Penemuan Spesies Baru Tumbuhan di Tanah Papua

  • Bagikan

Siaranindonesia.com – Pulau New Guinea (Tanah Papua dan Papua New Guinea) berdasarkan riset ilmiah memiliki kekayaan spesies flora dan tingkat keendemikan yang tertinggi di dunia, terutama tumbuhan berpembuluh atau vascular plants. Tercatat 13.634 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 1.742 marga (genus) dan 264 suku (famili) pada tahun 2020 berdasarkan publikasi Camara-Leret dkk di jurnal Nature.

Perkembangan riset dan publikasi ilmiah dalam dua tahun terakhir telah memperlihatkan ada penambahan jumlah spesies baru dari Pulau New Guinea, termasuk delapan jenis baru pale kipas marga Licuala (suku palem-paleman atau Arecaceae) yang baru saja dipublikasikan di pertengahan tahun 2022 ini. Dengan demikian, prediksi para ahli tumbuhan memperkirakan akan terjadi penambahan jumlah spesies baru sekitar 3000-4000 spesies dalam 50 tahun ke depan, terutama dari Tanah Papua yang masih belum banyak dieksplorasi.

Spesies Baru Palem Kipas

Suku palem-palem Arecaceae merupakan suku tumbuhan peringkat kedua di dunia yang paling bermanfaat bagi umat manusia setelah suku rumput-rumputan, apalagi di tanah Papua. Sebuj saja sagu, kelapa, nibung, enau, rotan, dan nipa selalu digunakan baik dalam kehidupan modern maupun tradisional. Dari 34 marga palem di New Guinea dan pulau-pulau sekitarnya, marga Licuala memiliki jumlah spesies kedua terbanyak setelah marga Calamus atau rotan yang memiliki jumlah 64 spesies, dengan ditemukan dan dideskripsikan delapan spesies baru palem kipas ini maka total jumlahnya ada 25 spesies (termasuk 2 sub spesies).

Delapan spesies baru palem kipas tersebut dipublikasikan dalam dua publikasi di jurnal ilmiah berbeda, yaitu tujuh jenis baru diterbitkan di Jurnal Phytotaxa volume 555 halaman 1-16 tertanggal 19 Juli 2022 oleh Dr. Anders Barfod dari Department of Biology, Aarhus University, Denmark dan Prof. Dr. Charlie D. Heatubun dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat dan Fakultas Kehutanan Universitas Papua, Manokwari, Papua Barat. Ketujuh spesies baru tersebut lengkap dengan nama otoritas ilmiahnya adalah Licuala bakerii Barfod & Heatubun, Licuala bankae Barfod & Heatubun, Licuala coccinisedes Barfod & Heatubun, Licuala essigii Barfod & Heatubun, Licuala multibracteata Barfod & Heatubun, Licuala sandsiana Barfod & Heatubun, dan Licuala suprafolia Barfod & Heatubun. Sementara satu spesies Licuala heatubunii Barfod & W.J.Baker diterbitkan dalam Jurnal Palms volume 66 halaman 69-71 edisi bulan Juni 2022 ditulis oleh Dr. Anders Barfod dari Department of Biology, Aarhus University, Denmark dan Dr. William J. Baker dari Royal Botanic Gardens Kew, Richmond, Surrey, Inggris. Dalam kedua publikasi tersebut disampaikan temuan tersebut merupakan hasil penelitian yang ekstensi di lapangan dan di herbarium.

Kebanyakan spesies baru palem kipas tersebut ditemukan di Papua New Guinea, yaitu di daerah Milne Bay, Sungai Sepik, Pegunungan Bewani, Sungai Brown, dan Pulau Manus. Sementara di Tanah Papua ditemukan di daerah Wondama, Provinsi Papua Barat dan di Kampung Ayapo, Sentani, Jayapura, Provinsi Papua.

Secara sekilas palem kipas marga Licuala memiliki perawakan berupa perdu atau semak, dengan ukuran dari pendek sampai tinggi 2-5 meter dengan diameter batang mencapai 7 cm atau lebih. Biasanya tumbuh berumpun ataupun tunggal (soliter) dan kebanyakan tumbuh di dataran rendah sampai daerah pegunungan di hutan hujan tropis. Lebih menyukai tumbuh di bawah naungan atau kanopi hutan (understorey), sehingga marga ini hanya dapat bertahan hidup dalam ekosistem hutan yang baik. Oleh sebab itu, palem ini merupakan pepohonan hutan sebagai naungan, kerusakan hutan atau konversi hutan merupakan ancaman serius bagi tumbuhan ini. Dengan susunan daun yang berbentuk kipas dan tinggi yang relatif pendek, kelompok palem ini banyak diperdagangkan sebagai tanaman hias.

Penghargaan Kepada Professor Charlie D. Heatubun

Secara khusus, dalam penemuan dan publikasi spesies baru Licuala ini, ada yang istimewa karena salah satu spesies baru Licuala yang ditemukan di Kampung Ayapo, Sentani, Provinsi Papua diberikan nama Licuala heatubunii. Pemberian nama spesies atau eponim heatubunii adalah merupakan penghargaan yang diberikan oleh kedua penulis sebagai otoritas pemberian nama ilmiah (Dr. Anders Barfod dan Dr. William J. Baker) atas kontribusi luar biasa yang telah diberikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian tumbuhan, khususnya suku palem-paleman di New Guinea.

Professor Charlie D. Heatubun saat ini mengemban tugas sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat (sebelumnya Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) dan staf pengajar senior di Fakultas Kehutanan Universitas Papua, juga sebagai staf peneliti kehormatan di Royal Botanical Gardens Kew, London, Inggris. Dengan publikasi tujuh spesies baru Licuala ini, telah menambah catatan kinerja profesionalnya sebagai seorang taksonomiwan tumbuhan sejak tahun 2000 yang telah mendeskripsi tiga marga baru (Manjekia, Jailoloa, dan Wallaceodoxa) dan 45 spesies baru serta berkontribusi untuk satu marga baru (Dransfieldia) dan 10 spesies baru tumbuhan lainnya.

Professor Heatubun dalam pernyataannya mengatakan ia sangat merasa tersanjung dan terhormat mendapat penghargaan eponim tersebut. Saya hanya berusaha bekerja sebaiknya-baiknya, dengan tulus dan ikhlas dalam rangka mengungkapkan keanekaragaman hayati tumbuhan di Tanah Papua dan Indonesia, menyangkut penghargaan dan pengakuan itu akan datang dengan sendirinya. Apakah ini janji yang pernah diungkapkan dengan kata-kata bijak dari tokoh penginjil I. S. Kijne bahwa “barang siapa yang bekerja dengan rajin dan dengar-dengaran di atas tanah ini akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran yang lain..”. Eponim itu, sangat luar biasa karena membuat diri kita abadi, walaupun nantinya kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, selama dunia ini masih ada dan spesies ini masih ada, nama kita akan terus disebut dan dikenang, lanjut Heatubun.

Selain itu, Professor Heatubun juga menambahkan bahwa “Penemuan delapan spesies baru palem kipas ini penting, karena menyampaikan dua hal yaitu bahwa kekayaan spesies flora di New Guinea, dan khususnya di Tanah Papua, merupakan sesuatu yang nyata dan bukan hanya perkiraan semata. Hasil penelitian dan penemuan spesies di daerah perkotaan, misalnya di Kampung Ayapo, Sentani, dan Wondama, menunjukan bahwa kita memang belum banyak mengetahui keanekaragaman hayati

di sekitar kita”. Lebih lanjut ia mengatakan “ini merupakan kesempatan baik bagi pelajar, mahasiswa dan kaum muda lainnya di tanah Papua untuk jangan ragu-ragu melakukan riset mengenai keanekaragaman hayati kita dan kalian berkesempatan untuk menjadi ahlinya di masa depan bila serius menekuninya”. Tentunya kegiatan ini belum selesai, sesudah diteliti dan dipublikasikan perlu untuk upaya-upaya pelestarian dan pemanfaatan secara berkelanjutan guna mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Tanah Papua.

Ini merupakan eponim kedua, sebelumnya diberikan juga untuk nama spesies baru rotan dari marga Calamus-Calamus heatubunii W.J.Baker & J.Dransf yang dipublikasikan tahun 2017 berdasarakan rotan yang berasal dari Sorong dan Pulau Waigeo, Raja Ampat.

 

  • Bagikan