Gerakan Indonesia Optimis, PB MDHW dan CISS mengadakan program diskusi Serial Deep Talk Indonesia

- Jurnalis

Kamis, 7 April 2022 - 21:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siaranindonesia.com – Gerakan Indonesia Optimis (GIO), Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW),

dan Center Of Intellegence and Strategic Studies (CISS) menyelenggarakan program Deep Talk Indonesia. Sebuah program diskusi mengupas tuntas berbagai tema yang kontekstual dan menarik untuk didiskusikan.

Deep Talk Indonesia akan dilaksanakan dalam beberapa seri pada bulan Ramadhan. Seri kali ini merupakan seri perdana dilaksanakan pada Kamis, 7 April 2022 bertempat di kantor PB MDHW di Tebet 86. Pada serial pertama mengambil tema “Nilai-nilai Ramadhan Sebagai Proteksi Terhadap Radikalisme”.

Acara dibuka oleh Ketua Umum Gerakan Indonesia Optimis Ngasiman Djoyonegoro, dan Sambutan pembuka oleh Sekretaris Jendral PB MDHW Ahyad Alfidai.

Hadir sebagai narasumber dalam acara kali ini antara lain Dr. Wawan H Purwanto (Deputi VII BIN), Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid (Direktur Pencegahan BNPT RI), Dr Mohammad Syauqillah (Kaprodi Kajian Terorisme SKSG UI), Roby Sugara, M.Sc (Direktur Eksekutif IMCC), Dr Ali Mukhtarom ( Dosen UIN Banten) dan dimoderatori oleh Hakim Muzayyan (Wasekjend PB MDHW).

Dalam pemaparannya Wawan H Purwanto menyampaikan terorisme setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Antara lain, Pemahaman yang salah, keyakinan yang salah dan kemiskinan (Faktor ekonomi).

Pemahaman yang salah terutama tentang memahami soal ilmu agama. Misalkan salah dalam memaknai makna jihad yang harus dengan perang atau kematian. Padahal berani hidup untuk menyebarkan kebaikan juga sebuah jihad. Dari pemahaman yang salah itu kemudian menjadi keyakinan yang salah.

“Jihad itu bermacam-macam. Islam agama yang rahmatin lil alamin. Pada bulan Ramadhan ini mari menebarkan kasih sayang dan toleransi kepada semua makhluk”, kata Wawan Purwanto.

Sementara itu Brigjen Nur Wahid menyampaikan bahwa virus terorisme bisa memapar siapa saja, tidak peduli umur, suku, agama, strata sosial dan kecerdasan manusia. Pemahaman yang salah dari oknum beragama bisa menjadi faktor pendorong aksi terorisme atas nama agama.

Radikalisme adalah cermin dari krisis spiritualitas agama. Di bulan Ramadhan ini peningkatan perbuatan baik, peningkatan spiritualitas dan sikap ihsan bisa mencegah radikalisme dan terorisme.

Mohammad Syauqillah dari SKSG UI menyampaikan pasca 2016 aksi-aksi terorisme menurun secara drastis namun radikalisme semakin marak. Radikalisme itu ditandai dengan semakin meningkatnya pemikiran yang radikal, pemikiran yang intoleran dan perilaku intoleran.

Perilaku intoleran semakin meningkat. Hal itu membuktikan bahwa ada perencanaan, ada pendanaan dan aksi-aksi terukur yang dilakukan.

“Hal ini harus menjadi deteksi dini dan langkah-langkah pencegahan bagi semua stakeholder pemerintahan”, kata Syauqillah.

Sedangkan Roby Sugara menjelaskan bahwa terorisme ada beberapa bentuk gerakan atau aksi. Ada radikal terorisme adalah radikal berbasis kekerasan, seperti ISIS, Al qaeda dan Jamaah Islamiyah. Ada juga radikal tapi tidak melakukan kekerasan, contoh HTI dan ada juga radikal tapi dengan gerakan halus atau kekinian, contoh gerakan hijrah.

Sementara itu Ali Muhtarom memaparkan bahwa gerakan-gerakan radikal atas nama islam itu malah mendistorsi agama Islam itu sendiri.

Pendekatan agama secara moderat atau metode ilmu tasawuf efektif dilaksanakan karena itu akan memperkaya spiritualitas pemeluk agama. Sehingga pemahaman atas ayat atau dalil-dalil jihad tidak langsung dipahami secara tekstual.

Selain itu, deteksi dini dan pencegahan harus selalu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga yang berwenang (BNPT, TNI, BIN, Polri) dengan mengajak kelompok-kelompok sipil atau masyarakat.

“Pemerintah harus selalu pro aktif mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama dan Ormas keagamaan ataupun organisasi lembaga masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan dari terorisme atau radikalisme, ” tutup Ali Muhtarom.

Komentar Facebook

Berita Terkait

Viral, Punya Aset Puluhan Trilyun Ketum Muhammadiyah yang Sangat Sederhana, Naik Kereta dan Bawa Kardus
Gerakan Ayo Peduli Sesama Rayakan Idul Adha dengan Qurban 2 Sapi dan 5 Kambing
Meriahnya Sholat Idul Adha di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago 1445 H
Indonesia Dapat Kuota 221 Ribu Untuk Operasional Haji 2025
Daarut Tauhid Gandeng Laskar Merah Putih Salurkan Daging Hewan Qurban
Kemenag: Mobilisasi Jemaah di Muzdalifah Selesai 07.37 WAS
Cuan! Pegadaian Ajak Masyarakat Bantar Gebang Memilah Sampah Menabung Emas
Puncak Haji, Hari Ini Seluruh Jemaah Haji Laksanakan Wukuf di Arafah

Berita Terkait

Rabu, 19 Juni 2024 - 13:00 WIB

Viral, Punya Aset Puluhan Trilyun Ketum Muhammadiyah yang Sangat Sederhana, Naik Kereta dan Bawa Kardus

Rabu, 19 Juni 2024 - 12:05 WIB

Gerakan Ayo Peduli Sesama Rayakan Idul Adha dengan Qurban 2 Sapi dan 5 Kambing

Rabu, 19 Juni 2024 - 11:58 WIB

Meriahnya Sholat Idul Adha di Pesantren Leadership Daarut Tarqiyah Primago 1445 H

Rabu, 19 Juni 2024 - 10:40 WIB

Indonesia Dapat Kuota 221 Ribu Untuk Operasional Haji 2025

Selasa, 18 Juni 2024 - 16:53 WIB

Daarut Tauhid Gandeng Laskar Merah Putih Salurkan Daging Hewan Qurban

Minggu, 16 Juni 2024 - 12:09 WIB

Cuan! Pegadaian Ajak Masyarakat Bantar Gebang Memilah Sampah Menabung Emas

Sabtu, 15 Juni 2024 - 14:19 WIB

Puncak Haji, Hari Ini Seluruh Jemaah Haji Laksanakan Wukuf di Arafah

Sabtu, 15 Juni 2024 - 02:27 WIB

Aguk Irawan Fitnah Petugas Haji soal Kursi Roda Bertarif

Berita Terbaru

Nasional

Indonesia Dapat Kuota 221 Ribu Untuk Operasional Haji 2025

Rabu, 19 Jun 2024 - 10:40 WIB