MATARAM, SiaranIndonesia.com — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. mendorong mahasiswa Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat, membangun karakter kepemimpinan berbasis neurosains untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin kompleks.
Dalam kuliah umum di lingkungan Unram, Kamis (8/10/2026), Taruna berbagi pengalaman dan pemikiran mengenai kepemimpinan, mulai dari pengalamannya sebagai aktivis mahasiswa pada era Reformasi 1998 hingga pengembangan gagasan neuroleadership.
Menurut Taruna, pengalaman menjadi aktivis mahasiswa pada masa Reformasi memberikan pelajaran penting mengenai kepemimpinan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian, membaca perubahan, mengelola perbedaan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Mantan Ketua PB HMI ini mengatakan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini memiliki karakter yang berbeda dengan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan transformasi ekonomi berlangsung cepat sehingga membutuhkan pemimpin yang mampu beradaptasi.
Dalam konteks tersebut, Taruna memperkenalkan neurosains sebagai salah satu pendekatan untuk memahami cara manusia berpikir, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan merespons berbagai tekanan serta perubahan.
Konsep neuroleadership, katanya, dapat diterapkan melalui kemampuan mengelola diri, membangun kesadaran, mengembangkan empati, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang rasional dan berbasis data.
“Pemimpin bukan hanya orang yang mampu memberikan instruksi. Pemimpin adalah orang yang mampu mengelola dirinya, memahami orang lain, kemudian menggerakkan berbagai kekuatan menuju tujuan bersama,” kata Taruna.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan intelektual. Pemimpin masa depan juga membutuhkan kemampuan komunikasi, pengendalian diri, pemahaman terhadap manusia, kemampuan mengelola risiko, serta keberanian beradaptasi terhadap perubahan.
Taruna juga mendorong perguruan tinggi membangun ekosistem growth mindset yang dapat melahirkan mahasiswa dan peneliti yang terbuka terhadap pembelajaran, inovasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara Academia, Business, dan Government (ABG) perlu terus diperkuat agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Dalam rangkaian kegiatan di Unram, BPOM juga mendorong penguatan ekosistem riset dan inovasi melalui program BRIDGE (Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya Saing Global dan Ekspansi Pasar). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peneliti terhadap aspek regulasi sejak tahap awal pengembangan riset hingga peluang hilirisasi
Taruna yang juga pengurus Kahmi berharap mahasiswa Unram dapat menjadi generasi pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan memahami perubahan, mengelola diri, bekerja sama, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas manusia dan kepemimpinan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan.






















