Cak Nur sendiri adalah “kecelakaan sejarah.”

Sengaja kilas sejarah ini dinukil kembali sehubungan dengan akan dilangsungkannya Kongres XXXIII HMI di Lampung di penghujung 2026 ini. Saya ingin menyadarkan adik-adik HMI, terutama adik-adik PB HMI tentang pesan Cak Nur bahwa kemenangan HMI (_include_ kemenangan Islam) adalah kemenangan ide, bukan pragmatisme politik dan kesenangan sementara. “Kita harus menunda kesenangan sementara untuk meraih kesenangan jangaka panjang nan abadi.”

*Urat Nadi Perkaderan*

Secara otomatis, semua mantan kader HMI adalah alumni HMI. Sedangkan secara _jam’iyah,_ semua alumni HMI adalah anggota Korps Alumni HMI (KAHMI) yang hari ini kita peringati kelahirannya. Usia 60 tahun telah mengantar keluarga besar HMI pada hari-hari yang panjang. Kesuksesan dan kegagalan setiap alumni HMI tetap mencatatkan namanya sebagai bagian dari keluarga besar HMI. Itu berarti keberhasilan atau kegagalannya harus menjadi bagian dari simpati dan empati keluarga besar HMI di mana pun ia berada. Meminjam hadits Nabi, bak satu bangunan — yang setiap kerangkanya — saling menguatkan.

Setiap kader dan alumni HMI, terikat dengan tujuan HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Dari tujuan itu termuat 5 kualitas Insan Cita, yakni 1) Insan akademis; 2) Pencipta; 3) Pengabdi; 4) Bernafaskan Islam; dan 5) Bertanggungjawab. Kualitas yang satu tidak bisa dipisahkan dengan yang lain. Kelimanya saling terkait dan berkelindan.

KAHMI telah berhikmat 60 Tahun. Ia terlibat di masa revolusi fisik, di masa demokrasi terpimpin Orde Lama, di masa rezim represif Orde Baru dan di masa hampir memasuki 3 dasawarsa era reformasi. KAHMI ada dimana-mana, dan disegani secara intelektual, secara jaringan, maupun secara soliditas. Anehnya, semua itu tidak didesain oleh pengorganisasian yang rapi. KAHMI tidak punya _database_ anggota yang jelas, _roadmap_ yang jelas, program kerja yang jelas, distribusi kader yang jelas.

Setiap alumni ditemukan di setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hasil dari deliberasi dan disain tapi hasil kreativitas pribadi. Ada yang memakai jurus merpati, ada jurus elang, jurus gagak, jurus bangau, atau bahkan jurus kera mabok. Satu kelebihannya, mereka memiliki urat nadi perkaderan yang sama. Yang bajingan dan yang saleh, semuanya tegak penuh hikmat saat menyanyikan hymne HMI.

*Bahaya Despotisme*

KAHMI kuat karena kualitas kadernya, tapi lemah karena pengorganisasiannya. Jika 60 tahun lalu KAHMI lahir untuk melawan despotisme kekuasaan Orde Lama, maka hari ini KAHMI berhadapan dengan Despotisme Baru. Despotisme yang tidak lagi datang dengan senapan dan pembredelan, tapi dengan penguasaan modal, penguasaan data, dan algoritma yang mengacak semua lini kehidupan, baik yang normal maupun yang abnormal. Despotisme Baru ini bekerja dengan cara yang halus, politik menjadi transaksional, jabatan menjadi komoditas, dan loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi.

Bangsa Indonesia menghabiskan waktunya dengan intrik dan petak-konflik. Umurnya habis untuk membicarakan bagaimana mensikut siapa, bagaimana menjatuhkan siapa, dan bagaimana menguntungkan diri sendiri dan kelompok. Di tengah suasana kehidupan bangsa yang disruptif itulah, tantangan KAHMI ke depan adalah meluruskan jalan bangsa menuju jalan keselamatan _subulus salâm,_ menuju bangsa yang diridhai Allah SWT (baca : Al-Maidah : 16; Al-A’raf : 96).

Untuk itu, KAHMI harus bertransformasi dari sekadar paguyuban menjadi gerakan kesalehan publik. Ada tiga agenda modernisasi yang tidak bisa ditawarkan.

_Pertama,_ Modernisasi Organisasi, dari paguyuban menjadi sistem. KAHMI harus membangun pusat komando yang permanen. Sekretariat yang hidup di tingkat Majelis Nasional, Majelis Wilayah, Majelis Daerah, hingga Majelis Rayon. Sistem kepemimpinan presidium yang digilir seperti arisan harus dievaluasi menjadi sistem kepemimpinan presidensil yang meritokratik dan bertanggungjawab. Dan yang paling fundamental, iuran anggota. Organisasi yang tidak punya darah finansial dari anggotanya sendiri tidak akan pernah mandiri. Sementara KAHMI dituntut punya kemampuan inkubasi dan kemandirian ekonomi. KAHMI harus punya _database,_ _talent pool,_ dan peta kompetensi alumni secara nasional. Siapa ahli ekonomi syariah, siapa ahli hukum tata negara, siapa ahli teknologi AI. Sehingga ketika negara membutuhkan, KAHMI menyodorkan nama karena keahlian, bukan karena kedekatan.

_Kedua,_ Modernisasi Perkaderan, menjaga mata air Insan Cita. Mata air KAHMI adalah HMI. Jika perkaderan HMI kering, KAHMI akan menjadi danau yang keruh dan dangkal. KAHMI wajib mensuport perkaderan HMI secara kontinyu, bukan hanya dengan bantuan finansial, tapi dengan mendorong militansi pemikiran keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan. Orientasi kader hari ini harus dikembalikan pada peningkatan kualitas diri sebagai calon pemimpin masa depan, bukan sebagai calon pencari kerja di lingkaran kekuasaan. Despotisme Baru paling takut pada satu hal, pikiran yang merdeka.

_Ketiga,_ Modernisasi Peran, dari mesin kekuasaan menuju mesin kesalehan publik. Inilah pembeda utama antara penguasa dan pemimpin. Penguasa bertanya, “Bagaimana saya mempertahankan jabatan?”. Pemimpin bertanya, “Siapa yang akan saya lahirkan setelah saya?”.

*KAHMI Uswatun Hasanah*

Selama ini KAHMI cenderung menjadi _hanger,_ tempat menggantungkan kepentingan untuk mendapatkan jabatan publik. Ke depan, KAHMI harus menjadi _enabler,_ tangga yang memudahkan yuniornya yang masih mengantri di belakang untuk naik. Ukuran keberhasilan seorang senior bukan seberapa tinggi jabatannya, tapi berapa banyak pemimpin baru yang ia lahirkan yang lebih baik darinya.

Inilah makna kesalehan publik itu. Kesalehan bukan hanya di sajadah, tapi di tanda tangan. Bukan hanya di hafalan ayat, tapi di keberanian menolak suap, menolak nepotisme, dan menolak dinasti. Ketika alumni HMI dipromosikan pada jabatan-jabatan publik, ia harus membawa komitmen itu.

Di usia 60 tahun, KAHMI harus menjadi mesin demokratisasi dan stabilisator bangsa. Bukan bagian dari petak-konflik yang menghabiskan umur bangsa, tapi penjernih di tengah keruhnya disrupsi. Bukan _transmitter_ kekuasaan yang feodal dan patrimonial, tapi _transmitter_ kepemimpinan bangsa dan negara yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Pertanyaan di 60 tahun ini bukan lagi “apa yang KAHMI dapat dari kekuasaan?”. Tapi “apa yang kekuasaan dapatkan ketika ia diisi oleh KAHMI?” Jika jawabannya adalah keadilan yang lebih nyata dan kemakmuran yang lebih merata, maka KAHMI telah menunaikan janjinya sebagai jalan keselamatan.

Ciputat, 17 September 2026.

Anggota Dewan Pakar MN KAHMI 2022-2027.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Anggaran Terbatas, Asep Wahyuwijaya Dorong Kemenkop Perkuat Pengawasan Koperasi
Perkuat Perlindungan Satwa dari Karhutla, Menhut Raja Antoni: Mereka Tak Bisa Minta Tolong
Jaga Gajah Padang Sugihan dari Karhutla, Menhut Raja Antoni Pertebal Pasukan Darat
Taruna Ikrar Dorong Kolaborasi BPOM–Unhan, Sains dan Pengabdian Jadi Pondasi Pengawas Masa Depan
Komisi IV DPR Puji Dedikasi Tinggi Manggala Agni Kemenhut Hadapi Karhutla
Sekjend APKLI Saiful Chaniago Pastikan Ribuan Pimpinan APKLI Se Indonesia Hadiri Pelantikan DPP APKLI di Jakarta
Membaca Komunikasi Presiden Prabowo Subianto melalui Integrated Reality Theory
Gelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Nasril Bahar Tekankan kesadaran kebangsaan yang kuat

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:54 WIB

Anggaran Terbatas, Asep Wahyuwijaya Dorong Kemenkop Perkuat Pengawasan Koperasi

Jumat, 18 September 2026 - 17:36 WIB

KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK

Jumat, 18 September 2026 - 09:32 WIB

Perkuat Perlindungan Satwa dari Karhutla, Menhut Raja Antoni: Mereka Tak Bisa Minta Tolong

Jumat, 18 September 2026 - 09:23 WIB

Jaga Gajah Padang Sugihan dari Karhutla, Menhut Raja Antoni Pertebal Pasukan Darat

Kamis, 17 September 2026 - 13:48 WIB

Taruna Ikrar Dorong Kolaborasi BPOM–Unhan, Sains dan Pengabdian Jadi Pondasi Pengawas Masa Depan

Rabu, 16 September 2026 - 22:19 WIB

Sekjend APKLI Saiful Chaniago Pastikan Ribuan Pimpinan APKLI Se Indonesia Hadiri Pelantikan DPP APKLI di Jakarta

Rabu, 16 September 2026 - 18:45 WIB

Membaca Komunikasi Presiden Prabowo Subianto melalui Integrated Reality Theory

Rabu, 16 September 2026 - 15:53 WIB

Gelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Nasril Bahar Tekankan kesadaran kebangsaan yang kuat

Berita Terbaru

Nasional

KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:36 WIB