Ambon Kapalkan Rempah Pala 8,55 Ton ke Belanda

- Editor

Kamis, 30 Mei 2024 - 09:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buah Pala dapat dipanen berumur 7-9 bulan. -  Foto http://suburanugerahindonesia.com

Buah Pala dapat dipanen berumur 7-9 bulan. - Foto http://suburanugerahindonesia.com

Siaranindonesia.com, AMBON – Bea Cukai Ambon melayani ekspor 8,55 ton nutmeg (pala) milik PT Kamboti Rempah Maluku ke Belanda, pada Selasa (21/5/2024).

Diketahui, ekspor 8,55 ton pala tersebut senilai 84.084,5 Euro. Seluruh barang ekspor tersebut dimuat ke kapal Meratus Pariaman dengan tujuan ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan selanjutnya di-restuffing ke kontainer ekspor yang berangkat ke Belanda.

“Setelah melewati pengujian yang panjang, akhirnya 8,55 ton pala dari Maluku milik PT Kamboti Rempah Maluku berhasil diekspor ke Eropa,” ujar Plt. Kepala Seksi KIP Bea Cukai Ambon, Yusuf Nasution.

Eksportasi ini menjadi bukti nyata kolaborasi dan sinergi yang baik antara eksportir, Pemda Maluku, termasuk Disperindag Maluku beserta BKHIT Maluku, dan instansi terkait.

Untuk mendukung peningkatan ekspor dari wilayah Maluku, Bea Cukai Ambon berkomitmen akan terus memberikan pelayanan prima,” tegas Yusuf.

Seperti dilansir investasimaluku.info, Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon dari kepulauan Banda, Maluku. Nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditas perdagangan penting sejak masa Romawi.

Myristica fragrans, tinggi pohonnya 4–10 m dan dapat mencapai 20 meter dengan bentuk konopi agak pyramidal sampai pyramidal, bentuk daun ibivat, bentuk buah bulat sampai oval, warna kulit buah kuning gading dan warna fuli merah darah.

Buah Pala dapat dipanen berumur 7-9 bulan. Tanaman pala banda yang dijumpai dibanda ada yang telah berbuah pada umur 3 tahun. Umumnya bersifat diosius atau berumah dua dan sering juga dijumpai yang monosius atau berumah satu.

Jenis pala Banda telah lama dikenal didunia, karena memiliki kualitas terbaik dibandingkan dengan jenis pala lainnya, jenis ini telah lama dibudidaya dalam bentuk perkebunan rakyat di kepulauan Maluku. Melalui Keputusan Menteri Pertanian No.4059/Kpts/SR.120/12/2009 tanggal 28 Desember 2009 melepaskan pala varietas Banda sebagai varietas unggul.

Dibandingkan dengan jenis Pala lainnya, Pala Banda memiliki keunggulan antara lain stabilitas produksi tinggi dari tahun ke tahun setelah berumur 15 tahun, dan harga jual produk yang paling tinggi. Harga biji dan fuli kering mencapai Rp. 90.000/kg dan Rp.120.000/kg.

Selain itu, kadar komponen atsiri utama yaitu miristisin yang berdasarkan pengujian paling tinggi (diatas 10 %) diantara jenis pala yang ada, aroma minyak atsiri yang dihasilkan sesuai untuk bahan baku industri parfum, dan umur berbunga paling cepat yaitu 3 tahun.

Jenis pala Banda telah lama dikenal didunia, karena memiliki kualitas terbaik dibandingkan dengan jenis pala lainnya.

Bagaimana kabar komoditas pala Indonesia?

Berdasarakan data Direktorat Jenderal Perkebunan, produksi pala Indonesia tahun 2018 sebesar 36.242 ton dengan luas area tanam 202.325 ha. Provinsi Maluku Utara masih menjadi sentra pala terbesar, kemudian disusul provinsi Aceh, Maluku, Papua Barat, dan Sulawesi Utara.

Daerah penghasil produksi pala terbesar tahun 2018 adalah Maluku Utara yang memproduksi pala sebesar 8.325 ton. Kemudian, pala asal Aceh sebesar 6.273 ton, Maluku 5.774 ton, Papua Barat 5.675 ton, dan Sulawesi Utara 5.201 ton.

Penguasaan pala Indonesia di pasar global juga terbilang cukup baik. Bahkan Indonesia masih menjadi negara penghasil pala terbesar kedua di dunia setelah Guatemala pada 2009 hingga 2013.

Indonesia sebagai produsen dan pengekspor biji pala, fuli pala, dan minyak pala terkemuka dunia yang memiliki market share atau penguasaan pasar dunia mencapai 26,71 persen.

Aroma, cita rasa pala Indonesia yang khas, dan rendemen minyak yang tinggi menjadi daya tarik bagi pasar luar negeri, khususnya Eropa. Pala juga masih menjadi komoditas ekspor unggulan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, perkembangan volume ekspor pala Indonesia selama periode 1980-2018 cukup fluktuatif, tetapi cenderung meningkat.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Muhammad Faris Ulul Azmi: Konsisten Membuka Akses Edukasi Saham Gratis bagi Investor Pemula
DTI Series 2026 Jadi Pusat Inovasi Digital, Hadirkan 260 Pembicara dan 450 Solusi Teknologi
Bermimpi, Berjuang, Berdamai: Kisah 12 Tahun Perjalanan yang Berujung pada Lahirnya Platform Kerja Remote untuk Talenta Indonesia
Hadir di Rakernas Inkopontren, PRUVIU Perkenalkan Solusi Antikredit Macet
UMKM Tertekan Harga Global, ABDSI Desak Intervensi Cepat dan Terukur
Gen Z Jadi Motor Utama Pertumbuhan Investasi Emas Digital di Indonesia
Didukung 5 Bank, Kimia Farma Apotek Restrukturisasi Keuangan
Industri Migas Hadapi Tantangan Aset Menua, Kecerdasan Buatan Jadi Solusinya

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 17:54 WIB

Anggaran Terbatas, Asep Wahyuwijaya Dorong Kemenkop Perkuat Pengawasan Koperasi

Jumat, 18 September 2026 - 17:36 WIB

KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK

Jumat, 18 September 2026 - 09:32 WIB

Perkuat Perlindungan Satwa dari Karhutla, Menhut Raja Antoni: Mereka Tak Bisa Minta Tolong

Jumat, 18 September 2026 - 09:23 WIB

Jaga Gajah Padang Sugihan dari Karhutla, Menhut Raja Antoni Pertebal Pasukan Darat

Kamis, 17 September 2026 - 13:23 WIB

Komisi IV DPR Puji Dedikasi Tinggi Manggala Agni Kemenhut Hadapi Karhutla

Rabu, 16 September 2026 - 22:19 WIB

Sekjend APKLI Saiful Chaniago Pastikan Ribuan Pimpinan APKLI Se Indonesia Hadiri Pelantikan DPP APKLI di Jakarta

Rabu, 16 September 2026 - 18:45 WIB

Membaca Komunikasi Presiden Prabowo Subianto melalui Integrated Reality Theory

Rabu, 16 September 2026 - 15:53 WIB

Gelar Sosialisasi 4 Pilar MPR RI: Nasril Bahar Tekankan kesadaran kebangsaan yang kuat

Berita Terbaru

Nasional

KAHMI, KEKUASAAN, DAN KESALEHAN PUBLIK

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:36 WIB